Dari Ipar Jadi Istri

Dari Ipar Jadi Istri
Bab 19


Sepulangnya dari Bali, hatinya kembali sepi. Saat di sana pun, ia tetap lebih banyak melamun sembari mengabadikan pemandangan alam yang menakjubkan, melalui foto dan video. Bahkan seolah jiwanya ada di Bali, namun pikirannya masih di Jakarta, memikirkan Maira.


Nyatanya, kesepian semenjak kepergian Maira, tak bisa digantikan oleh siapa pun, termasuk Vany. Ia pikir dengan liburan seketika pikirannya menjadi plong, ternyata tidak. Setelah liburan kala itu, ia seolah dengan tegas menolak setiap Vany ingin bertemu lagi. Entah mengapa, ia sama sekali tak berminat bertemu siapa pun, hanya ingin bertemu Maira.


Hingga minggu berganti minggu, meski sudah mulai bisa beradaptasi, Reza tetap merasakan sesak di dada. Entah mengapa ia hanya ingin bertemu Maira. Mamanya juga selalu menanyakannya setiap kali berkunjung ke rumah Reza saat menengok Alisha.


“Sedang apa ya dia sekarang? Mama tidak bisa bayangkan dia hidup sebatang kara di kosnya. Apa tidak bisa Maira ke rumah seminggu sekali. Setelah perceraian, ia hanya 1 kali ke rumah, itu pun karena Alisha rewel. Dan hanya digendong Maira, anakmu langsung berhenti menangis. Rasanya, Alisha juga rindu dengannya,” ujar mamanya begitu sedih ketika mengingat Maira.


Sampai detik ini, Reza belum menghubungi Maira, sehingga ia pun tak tahu bagaimana kondisinya sekarang.


###


Begitu pun dengan Maira yang kembali merasakan hidup mandiri di kosnya semenjak ia bercerai. Terkadang, ketika ingat Nindy ia menangis. Kini hidupnya benar-benar sendiri. Entah pada siapa ia akan meminta bantuan ketika suatu saat kenapa-napa.


Rindu pada Alisha pun selalu melandanya. Dulu, setiap hari ia bisa selalu melihat bayi cantik itu, tapi sekarang, hanya mampu melihatnya melalui layar ponselnya. Video dan foto-foto Alisha yang pernah diabadikannya, seolah bisa menjadi pereda rindunya meski untuk sementara waktu. Ingin sekali ia menggendongnya, padahal baru 1 minggu yang lalu mereka bertemu.


Hingga rindu pada Reza pun kembali ia rasakan. Bagaimana tidak, ketika hatinya telah jatuh pada papanya Alisha tersebut, mereka harus berpisah. Kalau tahu akan begini nasib pernikahannya, dari awal ia tak akan menerima pernikahan ini, agar ia tak menjatuhkan hatinya pada lelaki itu.


Tapi, ketika kembali mengingat tentang Reza yang baru saja berlibur ke Bali dengan Vany, rindunya seakan sirna begitu saja.


Saat tengah merenung, terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar kosnya.


Tok..tok..tok..


Dibukanya pintu itu dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat sosok laki-laki yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Hati dan wajahnya seakan berseri saat melihat Reza datang menemuinya, namun tiba-tiba senyumnya memudar.


“Maaf mengganggu. Apa kamu sedang sibuk atau sudah mau istirahat?” tanya Reza ramah, tak ketus seperti biasanya.


Reza pun seakan diingatkan oleh ucapan Maira terkait proses perceraiannya yang seolah dilupakannya begitu saja. Ia bahkan juga tak tahu sudah sampai mana prosesnya. Ia pun menggeleng dan akan menanyakan pada mamanya nanti.


Reza lalu mengutarakan maksud dan tujuannya menemui Maira. “Sudah makan? Mau temani aku makan? Aku belum makan sedari tadi siang di kantor, karena hari ini sibuk sekali.”


Terkejut mendengar pertanyaan Reza, Maira hanya mematung tak menjawab.


Reza lalu menggerak-gerakkan tangannya di depan mata Maira.


“Kenapa tidak ajak Vany saja? Bukannya sudah sering liburan bersama? Kamu terlihat bahagia ya, Mas, setelah kita bercerai. Merasa semakin bebas bisa liburan kemana pun dengannya,” ucap Maira ketus.


Reza pun menanyakan dari mana Maira tahu jika ia ke Bali bersama Vany, karena ia tak pernah mengatakan hal ini pada sang mama.


“Setelah Mama bilang kamu pergi liburan ke Bali, tentu aku langsung teringat Vany. ‘Kan dia yang pernah menawarkanmu liburan di sana. Lupa?” Maira sama sekali tak menurunkan nada bicaranya.


Reza baru saja teringat akan hal ini. Bisa-bisanya ia lupa. Karena sering memikirkan Maira, otaknya sedikit hang.


“Terus kenapa sekarang ke sini?” Maira kembali bertanya dengan ketus.


Reza kemudian duduk di bangku di depan kamar Maira. Ia pun menjelaskan bahwa dirinya memang pergi ke Bali bersama Vany. Ia pikir pikirannya bisa tenang setelah dari sana, ternyata tidak. Ia pun jujur bahwa ia sering memikirkan Maira, bahkan ketika sedang berlibur.


Tak merespon penjelasan Reza, Maira justru seperti mengintrogasinya. “Tidur di mana? Hotel atau di mana? 1 hotel atau 1 vila?”


“Di rumahnya,” jawab Reza singkat yang membuat Maira murka padanya dan meminta Reza untuk pulang.


Dengan sigap, Reza menahan pintu kamar yang akan ditutup oleh Maira lalu ia memaksa masuk ke dalam kamar.


...****************...