Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Kejutan manis


"Tidak, usah. Aku ingin menghabiskan dua hari tersisa hanya bersama denganmu. Ini bukan madu kamu dan aku, bukan aku dan Elis," kata Albert. Dia meraih kedua tangan Vina. Mengenggamnya sangat erat.


"Kamu yakin?"


"Iya, aku yakin," ucap Albert. Kedua mata mereka bertemu. "Aku hanya ingin, berdua dengan kamu, istriku." Albert dia menyentuh ujung hidung Vina manja. Seketika kedua pipi Vina memerah seperi kepiting rebus.


"Malam ini, kita berdua." ucap Albert memberikan kode pada Vina. Vina hanya diam, tersenyum sumringah. Sembari menganggukan kepalanya dua kali.


Senyuman Vina seketika pudar saat dia mengingat tentang kemarin saat Albert tiba-tiba menghilang.


Kenapa dia bilang seperti itu? Dia tidak ingat kemarin dia mengulang begitu saja? Gerutu Vina dalam hatinya.


Setelah merasa luluh dengan ucapan Albert. Vina dan Albert kembali akrab. Mereka saling bercanda bersama. Tapi, tiba-tiba Vina pergi meninggalkan Albert begitu saja.


Hari menjelang malam.


Albert berjalan pelan mendekati Vina yang duduk sendiri di ruang tamu.


"Vin, malam ini aku mau ajak kamu jalan-jalan keliling," ucap Albert gugup. Dia takut jika Vina tahu semua tentangnya.


Vina memincingkan matanya. "Keliling mana?" tanya Vina dengan santainya. Dia mencoba untuk tersenyum. Setelah berpikir lama. Sekarang Vina mengambil keputusan untuk tidak peduli lagi. Dia hatinya terasa mati. Tidak pedulikan apapun yang di lakukan oleh suaminya. Dia membiarkan suaminya selingkuh. Meski dirinya tahu nantinya. Tapi, sebelum dia mengerti sendiri. Dia tidak mau banyak bicara.


"Sekitar pantai. Kamu pasti suka. Aku sudah menyewa kapal untuk kita nanti," ucap Albert begitu antusias.


Vina menghela napasnya. Dia menarik kedua sudut bibirnya. Mengukirkan sebuah senyuman manis di bibirnya. Vina terlihat sangat antusias.


"Gimana?" tanya Albert.


Vina menganggukan kepalanya malu.


"Kamu mau?" tanya Albert memastikan.


"Iya, jelas mau. Lagian aku istri kamu," ucap Vina, dia melangkah mendekat, meraih lengan tangan kanan Albert. Memeluk lengannya sangat erat.


"Aku boleh minta satu hal?" Vina menggekrkan kepalanya pelan sedikit condong kedepan. Kedua mata menatap Albert .


"Boleh," ucap Albert. Dia mencubit manja hidung runcing Vina.


Vina mengerutkan bibirnya. "Hmm ... aku ingin kamu banyak luangkan waktumu untuk aku. Ini acara honeymoon kita. Jangan sibuk dengan pekerjaan kamu. Bukanya kamu ambil cuti?" Vina meletakkan lengan tangan kirinya di atas pundak Albert. Sembari menarik salah satu sudut bibirnya. Mengukirkan senyum tipis di wajahnya.


Albert menghela napasnya. Dia melepaskan tangan Vina. Dia memegang kedua pipi Vina. Mendekatkan wajahnya berjarak dua telunjuk tangannya. Hembusan napas mereka saling beradu satu sama lain. Kedua nata itu saling tertuju dalam diam.


"Maafkan aku, jika aku tidak pernah ada waktu. Dan, sekarang waktuku hanya untuk kamu. Aku akan meluangkan banyak waktu untukmu. Kamu mau berapa hari disini? Mau 2 bulan, 1 bulan, atau 1 minggu? Aku tidak masalah kaku memperpanjang liburan kita," jelas Albert.


Vina berdahem pelan. "Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanya Vina.


"Udah, sekarang lebih baik kamu mandi." Albert menarik salah satu alisnya ke atas. Dia memegang kedua lengan Vina. Dia memutar tubuhnya. Mendorong tubuh Vina untuk segera pergi.


"Mandilah!" ucap Albert.


"Ntar, dulu aku masih malas," ucap Vina.


"Ini sudah jam 7 malam Vina," kesal Albert.


"Sekalian saja 3 jam lagi. Atau, sekalian tidak usah mandi," geran Albert.


Vina menggerakkan kepalanya, pandangan matanya menoleh ke belakang. Di mengedipkan kedua matanya berkali-kali. "Gimana kalau kita mandi bersama?" ajak Vina, menggoda.


Albert hanya tersenyum. Bahkan dia sudah tidak tertarik dekat dengan Vina. Membuat Vina langsung mengerutkan bibirnya. Saat mendengar jawaban dari Albert. Di memalingkan wajahnya. Kembali menatap kedepan. Lalu menundukkan kepalanya. Dia tahu masih jawaban Albert.


"Ya, sudah. Aku masuk kamar dulu. Nanti, kamu bisa menyusul," ucap Vina. Di mencoba untuk tetap tersenyum meski hatinya sakit. Vina segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Di mengunci pintunya rapat. Menyandarkan punggungnya di balik pintu. Sembari menghela napasnya berkali-kali.


Dia sudah yidak ada hasrat sama sekali denganku?" gerutu Vina.


"Emm ... apa malam ini aku buat dia jadi tambah berhasrat saat melihatku. Apa perlu aku pakai baju seksi agar dua tertarik denganku?" gerutu Vina.


"Apa yang di lakukan wanita itu sampai membaut suamiku nyaman dan berhubungan dengannya., " kesal Vina. Mengingat hal itu rahangnya mulai menegang. Di mengerjapkan giginya. Kedua tanganya mengepal sangat erat. Tatapan mata itu berubah tajam seketika.


"Rasa sakit ini akan terus membara dalam hatiku. Aku tidak akan pernah bisa melupakan apa yang pernah dia lakukan padaku. Setiap aku mengingatnya. Semakain rasa sakit itu merasuki diriku," gumam Vina. Dia memejamkan kedua matanya. Menarik napasnya dalam-dalam. Berusaha untuk menanangkan suasana hatinya.


"Berpura-pura bahagia itu susah!" gerutu Vina. Dia segera berdiri tegap. Dan, perlahan membuka kedua matanya. Saat hatinya usah benar-benar tenang. Perlahan kepalan tangan itu mulai renggang.


Vina melangkahkan kakinya menujunke kamar mandi. Dia tidak mau melewatkan malam ini. Dia ingin tahu sampai mana dia selingkuh. Vina sangat yakin jika selingkuhannya masih berada di tempat yang sama.


Setelah selesai mandi. Vina bersiap merias dirinya secantik mungkin. Dia tidak mau terlihat biasa saja di depan saingan yang luar biasa nanti. Dia akan melihat bagaimana wanita itu pasti akan muncul.


Setelah hampir satu jam. Berada di dalam kamar. Vina segera memakai jam tangan hitam melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah 9 malam.


Vina bangkit dari duduknya. Dia meriah tas hitam di atas meja. Meletakkan di pundak kanannya. Dan, serta pergi dari kamar itu. Kedua mata Vina melirik sekitarnya. Dia tidak melihat siapapun ada di sana. Merasa ini adalah kesempatan baginya. Dia segera pergi lebih dulu. Vina menarik sudut bibirnya sinis.


Vina berjalan menuju ke pinggir pantai. Tatapan matanya tertuju pada jembatan kayu yang dekat dengan parkir beberapa perahu kecil yang biasa untuk keliling ke tengah laut. Lengkap dengan pengemudi kapal.


Vina melangkah mendekat. Dia bertanya pada beberapa orang di sana. Dia ingin masuk ke kapal lebih dulu. Sebelum Albert datang. Namun vina sudah merencanakan semuanya. Dia ingin tahu siapa wanita yang bersama dengan Albert. Tapi, dia juga kerja sama dengan orang-orang si sekitar sana. Vina masuk ke dalam kapal milik Albert. Dia bersembunyi di sesuatu tempat ruangan kecil di kapal itu.


Tak lama seorang laki-laki berlari menuju pinggir pantai. "Maaf, apa anda tidak pernah melihat seorang wanita disini?" tanya Albert. Dia terlihat begitu panik mencari istrinya yang tidak ada di rumah. Bahkan dia sudah mencarinya di setiap sudut ruangan.


"Saya tidak melihatnya," ucap laki-laki paruh baya.


"Anda yakin? Bentar, saya punya fotonya. Siapa tahu anda pernah melihatnya." bibir dan tangan Albert gemetar seketika. Albert mengeluarkan ponselnya. dia dengan ceoat mencari foto Vina di ponselnya. Menunjukan pada laki-laki paruh baya di depannya.


"Saya tidak pernah melihatnya!" kata laki-laki itu.


"Kamu nyari siapa?" suara wanita yang sangat familiar di telinganya. Albert menoleh, seketika dia berdesis kesal. Melihat siapa wanita di belakangnya.


"Kamu lagi," kesal Albert.


"Kenapa?" tanya Aira.


"Aku tidak akan pergi jika kamu dan Vina belum pulang dari pulau ini. Pertama memang Vila ini sepi. Tapi lihatlah, sekarang sudah mulai banyak lagi orang yang menginap bahkan liburan di pantai ini," ucap Wira dengam santainya. Dia menarik sudut bibirnya bersamaan dengan alis kiri terangkat. Tangan kanan di lipat di atas dadanya.


Albert menghela napasnya kesal. Dia berusaha untuk tetap tenang menghadapi wanita licik di depannya.


Apa Aira menanggalkan rencana yang di lakukan Albert untuk memberi kejutan Vina. Atau, kali ini Vina akan percaya dengan Albert?