Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Talak 3


Setelah dipindahkan ke ruang rawat, akhirnya Nuri pun sadar. Ayu mengucap syukur berkali-kali karena ibunya bisa selamat dari bahaya.


Saat ibunya membuka mata, orang yang pertama dilihatnya adalah Rafa. Dia menatap menantunya dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Ma, aku…."


"Jangan, jangan mendekat," ucap Nuri dengan suara yang lumayan pelan nyaris tak terdengar.


Rafa pun langsung berhenti dan menatap mertuanya dengan penuh penyesalan. Dia tahu jika mertuanya tidak akan mau melihat wajahnya lagi sekolah apa yang dia lakukan pada Ayu.


"Dulu, mendiang papanya Ayu pernah berkata pada mama. Katanya, Ayu adalah anugerah terindah dalam hidup kami. Kami yang sulit memiliki keturunan, akhirnya diberikan keturunan setelah sepuluh tahun pernikahan kami. Dia kami rawat bagai ratu. Kami memberikan semua yang terbaik untuknya. Makanannya, pakaiannya, pendidikannya, fasilitas untuknya. Kamu tau kenapa? Karena dia adalah anak yang sangat kami sayangi. Tapi, mengapa kamu tega sekali melukai hati anakku, padahal dia begitu baik padamu. Dia menjadi gadis yang sangat penurut. Apa salah anakku sehingga kamu memberikan luka yang sangat pedih untuknya?" Nuri berderai air mata ketika mengatakan semua kalimat itu.


Rafa hanya berdiri sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya bisa diam dan mendengarkan apa yang diucapkan Ibu mertuanya kepadanya. Hatinya terbelenggu dengan rasa bersalah karena selama ini telah membohongi Ayu. Wanita yang sangat mencintainya dengan begitu tulus.


"Sebelum papanya meninggal, dia berkata pada mama untuk menjodohkannya dengan pria yang merupakan anak temannya. Awalnya mama nggak setuju karena Ayu berhak memilih laki-laki yang tepat untuknya. Tapi, papanya bersikeras, membuat mama terpaksa menyetujuinya. Namun, mama nggak mengatakan hal ini sama Ayu. Mama hanya membukakan pintu ketika kamu datang dan mempersilakanmu meminang Ayu. Meski dalam hati Mama masih belum ikhlas jika anak mama bersanding denganmu. Ternyata firasat Mama benar. Kamu bukanlah laki-laki yang bertanggung jawab."


Ucapan Nuri membuat suasana semakin tegang. Ayu pun menghampiri ibunya dan menangis, memohon agar sang Ibu berhenti menyakiti dirinya sendiri. Semakin dia meluapkan emosinya, maka itu akan berbahaya untuk jantungnya.


"Udah, Ma, Mama harus istirahat. Jaga kesehatan Mama." Ayu mengusap wajah sang mama dengan tatapan penuh cinta.


"Sayang, apakah sekarang kamu masih mencintainya?" tanya Nuri dengan tatapan serius.


"Rafa, jika kamu benar-benar menyesali perbuatanmu, tolong, lepaskan Ayu. Ceraikan dia dan kembalikan dia pada Mama. Kamu nggak perlu capek-capek menyakitinya lagi, karena ada Mama yang akan menyayanginya."


Rafa masih terdiam mendengar permintaan mertuanya. Apakah dia benar-benar siap untuk kehilangan Ayu sekarang?


"Tapi, Ma, sekarang aku sudah menyadari bahwa aku mencintai Ayu. Aku mohon, Ma, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan segera menceraikan Alini, bahkan malam ini juga." Mungkin ini adalah usaha terakhir Rafa yang bisa dilakukannya untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Ayu.


"Tapi kamu sudah terlambat, Rafa. Dan kamu nggak bisa egois seperti ini. Kamu yang memilih perempuan itu hadir di hidupmu. Maka kamu harus bertanggung jawab padanya. Jika kamu bisa meninggalkannya demi Ayu, maka suatu hari nanti kamu juga pasti akan meninggalkan Ayu demi wanita lain. Sudahi ini, Rafa, Mama mohon, berhenti menyakiti Ayu. Ceraikan dia di depan Mama."


Rafa tidak bisa menyembunyikan air matanya yang jatuh berlinang. Tidak disangka hari ini akan tiba. Hari di mana dia akan benar-benar bercerai dengan Ayu, wanita yang sebenarnya menjadi pemilik hatinya, nama dia terlambat menyadarinya.


"Ayunia Balqis binti Irawan, kamu aku ceraikan dengan talak 3. Mulai sekarang, kamu bukan istriku lagi." Begitulah kalimat talak yang diucapkan Rafa dan langsung membuat Ayu menitihkan air matanya. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan karena dia sudah terlepas dari Rafa. Dan karena mereka belum memiliki dokumen negara, maka pernikahan mereka sudah berakhir sampai di sini.


Rafa pun langsung berbalik meninggalkan tempatnya untuk pergi menuju keluar ruangan. Namun, sebelum dia membuka pintu, dia menoleh ke belakang dan melihat wajah Ayu untuk yang terakhir kalinya. Dia pun tersenyum setelah melihat paras nan ayu seperti namanya.


Ayu dan mamanya pun menangis. Tak henti-hentinya Ayu meminta maaf pada mamanya karena telah menyembunyikan semua ini dari sang mama.


Namun, akhirnya mereka merasa lega karena sekarang hidup Ayu sudah terbebas dari laki-laki egois seperti Rafa.