Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Bisnisnya Chandra


Chandra saat ini tengah menemani Sonya untuk imunisasi baby Arzan. Chandra memalingkan wajahnya ketika baby Arzan di imunisasi oleh dokter. Ia tak tega melihat baby Arzan di suntik.


Oek... Oek... Oek...


Seketika baby Arzan menangis. Meski tak tega melihat baby Arzan di imunisasi, Chandra segera merengkuhnya lembut dan juga penuh kasih sayang.


"Jagoan papa hebat." Chandra berbisik, sembari menenangkan baby Arzan yang menangis.


Selesai imunisasi, Chandra dan Sonya meninggalkan ruangan dokter.


"Habis dari sini, mau kemana lagi?" Tanya Chandra sambil merangkul pundak Sonya.


Sonya tampak berpikir dulu. "Mm... Gimana kalau mampir dulu ke mal, sekalian makan siang."


Chandra mengangguk. "Oke...."


Setibanya di lobby rumah sakit. Chandra meminta Sonya untuk menunggunya dan dirinya melesat untuk mengambil mobil di parkiran.


Sonya yang sedang menunggu, tanpa sengaja ia melihat papanya keluar dari rumah sakit seorang diri.


"Itu kan papa? Ngapain papa di sini?" Gumam Sonya.


Sonya segera menghampiri papanya sambil berteriak memanggilnya.


"Papa...!"


Tapi Tuan Yusuf tidak menoleh. Ia terus melangkah pergi seolah teriakan Sonya hanya angin lewat.


Sekali lagi Sonya meneriakinya. "Papa...!" Dan lagi-lagi, papanya tidak menoleh. Bahkan Tuan Yusuf berjalan dengan terburu-buru.


Sonya menghela napasnya. "Kira-kira papa habis ngapain disini? Atau papa habis nengok temannya yang sakit? Tapi kenapa dipanggil nggak nengok."


Sonya hanya bisa menerka-nerka tentang papanya yang keluar dari rumah sakit.


"Sayang, ayo masuk."


Sonya terkesiap mendengar kata sayang yang dilontarkan oleh Chandra. Membuat hatinya bertambah berbunga, karena ini pertama kalinya Chandra memanggilnya dengan sebutan sayang. Semburat merah di pipinya, menandakan ia tersipu senang.


Sonya mengangguk dengan senyum tersungging dan Chandra membimbing Sonya ke mobil. Lalu membukakan pintu mobil. Kini Chandra sudah duduk di belakang kemudi.


Chandra menggelengkan kepalanya, karena Sonya tidak langsung memakai seal belt.


"Ada apa?" Tanya Sonya heran.


"Seat belt kenapa nggak dipakai, Sayang." Ucap Chandra yang langsung mencondongkan tubuhnya untuk menarik seat belt.


Lagi-lagi Sonya merona mendengar kata sayang. Ah... Rasanya sangat senang mendengar Chandra berkali-kali memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kenapa sayang?" Tanya Chandra, tepat di depan wajahnya.


"Nggak kenapa-kenapa," jawabnya sambil memalingkan wajahnya, dan semburat merah pun kini semakin bertambah sampai ke telinganya.


Chandra mengulum senyumnya. "Lihat aku," bisik Chandra.


"Apa?" Sonya pun menurutinya menatap Chandra. Tiba-tiba Chandra mencium bibirnya sekilas.


Chandra tersenyum, yang melihat Sonya bertambah tersipu. Kemudian Chandra menegakkan kembali tubuhnya dan tidak ketinggalan tangannya mengusap-usap kepala Sonya.


Sepanjang perjalanan, Chandra terus menggenggam tangannya Sonya, sambil mengemudikan mobilnya. Hatinya Sonya terus berbunga-bunga dengan sikap manis Chandra.


Setibanya di mal. Chandra maupun Sonya menuju supermarket guna membeli beberapa barang yang dibutuhkan. Selesai dari supermarket, kini keduanya sudah duduk di restoran.


Mereka duduk di dekat dinding kaca, sambil melihat lalu lalang pengunjung mal yang kebetulan tidak begitu ramai.


"Sayang, kamu mau makan sama apa?" Tanya Chandra sambil melihat-lihat buku menu.


"Terserah."


Chandra memesan ayam teriaki, sapo tahu seafood, jus melon dan air mineral.


"O ya... Kapan? Kok aku nggak lihat."


"Pas Mas lagi ambil mobil."


"Oh..." Chandra manggut-manggut. "Mungkin papa kamu nengok temannya yang lagi sakit."


"Mungkin...."


Sambil menunggu dan bercengkrama. Tiba-tiba ada seseorang menyapa Chandra.


"Chan, kamu disini juga." Sapa nya.


Chandra menoleh kepada orang yang memanggilnya. "Eh! Bang Ezar." Chandra terkejut melihat temannya, lalu segera bangkit dari duduknya dan berjabat tangan dengan Ezar.


"Bang Ezar sendirian?" Tanya Chandra yang di balas dengan anggukan.


"Sayang kenalin, ini Bang Ezar teman aku. Bang ini istriku." Chandra memperkenalkan Sonya dan Ezar.


"Sonya."


"Ezar."


Setelah berkenalan, Ezar menepuk bahu Chandra. "Nanti sore jangan lupa datang ya...."


"Siap, Bang. Aku pasti datang." Kemudian Ezar pun pergi.


"Emang nanti sore ada acara apa?" Tanya Sonya penasaran.


"Cuman kumpul-kumpul aja."


"Oh...."


Selesai makan siang, Chandra mengantarkan Sonya dan baby Arzan pulang. Sekitar dua puluh menit, mobil yang dikendarai oleh Chandra tiba di halaman rumah.


Sonya segera masuk ke rumah, sedangkan Chandra membawa barang belanjaannya. Sesampainya di kamar dan meletakkan beberapa kantong belanjaan. Chandra mendekati Sonya yang tengah mengganti diapers Arzan.


"Udah selesai gantiin diapers-nya?"


"Sudah."


"Sini, aku mau ngomong sama kamu."


Sonya mengerutkan keningnya. "Ngomong apaan?"


Chandra tidak menjawabnya, tapi Chandra meminta Sonya untuk duduk. Chandra kemudian melangkah ke arah lemarinya dan mengambil sesuatu dari dalam lemari.


"Ini...," ujar Chandra sambil menyorongkan sebuah buku kecil yang bertulis nama bank.


Meski bingung, Sonya menerima buku tabungan tersebut. "Untuk apa?"


"Ini nafkah buat kamu. Ya ... walau jumlahnya tidak besar. Aku harap kamu tidak mempermasalahkan uangnya yang tidak besar."


Sonya mengangguk mengerti. "Terima kasih, Mas. Aku akan menyimpannya dan mengaturnya dengan baik."


Bagi Sonya, ia tidak mempermasalahkan seberapa besar nafkah yang Chandra beri. Tapi seberapa besar tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ini sudah lebih dari cukup baginya.


"Terus aku juga mau bilang, kalau selama ini aku bisnis properti bareng Bang Ezar. Ya... Walau bisnisnya masih kecil-kecilan."


"Bang Ezar yang tadi ketemu di mal."


"Yap, betul." Sambil menganggukkan kepalanya. "Doain aku, semoga usahaku lancar dan berkembang."


"Tanpa Mas minta pun, aku selalu mendoakan, Mas," jawabnya sambil tersenyum.


"Terima kasih, karena kamu sudah menerima aku apa adanya," ucap Chandra sembari mengelus pipinya Sonya.