Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti
Meminta untuk tinggal bersama


Jawaban Heni membuatnya meradang, sakit, terluka dan merasa sangat dibohongi. Andai Kia tidak mengalami kecelakaan, mungkin selamanya dirinya tetap meyakini kalau Kia memang anak kandungnya.


"Mas...," lirih Heni sambil berderai air mata. Tatapannya penuh dengan penyesalan.


"Hebat kamu sudah membohongi ku," desis Tuan Yusuf terluka dan marah.


"Maaf...." sahut Heni, dengan sangat lirih.


Tuan Yusuf berdecih dan menatapnya penuh kemarahan. "Kamu tahu! Aku sangat-sangat marah sama kamu! Andai aku tahu kalau Kia bukan anakku, maka aku nggak bakalan nikahin kamu!" Salak nya penuh emosi.


"Mas... Aku benar-benar minta maaf...."


"Percuma minta maaf. Hati ku sudah terlanjur sakit atas kebohongan kamu!"


Heni semakin menundukkan kepalanya. Ia tahu, kalau ia salah yang telah membohongi Tuan Yusuf. Apa salah jika ia ingin anaknya hidup penuh dengan limpahan harta, juga kasih sayang darinya. Meski Tuan Yusuf bukanlah ayah kandung dari anaknya.


Tanpa berkata dan juga hatinya yang dipenuhi dengan kekesalan. Tuan Yusuf memilih pergi dari sana dan tidak peduli dengan panggilan Heni, yang memintanya jangan pergi meninggalkan dirinya di rumah sakit.


Akan tetapi, saat ini pikirannya tengah kalut setelah mengetahui yang sebenarnya. Berkali-kali ia menghembuskan napas panjang, untuk menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


"Kurang ajar! Jadi selama ini aku dibohongi oleh Heni. Dan aku percaya saja waktu itu!" Kesalnya pada dirinya sendiri, terutama kepada Heni yang sudah membohonginya. Huh... Dasar brengsek!


Ia pikir Heni wanita baik-baik, tapi ternyata... Memikirkan ini membuat hatinya bertambah jengkel, marah dan rasanya ia ingin mencengkik seseorang. Demi menyalurkan kemarahannya.


Mungkin kata yang tepat untuk disematkan pada dirinya adalah bodoh. Ya... Dirinya memang sangat bodoh, karena terjebak rayuan cinta Heni.


Berkali-kali ia merutuki kebodohannya dan tidak mencari tahu dulu kebenarannya kala itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan dirinya hanya bisa merutuki kesalahannya.


***


Di tempat yang berbeda. Chandra saat ini tengah mengobati ujung bibir Sonya yang terluka.


"Aw...! Pelan-pelan, Mas. Sakit tahu," sungut Sonya.


"Iya... Ini juga pelan-pelan."


Sonya meringis. "Perih...." Rengek Sonya. Lalu, Chandra meniup-niup bibir Sonya agar tidak lagi perih.


"Apa masih sakit?" Tanya nya tanpa mengalihkan perhatiannya dari bibir Sonya.


Sonya mengangguk dan mengerucutkan bibirnya. Sambil mengobati, Chandra terus menerus meniup bibir Sonya.


Sonya menatap intens wajah Chandra yang begitu dekat dengan wajahnya. Membuatnya mendadak ingin melakukan hal yang menyenangkan.


Kemudian Sonya merangkum pipi Chandra dan sedetik kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Chandra.


Lima centi... Empat centi... Tiga centi... Dua centi...


Sonya sudah menutup matanya dan siap mendaratkan bibirnya ke bibir Chandra. Namun, bukan bibir yang ia sentuh, melainkan tangan lebar Chandra yang menghalanginya. "Kamu mau ngapain?" Tanya Chandra.


Seketika Sonya membuka matanya dan menatap kesal wajah Chandra, karena mendapati pertanyaan bodoh dari Chandra. Sudah jelas-jelas kalau dirinya akan menciumnya.


"Mau nampol kamu!" Salak nya ketus. Kemudian Sonya mencebikan bibirnya kesal. Lalu, Sonya merubah posisi duduknya menyampingi Chandra.


"Huh...." Sonya membuang napasnya, lalu menoleh ke arah Chandra. "Tapi kan aku pengen...."


Chandra masih tersenyum dan juga menggelengkan kepalanya. "Tapi tidak untuk sekarang. Lihatlah ini... Aku nggak mau bibir kamu bertambah sakit." Tunjuk nya ke arah bibirnya yang terluka.


Sonya hanya mendengus. "Tapi kan bisa pelan-pelan," sahutnya yang tak mau kalah. "Bisa kan?"


Chandra menggeleng. Ia tetap menolaknya. Ia tidak mau luka di bibir Sonya semakin bertambah parah, jika saling berciuman.


"Ya udah... Kalau gitu pulang. Aku kangen banget sama Arzan." Kesalnya.


Chandra mengangguk dan segera pulang.


Setibanya di rumah Chandra. Sonya langsung menghampiri ibu Meli yang tengah menggendong baby Arzan.


"Anak Mama... Arzan!" Sonya langsung meminta Arzan dari gendongan ibu Meli.


Ia benar-benar sangat merindukan putra kesayangannya, walau satu hari tidak bertemu dengan jagoan kecilnya itu.


Sonya membabi-buta baby Arzan dengan ciuman yang bertubi-tubi dan hal itu berhasil membuat baby Arzan menangis.


Sonya terkekeh kecil melihat baby Arzan yang menangis karena dirinya terus menciumi wajah baby Arzan.


"Habisnya kamu gemes, Sayang," pungkas Sonya yang terkekeh melihat baby Arzan. "Apalagi lihat pipi kamu yang tembem."


Sambil menimang baby Arzan dan bersenandung. Sonya kini menidurkan baby Arzan. Setelah itu ia bergabung dengan Chandra dan ibu Meli yang tengah duduk sambil menonton televisi.


"Mas... Ibu... Aku mau bicara."


"Bicara apa?" Tanya ibu Meli.


"Aku ingin Arzan, ibu dan Mas Chandra ikut tinggal di rumah ku."


"Tinggal di rumah, Neng?"


Sonya mengangguk. "Tapi, Neng... Bagaimana dengan papa nya, Neng?" Sambung ibu Meli yang tampak ragu.


"Soal papa, ibu nggak usah pikirkan. Itu urusan belakangan. Yang penting ibu sama Mas Chandra ikut tinggal sama aku."


Ibu Meli kemudian menatap Chandra dan meminta persetujuan tentang keinginan Sonya. "Bagaimana, Chandra?"


"Chandra sih, setuju-setuju aja," jawabnya tak masalah.


Ibu Meli menghembuskan napas panjang, lalu kembali menatap Sonya. "Tapi Neng yakin, kalau Tuan Yusuf nggak bakal marah."


Bukannya apa-apa, soalnya waktu itu Tuan Yusuf terlihat sangat tidak suka dengan baby Arzan. Dan ibu Meli tidak mau kalau nantinya Tuan Yusuf murka jika tinggal di rumahnya.


Sonya senyum meyakinkan. "Ibu nggak usah khawatir. Papa nggak bakal marah. Percaya sama aku, Bu."


"Baiklah...."