Bukan Aku Yang Memaksamu Menikah

Bukan Aku Yang Memaksamu Menikah
Keraguan


“hari ini saya nyatakan kalian berdua resmi sebagai pasangan suami istri” seru pendeta yang menjadi pemandu ikrar pernikahan antara Adara dan Jery


Jery melakukan sesi terakhir dari janji pernikahannya untuk mencium bibir mungil milik Adara sebagai tanda kalau Adara sudah menjadi istri sahnya


Adara menerima dengan baik hal itu karena kini Jery sudah menjadi suaminya. Dalam hatinya Adara sudah bertekad menjadi istri dari Jery walaupun nama mendiang suaminya masih mengisi penuh ruang hatinya tapi ia akan berusaha menjadi seorang istri pada umumnya dan menjalani kewajiban seorang istri tanpa terkecuali sebab ia sudah berjanji hal itu pada Tuhannya yang akan ia pertanggung jawabkan nanti pada Tuhannya


Acara pernikahan Adara terbilang cukup cepat dan sangat sederhana karena memang Adara dan Jery tidak banyak mengundang tamu baik sahabat Adara maupun sahabat Jery, tamu undangan hanya keluarga dekat serta tetangga dekat Adara saja


acara yang terbilang sederhana itu bisa terjadi sebab memang Jery yang harus buru-buru kembali ke negara tirai bambu itu karena ia harus kembali bekerja setelah satu bulan lebih ada di Indonesia sehingga persiapan acara pernikahan terbilang begitu cepat dan sangat buru-buru “aku akan berangkat terlebih dahulu karena aku masih punya banyak pekerjaan di sana, setelah Ken bisa naik pesawat, aku akan segera menjemputmu untuk pulang ke rumah kita” ucap Jery sebelum ia meninggalkan Adara untuk bekerja di negaranya


"Mama dan ayah juga langsung ikut kamu pulang" tanya Adara tentang kedua mertuanya


"iya, mama harus mengurus tokonya yang tidak mungkin di tinggal terlalu lama jadi ayah juga ikut pulang bersamaku karena mama harus pulang juga" balas Jery


"ya sudah, aku sudah siapkan beberapa oleh-oleh untuk sanak keluarga di sana nanti di bagikan ya" pinta Adara menunjuk ke arah beberapa kardus berisi oleh-oleh khas Indonesia yang sudah ia siapkan untuk keluarga besar Jery yang ia tahu tidak terlalu banyak sebab ayah Jery hanya mempunyai dua adik saja


"harusnya tidak perlu repot seperti ini Adara" balas Jery sekedar basa-basi pada wanita yang kini sudah menjadi istrinya


"tidak merepotkan kok, keluarga yang di bawakan oleh kan hanya kedua adik ayah saja" balas Adara


Jery mencium pipi bulat Ken, putera Adara yang baru berusia beberapa minggu itu, untuk berpamitan sebelum berangkat ke bandara "ayah pergi dulu ya sayang, nurut sama mama dan jangan rewel" bisik Jery di telinga Ken


Jery mencium kening Adara sebelum pergi dan Adara hanya menerima kecupan itu dengan biasa saja


Selama Adara masih di Indonesia, Adara mulai mempersiapkan beberapa lamaran untuk bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di tiongkok. Beruntung dengan rekomendasi seniornya Adara bisa di terima sebagai salah satu dosen bantu di Tiongkok dan akan menjalani beberapa bulan masa percobaan sebelum resmi di angkat menjadi dosen tetap di sana jika hasil kerjanya baik


Saat Ken sudah berusia tiga bulan dan diperbolehkan untuk naik pesawat, Jery menjemput Adara sesuai yang ia janjikan untuk tinggal bersamanya di Negara tirai bambu itu “sudah siap” Tanya Jery saat Adara keluar dengan menggendong Ken dan menarik satu koper besar di tangan kanan sedang tangan kirinya menggendong Ken


“sudah, yang lainnya kan sudah di kirim terlebih dahulu ke sana, jadi tinggal bawa ini saja” balas Adara menunjukan kopernya


“baiklah ayo berangkat” ajak Jery mengambil alih koper di tangan Adara agar Adara hanya fokus menggendong Ken saja


Adara dan Ken berpamitan dengan keluarga besar Adara dengan berpelukan sebagai salam perpisahan karena harus tinggal berjauhan “ titip Adara dan Ken ya nak Jery” ucap Sofyan pada menantunya


“iya ayah” balas Jery


Keluarga besar Adara mengantar Adara sampai ke bandara untuk melepaskan Adara tinggal di negeri orang bersama suaminya, biar berat tapi mau gimana, Adara memiliki kehidupan baru di sana


Adara memandangi jendela pesawat di mana ia bisa melihat gumpalan awan di sebelahnya dengan begitu jelas  “aku dengar kamu sudah mendapatkan pekerjaan” Tanya Jery yang tepat ada di sebelah Adara


Adara menoleh ke arah Jery “iya sudah, bulan depan aku sudah mulai bekerja disana” balas Adara


Jery menganggukkan kepalanya “aku sudah menyiapkan satu pengasuh untuk Ken agar kamu bisa bekerja dengan nyaman nantinya” ucap Jery


Jery mengernyitkan dahinya ketika mendengar panggilan 'tuan' untuknya  “apakah kamu harus memanggilku tuan” Tanya Jery penasaran


“aku nyaman seperti ini, jadi tolong jangan melarang ku” balas Adara


Jery menghela nafas panjang “baiklah, terserah kamu saja “ Jery tidak mau memaksakan Adara dan nanti bisa membuat Adara tidak nyaman bersamanya


***


Jery dan Adara berhenti di sebuah rumah besar milik Jery pribadi karena setelah menikah Jery tidak ingin serumah dengan orang tuanya lagi, jadilah kini sekarang Adara berada, di rumah yang baru beberapa bulan Jery beli untuk hunian dirinya dan juga Ken


“selamat datang di rumah kita” ucap Jery saat membukakan pintu untuk Adara


Adara mengamati setiap sudut rumah yang akan jadi tempat tinggalnya "ayah dan mamah tidak tinggal bersama kita" tanya Adara ketika menyadari Jery membawanya ke rumah berbeda dari kedua orang tua Jery


padahal pikir Adara mereka akan tinggal bersama kedua orang tua Jery sebab Jery adalah anak tunggal


"tidak, orang tuaku punya rumah sendiri sedangkan kita sudah menikah jadi akan lebih nyaman jika kita tinggal tanpa mereka" balas Jery


"oh begitu" Adara mengangguk paham akan pilihan suaminya


"ayo aku ajak kamu berkeliling dahulu" ajak Jery mengitari setiap sudut rumah untuk mengenalkan setiap sudut rumah mereka, kemudian Jery berjalan ke lantai dua di mana kamar mereka berada


Adara mengikuti langkah Jery sambil menggendong Ken yang kini sudah mulai terlelap. dalam gendongannya “ini kamar kita” Jery membuka pintu kamar yang akan di tempati dirinya dan juga Adara


Jery menunjuk pintu besar yang ada dekat ranjang “ itu adalah pintu kamar Ken agar memudahkan kamu untuk kesana saat Ken menangis” Jery memberitahukan kamar Ken tepat bersebelahan dengan kamar mereka dan ada pintu yang menjadi akses keluar masuk Ken di kamarnya


“hmmm, iya ” balas Adara


Jery berdiri di hadapan Adara “aku ada syuting di luar kota dan mungkin akan memakan waktu sampai 3 bulan, apa tidak masalah kalau kau tinggal sendiri di rumah” Tanya Jery yang sebenarnya tidak enak pada Acara jika langsung meninggalkannya tapi apa daya jika ia sudah terikat kontrak


Adara tersenyum simpul ke arah Jery “tak masalah, aku bisa mengurus diriku sendiri” balas Adara tak masalah sama sekali dengan pekerjaan Jery yang menuntutnya karang di ruamah


“jika kamu butuh sesuatu beritahu saja pada pelayan di rumah ini” ucap Jery langsung melesat pergi meninggalkan Adara dan Ken begitu saja


Adara menyempatkan mengantar Jery sampai pintu dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat


Adara membaringkan Ken di atas ranjang "ini kamar kita sayang" bisik Adara pada Ken yang masih memejamkan matanya


Adara membaringkan tubuhnya di samping Ken "apa mama bisa menjalani pernikahan ini" gumam Adara menerawang jauh ke masa depan pernikahannya yang entah bisa bertahan atau tidak