
Seorang wanita muda tengah duduk didepan sebuah cermin besar yang dikelilingi cahaya lampu yang memperlihatkan wajah cantiknya yang begitu memukau dengan balutan gaun pengantin
Wanita cantik itu menampilkan wajah datar, tak ada senyum terpancar dari bibir mungilnya padahal ini adalah hari pernikahannya yang harusnya jadi hari paling membahagiakan untuknya
wanita itu tampak begitu cantik dengan balutan gaun berwarna pink salem dengan segala hiasan dan pernak-pernik di tubuhnya yang membuat ia makin mempesona walaupun hiasan yang wanita itu pakai terbilang sederhana saja
“Anda cantik sekali nona” puji seseorang melihat wanita yang ada di depan cermin
pandangan kagum wanita yang berprofesi sebagai perias wajah dan kebetulan sedang bekerja merias wanita yang ternyata akan menikah hari ini
Wanita yang di katakan cantik hanya tersenyum simpul tanpa menanggapi lebih pujian sang perias
“Adara sudah siapkan, mempelainya prianya sudah datang” seru seorang wanita paruh baya bernama Marisa Harun, ibu dari mempelai wanita
wanita cantik dengan balutan gaun pengantin yang tak lain dan tak bukan adalah Adara Evelyn berbalik menatap arah sumber suara yang mengajaknya bicara “sudah siap kok bu” Adara mengangguk pelan menjawab pertanyaan ibunya tentang kesiapannya berias untuk acara pernikahannya
Marisa berjalan ke arah anak perempuannya “ayo sayang” Marisa menggandeng tangan putrinya menuju altar yang sudah di siapkan di depan rumah sederhananya
“sampai di sini ibu hantar kamu ya nak” Marisa menghentikan langkahnya di depan pintu, membiarkan Adara berjalan seorang diri untuk ke posisi selanjutnya yang nantinya ayahnya lah yang akan mengantar pada calon suaminya
Adara berjalan menuju ke arah altar pernikahan dengan wajah datarnya “maafkan aku mas, Maafkan aku yang tak bisa menjaga pernikahan kita mas” batin adara sendu mengingat kenangan pernikahannya dulu yang harus terpisahkan karena takdir yang tidak bisa ia elak walaupun ia ingin
Didepan karpet merah sederhana itu ayah Adara sudah menunggu sambil mempersilahkan lengannya untuk di gandeng dan Adara menyambut tangan ayahnya untuk mengantarnya ke pelataran pernikahan di mana sang calon suami serta pendeta yang akan memandu ikrar suci pernikahannya sudah menunggu di atas podium
Ayah Adara yang bernama Sofyan Barata menepuk pelan lengan putrinya “mungkin hari ini kamu kecewa sekali dengan ayah karena sudah memaksamu menikah kembali padahal kalian berpisah belum lah lama tapi pada saatnya nanti pasti akan tiba waktunya kamu berterima kasih pada ayah karena sudah menyarankan mu untuk kembali menikah” ucap ayah Adara yang tak ditanggapi oleh Adara sama sekali
Sesampainya di altar pernikahan Sofyan menyerahkan tangan Adara pada pria di hadapannya "aku serahkan putriku untuk kau jaga dan sayangi seumur hidupmu, cintailah dia dan selalu kamu bahagiakan lah dia" ucap Sofyan saat menyerahkan tangan putrinya pada pria yang sebentar lagi akan jadi suami sang putri
Pria tersebut menyambut tangan Adara dengan senyum meneduhkan di wajahnya "saya akan menjaganya dan membahagiakan dia seumur hidup saya yah" balas pria tersebut
Proses janji suci mereka pun dimulai dengan serangkaian acara yang sudah ditetapkan sampai tiba pada pertanyaan terpenting dalam proses ikrar Suci pernikahan
“saudara Jery Zhou Yang apakah kamu bersedia menjadikan Adara Evelyn sebagai istrimu, mencintainya, dan selalu ada bersamanya seumur hidup baik dalam suka maupun duka” Tanya seorang pendeta pada mempelai pria bernama Jery Zhou Yang
“saya bersedia” jawab Jery dengan lantang
sang pendeta beralih ke Adara “dan kau saudari Adara Evelyn, apa kamu bersedia menjadikan Jery Zhou Yang sebagai suamimu, mencintainya seumur hidup, menemaninya baik suka maupun duka” Tanya pendeta pada Adara
Adara menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan pendeta “saya bersedia” balas Adara
"Mempelai pria di persilahkan mencium mempelai wanita" seru pendeta
Jery mendekat ke arah Adara dan mulai mendekatkan wajahnya untuk melaksanakan proses akhir acara pernikahannya
Saat prosesi mencium pasangan itu, Adara memejamkan mata membayangkan kilatan masa lalunya yang hanya bagai sebuah mimpi singkat tapi sayangnya itu sebuah kenyataan
Pernikahan Adara kali ini bukanlah pernikahan pertamanya tapi merupakan pernikahan keduanya
Adara menikah untuk kedua kalinya diusia yang masih menginjak 24 tahun, usia yang masih terbilang sangat muda
Adara menikah untuk kedua kalinya bukan karena sebuah kegagalannya dalam membina biduk rumah tangga tapi karena takdir yang harus memaksanya untuk berpisah dengan pria yang sangat ia cintai
biarpun rasa cinta itu masihlah begitu kuat tapi apalah daya jika tuhan memaksa perpisahannya dengan mengambil sang suami tercinta untuk kembali ke sisi-Nya
Adrian susanto adalah nama suami Adara Evelyn yang meninggal karena kecelakan tunggal yang ia alami saat adara masih mengandung 7 bulan
Usia pernikahan mereka saja bahkan belum genap menginjak satu tahun dan kisah pernikahan mereka masihlah manis-manisnya karena terbilang masih pengantin baru
Adara dan Adrian memutuskan menikah setelah menjalani masa pacaran selama kurang lebih lima tahun yang mereka jalani semenjak di bangku SMA
Setelah Adara menyelesaikan pendidikannya dan mulai bekerja, ia langsung memutuskan menikah dengan Andre sebab Andre juga ingin segera melegalkan Adara sebagai istri sahnya, karena Andre ingin menjaga kehormatan Adara sebab mereka terbilang cukup mesra sedari pacaran walau tidak sampai menjurus ke arah di luar batas
Tapi apalah daya pernikahan Adara hanya bertahan seumur jagung, singkat sekali rasanya walau mereka sudah pacaran bertahun-tahun tapi tetap saja menikah selama 7 bulan itu terlalu cepat bagi Adara
Adara masih ingat betul kebahagiaannya saat pertama kali menikah dengan Adrian kala itu dan kini berbanding terbalik dengan perasaannya saat ini yang begitu hampa saat menikah dengan pria di hadapannya
Kabar kematian Adrian dulu langsung meluluh lantahkan kebahagiaan Adara yang akan menyambut kehadiran buah cintanya bersama Andrian saat itu
Siapa yang mau jika harus kehilangan suami yang amat di cintainya, jika bertanya pada setiap orang yang lewat di pinggir jalan pun jawabannya pasti tidak ada yang mau
tapi apalah daya jika Tuhan menggariskan takdir hidup itu untuk Adara, yang harus kehilangan suami dan di paksa untuk menikah kembali dengan pria yang tidak ia kenal sebelumnya dengan dalih sang anak butuh sosok seorang ayah
ingin menentang dunia dan mengatakan 'aku bukan wanita lemah, dan bisa membesarkan seorang anak walau tanpa ada pria menemani' tapi apalah daya jika dunia terutama keluarga seolah tak percaya dengan apa yang ada dalam niatannya
ingin terus menentang tapi apalah daya dia bukan anak yang bisa terus membantah orang tua yang ingin segala terbaik untuknya dan pada akhirnya dia kalah untuk menerima pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan