BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
MENYAYANGIMU


Malam semakin larut, Vendra juga memilih untuk tidur disamping Lily.


Entah kenapa juga hatinya menuntun untuk menemani wanita itu di sampingnya.


šŸƒšŸƒšŸƒšŸƒšŸƒ


" Hoam....... "


Lily menguap sembari membuka kedua matanya.


" Maaf.... "


Dia yang mendengar ucapan itu langsung kaget dan ternyata Vendra tidur disampingnya dengan memeluk pinggang ramping miliknya.


" Kamu ngapain...! "


" Aku minta maaf, sungguh.... "


" Untuk apa kak...? "


Tanya Lily.


" Soal kemarin, aku minta maaf... "


" Lupakan, terserah kau mau melakukan apapun aku tidak peduli... "


Jawab Lily yang berusaha santai walaupun sebenarnya hatinya sudah deg-degan dengan kehadirannya yang begitu dekat.


" Aku... aku.... "


" Tak usah, lupakan saja, itu hak mu... tapi maaf, aku memang merasa jijik melihat laki-laki yang bermoral kotor seperti itu.


Apalagi kalau dia menyentuhku... aku hannya tidak suka.. "


Lily berusaha membalikkan bada dan ingin turun menuju ke kamar mandi.


Bugh...


Ternyata tubuhnya langsung terjatuh kembali di ranjang setelah Vendra menarik pinggang ramping miliknya.


" Hentikan...! kau mau apa hah..! "


Bentak Lily.


" Kamu ini sebenarnya kenapa hah...! aku sudah merasa bersalah dan minta maaf.


Bukankah kamu tadi malam menangis karena ku...? "


" Karena mu...? kamu konyol... "


Mereka saling menatap bingung, entah siapa yang berkata bohong atau siapa yang pura-pura bohong.


" Kamu sebenarnya kenapa....sungguh... aku minta maaf soal kemarin... "


Lirih Vendra.


" Lupakan saja, minggir lah... aku mau mandi. "


" Kau cemburu...? "


Deg....


deg......


Jantung mereka saling berdetak kencang.


" Aku cemburu...?


apa yang dia katakan..? kenap aku harus cemburu... sedangkan aku saja tidak merasa dia mencintaiku, atau aku mencintainya juga... "


Lily terdiam bingung


" Dasar mulut lemes.. bagaimana bisa aku se blak-blakan seperti ini padanya.


Cemburu...?


hey.. kenapa aku mengatakan itu.. tapi apa Lily memang cemburu padaku..? bagaimana kalau dia merasa aku sudah kepedean kalau menganggap dia menyukaiku...? "


Vendra juga diam dan bengong.


" Sebenarnya hubungan macam apa ini..? "


" Ka.... aku mau mandi.... "


Lily bicara sangat pelan karena grogi.


" Kau belum menjawab perkataan dariku barusan Lily... "


" Aku... tidak... "


" Tidak apa..? "


Tanya Vendra.


" Aku... itu... aku.... "


Lily gelagapan ketika mau menjawabnya.


Cup...


Ciuman mendarat di pipi Lily hingga membuat wajahnya memerah malu.


" Kalau cemburu bilang.... "


Bisiknya di telinganya Lily.


" Minggir lah aku mau mandi.... "


Vendra justru mengunci tangan Lily ke atas, ia mandang wanita yang berada di bawahnya tanpa berkedip.


Lily yang melihat manik mata itu melihat ke bawah sebelumnya memang terfokus di matanya.


" Kau mau apa.... "


" Jawab dulu pertanyaan dariku tadi... kau cemburu...? "


" Tidak.... "


Jawabnya.


" Jangan berbohong... aku tahu itu... aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya kembali.. aku janji Lily... maafkan aku... "


Vendra terlihat sangat serius.


" Tapi aku tidak apa-apa, kenapa kau berjanji seperti itu, hidupmu terserah pada dirimu.. "


" Lalu kenapa kamu menangis..? "


Pertanyaan kali ini berhasil membuat Lily gelagapan.


" Kenapa.. ? apa karenaku memang..? "


Tanya Vendra yang berusaha ingin mendengar kebenaran dari mulut Lily.


" Aku mau mandi, minggir lah... "


" Jawab dulu...! "


Tegas Vendra.


" Kau menyakiti pergelangan tanganku... "


Ucap Lily yang kedua matanya sudah berair.


" Maaf, aku minta maaf... aku tidak bermaksud membentak mu.. "


Laki-laki itu langsung memeluk wanita yang dari tadi di interogasi olehnya.


" Kamu jahat... hiks.. hiks... "


" Maaf, maafkan aku... "


" Kamu pembohong... "


Lily kini meracau kemana-mana karena sejujurnya ia memang marah dan cemburu dengan Vendra, apalagi di telfon tadi siang yang ia dengar pergulatan panas antara Vendra dengan jalang sewaannya.


" Aku menyayangimu... aku minta maaf.. tidak akan aku lakukan lagi... "


Lirih Vendra.