BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
CAMPING 2



" Makasih untuk kejutannya... "


" Kau sangat menyukainya...? "


" Tentu saja.... sangat.... kamu dapat ide darimana..? "


" Waktu aku menjenguk camping tempo hari "


" Kau benar-benar jenius... romantis "


" Sebenarnya aku bukan tipe laki-laki seperti itu, baru kali ini aku mempersiapkan sesuatu untuk kekasihku sendiri... "


Vendra memberikan satu gelas coklat hangat yang ia buat dari tadi sambil mengobrol di depan tenda.


" Kita tidur disini...? "


" Tentu saja "


" Kamu tidak dingin...? "


Vendra melihat ke arah Lily dengan senyum nakalnya.


" Kamu dingin...? "


" Lumayan.... "


" Kau ingin tidur sekarang...? sudah jam 11 malam... "


" Benarkah, sudah semalam itu? "


" Iya, kalau sudah mengantuk ayo tidur di dalam tenda, kau tidak akan lagi kedinginan nanti, aku jamin... "


" Kamu bawa selimut juga..? "


" Ya, selimut paling mahal khusus untukmu "


Lily menatap curiga Vendra.


" Harganya berapa...? "


" Sangat mahal.... tidak ada duanya di dunia ini... udah ayo masuk kalau dingin, habiskan dulu minumannya... "


Lily langsung masuk ke dalam tenda diikuti oleh Vendra.


" Tidurlah, kemari... "


Mengelus kasur empuk.


" Disitu..? "


" Tentu saja, kemari... ini sudah malam "


" Kak.. bagaimana kalau ada yang lihat...? penjaga...? "


" Tidak ada.... kemari dan tidur, kamu mau selimut nggak...? "


Dengan gemas Lily merangkak ke atas kasur empuk dan berbaring di samping kekasihnya.


" Mana..? "


" Tidurlah.... "


Memeluk kekasihnya dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping.


" Kak.. nanti bayangan kita terlihat, jangan ngaco "


"Sudah... tidak akan ada yang melihatnya Lily, diamlah dan cepat tidur "


" Selimutnya mana...? "


Dengan polosnya masih menanyakan selimut.


" Kamu masih kedinginan...? "


Menatap Lily.


" Tidak juga, tapi aku pengen tahu selimutnya "


" Apa aku perlu melepas bajuku biar kamu lebih hangat lagi...? "


Goda Vendra.


" Ya ampun.. kamu benar-benar mengerjai ku kak... "


Ucapnya malu.


" Hangat bukan...? "


" Sangat hangat... kau akan memberikan kejutan apalagi nanti..? sungguh romantis sekali pacarku ini "


" Lebih istimewa kejutan... aku suka "


Sepertinya keduanya sudah terbiasa dan tanpa ada rasa canggung lagi ketika menghabiskan waktu bersama, sekalipun tidur satu ranjang.


Lily bercerita dan bertanya banyak hal kepada kekasihnya Vendra.


Begitupun sebaliknya, Vendra sampai kewalahan menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan kekasihnya.


" Aku kedinginan.... "


" Aku ambilkan selimut ya di kamar.... "


Ucap Lily.


" Kenapa selimut, terlalu lama.


Kau kan ada disini.. aku tidak butuh selimut.. "


" Kak.... "


" Peluk aku gantian... "


" Tapi tubuhmu.. "


" Kenapa..? kau mau aku melepas baju..? "


" Eh, bukan... tapi tanganku kan pendek.. "


" Cepat peluk, kamu mau aku kedinginan sayang...? bagaimana kalau aku sakit "


" Kita kedepan.. apinya masih hidup... "


Vendra justru berdiri dan keluar mengambil satu gelas air mineral dan memadamkan api unggun.


" Kak.. kok di matiin... "


" Udah malam, waktunya tidur... "


" Tapi kak... nanti kesannya campingnya kan jadi hilang... "


" Udah masuk.... dingin.... "


šŸ’•šŸ’•



" Ya ampun... aku benar-benar seperti sepasang suami istri.


Apa seperti ini pemandangan di pagi hari ketika sudah menikah...? memandang orang yang kita sayang begitu dekat... "


Ia memandang kekasihnya yang tengah tidur pulas di sampingnya, tangannya melingkar dan memeluk tubuh mungilnya.


Perlahan ia tersenyum, jemarinya berusaha menyentuh rambut milik Vendra dan memandang wajah itu sangat lama.


" Kok bisa ada orang setampan ini ya, aku benar-benar memang beruntung bisa bertemu dengannya.


Aku tak menyangka kalau dia memperlakukanku begitu istimewa, bahakan sangat istimewa.... "


Batinnya kembali.


Terlihat Vendra tersenyum, Lily langsung kaget.


" Kau bicara dalam hati soal diriku..? "


" Bagaimana kamu tahu...? "


" Aku tahu segalanya, bahkan jika kau membicarakan diriku seperti pagi ini.


Aku memang tampan... tidak perlu memujiku terus-terusan... "


Ucap Vendra.


" Percaya diri banget ya kamu...? "


" Benar atau tidak...? "


Matanya terbuka dan menatap ke arah Lily.


" Tidak... "


Langsung memalingkan wajahnya karena gugup.


" Eh... kenapa membelakangi diriku.... "


" Aku pegal menghadap ke arahmu terus sejak semalam... "


Lily berusaha mencari alasan karena grogi.