Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Majalah Rilis


Pagi ini majalah Syailen edisi 32 rilis. Wajah Dathan terpampang di halaman depan. Kabar Dathan yang berada di halaman depan majalah tersebar begitu cepat. Beberapa pengusaha menyerbu beberapa toko buku untuk membeli majalah tersebut. Sebagian dari mereka begitu penasaran sekali dengan wajah pemilik IZIO karena selama ini tidak ada yang pernah tahu.


Di kantor Neta semua juga heboh. Walaupun mereka sebagian tahu jika Neta mewawancara Dathan Fabrizio. Tidak ada yang tahu foto Dathan kecuali beberapa orang. Seolah memang benar-benar dirahasiakan.


“Astaga, Ta, kenapa kamu tidak bilang-bilang jika Dathan Fabrizio setampan ini?” Seorang teman sengaja menghampiri Neta hanya untuk mengatakan itu.


Neta tersenyum. Dia benar-benar tidak bisa menjawab. Lagi pula jika sampai dia bilang Dathan tampan, yang ada dia akan punya banyak saingan. Tentu saja dia tidak mau itu terjadi.


“Ta, apa dia masih jomlo? Apa dia sudah punya istri? Kenalkan pada kami?” Teman-teman Neta begitu heboh sekali. Mereka tidak sabar untuk berkenalan dengan Dathan.


“Dia sudah punya calon istri. Sudah jangan tanya lagi. Sana-sana balik kerja.” Maria mengusir teman-temannya. Merasa jika teman-temannya sudah mengganggu.


“Dasar, kamu tidak suka sekali kami senang.” Teman-teman Neta langsung melayangkan protes.


Mereka semua pun akhirnya bubar. Tidak lagi mengganggu Neta. Apalagi sudah mendengar jika Dathan sudah memiliki calon istri. Tentu saja hal itu membuat mereka semua pupus harapan. Tidak bisa mencari celah untuk mendapatkan Dathan.


“Sepertinya setelah ini, kamu akan punya banyak saingan.” Maria menatap temannya.


Neta tersenyum. Yang dikatakan Maria ada benarnya. Dia merasa jika memang setalah ini akan banyak wanita yang akan menggoda kekasihnya. Hal itu harus dipersiapkan oleh Neta jauh-jauh hari.


Kantor Neta tampak sibuk. Permintaan majalah bertambah. Hal itu membuat Adriel langsung menghubungi pihak percetakan untuk segera mencetak lagi. Ini benar-benar di luar dugaan. Ternyata banyak orang yang ingin membeli majalah yang berisi artikel tentang Dathan. Seolah semua ingin tahu pemilik Artikel tersebut.


“Ta, majalah benar-benar laris manis.” Maria menatap Neta baru saja dia mendengar jika ada penambahan kuota mendadak. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Pesona Dathan benar membuat mereka semua berbondong-bondong ingin tahu.


“Aku juga tidak menyangka sampai seperti ini.” Neta sendiri tidak percaya jika akan sampai seperti ini. Majalah bisa terjual cukup banyak.


...****************...


Suara ketukan pintu terdengar. Arriel mengalihkan pandangan pada pintu. Tampak Mauren berada di sana. Dia masuk ke ruangan Arriel dan segera meletakkan majalah di atas meja Arriel.


“Lihatlah foto Dathan di majalah.” Mauren menunjukkan majalah yany dibawanya pada Arriel.


Arriel mengalihkan pandangannya. Dilihatnya ternyata foto Dathan berada di sampul depan majalah. Dia yakin jika ini adalah tempat Neta bekerja.


“Lihat dia tampan sekali.” Mauren memuji Dathan di sampul majalah.


Arriel hanya tersenyum saja. Dia sudah mulai tidak peduli dengan Dathan.


“Pasti banyak yang akan mengincar Dathan.” Mauren yakin sekali jika Dathan akan jadi sasaran empuk para wanita-wanita pebisnis dan anak-anak pengusaha. Apalagi wajah tampan Dathan begitu memesona.


“Dia tidak akan tergoda.” Arriel tersenyum tipis. Dathan adalah pria yang mencari wanita tidak hanya dari fisik saja. Dia mencari wanita yang bisa mencintai putrinya. Sekali pun banyak yang menggoda, tetap saja dia tidak akan tergoda.


“Iya, kamu saja menggoda tidak bisa. Apalagi wanita lain.” Mauren mencibir Arriel. Senang sekali menggoda temannya itu.


“Sial!” Arriel pun mengumpat. Cukup kesal dengan temannya itu.


“Apa kamu ke sini hanya untuk memberikan aku majalah ini saja?” Arriel menatap temannya.


“Iya.” Mauren tersenyum memamerkan deretan giginya.


“Sana kembali bekerja.” Arriel pun mengusir temannya itu ketika mengetahui jika temannya itu datang hanya untuk hal itu saja.


“Baiklah.” Mauren pun segera keluar dari ruangan Arriel karena diusir.


Arriel kembali melihat wajah Dathan di sampul majalah Tampak Dathan begitu tampan di sampul majalah. Jadi wajar Mauren histeris. Namun, dia yakin jika Dathan tidak akan tergoda dengan wanita lain. Bagaimana dia menggodanya sudah menjelaskan jika pendirian Dathan tetap akan teguh. Tak akan goyah sama sekali.


...****************...


Malam ini pekerjaan Neta cukup banyak. Terpaksa dia harus lembur. Tepat jam sembilan Neta segera keluar dari kantor. Kebetulan Dathan menjemputnya. Loveta yang sudah tidur. Membuat Dathan dapat menjemput kekasihnya itu.


Saat masuk ke mobil Neta sudah disambut oleh senyum Dathan. Hal itu membuat lelah Neta seketika menghilang.


“Kita ke restoran dulu?” ajak Dathan menatap Neta.


Neta belum makan sejak tadi siang. Jadi tentu saja tawaran itu tidak akan dilepaskannya begitu saja.


“Iya.” Neta mengangguk. Setuju dengan ajakan Dathan.


Dathan segera melajukan mobilnya menuju salah satu restoran. Dia tidak mau sampai sang kekasih kelaparan. Apalagi setelah lelah bekerja.


“Apa kamu tahu majalah terjual banyak. Tadi sampai ada permintaan cetak kedua.” Di tengah-tengah perjalanan Neta menceritakan akan hal itu.


“Jadi majalah terjual banyak?” Dathan memastikan pada Neta. Menoleh ke arah Neta sejenak. Membagi konsentrasinya pada jalanan.


“Iya, aku rasa semua orang ingin melihatmu, jadi mereka membeli majalah. Aku hanya takut privasimu akan sedikit terganggu jika seperti ini.” Neta menjelaskan ketakutannya pada Dathan. Dia merasa jika memang hari ini benar-benar luar biasa. Banyak orang yang membicarakan Dathan di kantornya.


Dathan tersenyum. “Tidak masalah. Aku akan menerima semua. Lagi pula memang semua sudah aku persiapkan.” Sejak awal memutuskan untuk wawancara, Neta sudah tahu jika ini akan terjadi. Jadi tentu saja, dia tidak masalah dengan semua ini. “Lagi pula aku bukan artis. Yang akan dikejar-kejar.” Dathan mencubit pipi Neta. Yang membaca majalah tentu saja orang-orang bisnis saja. Jadi dia masih akan bebas ke mana-mana.


“Kalau tiba-tiba ada yang mengenali dan memanggilku bagaimana?” Neta memastikan.


“Yang mengenali aku pasti orang-orang yang berhubungan dengan bisnis. Tidak mungkin orang biasa akan tahu.” Dathan merasa tidak akan seterkenal yang ditakutkan kekasihnya.


Neta berpikir apa yang dikatakan Dathan ada benarnya. Jadi pasti hanya orang-orang tertentu yang akan mengenali Dathan.


Mobil sampai di restoran. Neta dan Dathan langsung turun. Mereka segera masuk ke restoran.


“Pak Dathan.”


Baru saja langkah mereka sampai di pintu masuk restoran. Tiba-tiba ada orang yang memanggil. Dathan dan Neta langsung menoleh. Memastikan siapa yang memanggil itu.