Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Suasana Canggung


Arriel tidak punya pilihan. Apalagi dirinya sudah ada di rumah Dathan.


“Iya, Kak.” Arriel segera mengayunkan langkahnya menghampiri Loveta yang duduk di sofa bersama dengan papanya. Dia duduk tepat di samping sang anak. “Anak mama sudah sembuh?” tanyanya.


“Sudah. Lolo sudah tidak demam.” Loveta tersenyum.


Arriel bersyukur karena anaknya kini sudah sembuh. Sejak tadi dia ingin menemui Loveta di rumah Dathan. Namun, rasa sakit hati ketika Loveta mengajak pulang membuatnya untuk ke rumah Dathan saat perasaannya jauh lebih tenang. “Mama bawa kue untuk Lolo.” Arriel menunjukkan kue yang dibawanya.


“Tadi Aunty Neta bawa kue, sekarang mama bawa kue.” Dengan polosnya Loveta menceritakan hal itu.


Bagi yang lain, ini adalah hal biasa, tetapi bagi Arriel, ini benar-benar membuatnya terluka. Karena dia tidak merasa spesial bagi Loveta.


Dathan yang berada di samping melihat jelas perubahan Arriel. Tentu saja itu menarik perhatiannya. “Ayo, terima kue dari mama.” Dathan memberikan isyarat pada putrinya.


Loveta segera menerima kue yang diberikan oleh sang mama. “Terima kasih, Mama.”


“Ayo kalau begitu kita makan.” Dathan berdiri. Mengajak anaknya untuk bangun. Tangannya langsung meraih kue yang diberikan oleh Arriel. Kebetulan ada asisten rumah tangga yang sedang membantu Neta dan Rifa untuk memasak. Jadi dia segera memberikan pada asisten rumah tangga, agar membawanya ke belakang.


Arriel segera mengulurkan tangan pada Loveta. Mengajak anaknya itu bersamanya.


Mereka semua menuju ke meja makan. Meja makan yang berbentuk kotak membuat mereka duduk saling berhadapan. Dathan duduk di samping Neta bersama dengan Richa, sedangkan Reno, Rifa, Arril, dan Loveta, duduk bersebelahan. Berhadapan dengan Dathan dan Neta.


Neta mengambilkan makan untuk Dathan. Sejak kenal Dathan dia memang melakukannya. Dia mengambilkan nasi untuk Dathan.


“Mau pakai apa?” Neta sambil menatap sang kekasih.


“Em ....” Dathan melihat ke arah makanan yang ada di depannya.


“Coba ayam bumbu rujak ini, Than. Ini buatan Neta.” Rifa memberitahu Dathan sambil menunjuk makanan yang dimaksud.


“Aku sepertinya salah mengajaknya memasak, karena dia lebih jago memasak.” Rifa tersenyum melirik Neta.


“Kak Rifa juga jago. Aku harus banyak belajar.” Neta tidak mau terlalu dipuji.


“Aku mau itu.” Dathan yang dapat info dari Rifa, langsung menunjuk makanan buatan sang kekasih.


“Baiklah.” Neta segera mengambil makanan yang diminta oleh Dathan. Kemudian memberikannya pada Dathan.


“Terima kasih.” Dathan kembali tersenyum.


Pemandangan itu tertangkap jelas oleh


Arriel. Tatapan Dathan yang penuh damba, mengingatnya pada kenangannya. Bagaimana dulu Dathan menatapnya sewaktu baru menikah, sama persis seperti itu. Rasanya sesak sekali. Seolah dia telah kehilangan semua kenangan itu.


Apa yang aku lakukan selama ini?


Pertanyaan bodoh itu muncul dalam hatinya. Sungguh, Arriel merasa bodoh, sudah menyia-nyiakan pria sebaik Dathan. Saat Dathan tidak punya pasangan, tak sedikit pun Arriel merasakan rasa ini. Perasaan ini menyelusup ke sanubarinya. Terasa menyesakkan. Mungkin jika tidak berpisah, dialah yang akan menemani Dathan makan.


“Lolo mau makan.” Loveta dengan senangnya berucap.


Suara Loveta itu membuat Arriel tersadar dengan pikirannya. Dia segera mengambil piring Loveta. Bersamaan dengan Arriel, Neta juga bergerak ingin meraih piring Loveta. Sayangnya, karena Arriel yang lebih dekat, dia mengurungkan niatnya.


Dathan melihat jelas apa yang dilakukan sang kekasih. Tangannya yang terulur, pasti ingin membantu anaknya untuk mengambilnya.


“Iya.” Neta mengangguk dan mengambilkannya.


Arriel hanya melirik saja ketika Dathan melakukan hal itu. Seolah dia sedang menyelamatkan kekasihnya dari rasa malu.


Rifa hanya menyenggol sang suami. Pemandangan menegangkan itu menarik perhatiannya. Namun, Reno tampak senyum-senyum saja. Karena dia merasa lucu dengan yang terjadi.


Arriel segera mengambilkan makanan untuk Loveta. Mereka semua pun menikmati makanan bersama-sama.


“Wah ... Ta, masakanmu lebih enak.” Reno memuji Neta sambil melirik sang istri. Sang istri pun langsung mengalihkan pandangan pada sang suami, “tapi sayangnya lebih enak masakan Rifa.” Dia melanjutkan kembali ucapannya. Tak mau sampai nanti harus tidur di luar.


Neta hanya tersenyum saja. Melihat tingkah Reno yang takut pada istrinya. Membuatnya merasa lucu.


“Padahal kamu biasanya bilang masakan Rifa tidak enak.” Dathan mengompori temannya. Dia sudah mengenal cukup lama. Jadi tentu saja hal itu membuatnya merasa lucu.


“Kapan aku mengatakannya?” Reno menatap Dathan. Takut-takut istrinya marah.


“Em ....” Dathan tampak berpikir.


“Pasti awal menikah. Jika awal menikah pasti iya. Dia tidak bisa memasak dan juga tidak tahu apa-apa. Jadi jelas aku bilang padamu.” Setelah otaknya berkelana ke mana-mana, akhirnya Reno punya alasan menolak.


“Jika awal menikah, memang benar. Aku masih terlalu muda saat menikah. Baru lulus kuliah. Jadi wajar.” Rifa pun tersenyum. “Karena Neta pandai memasak, pastinya nanti ....” Rifa hendak membahas pernikahan, tetapi dia lupa ada Arriel dan juga Loveta.


“Sudah ayo makan. Jangan mengobrol terus.” Reno yang menyadari akan hal itu pun segera mengakhiri pembicaraan.


Neta merasa tidak nyaman ketika pembahasan hubungan dirinya dan Dathan dibahas ketika ada Arriel. Itu seolah sedang meledek Arriel.


Arriel sebenarnya merasa tidak nyaman sekali dengan obrolan Rifa, Reno, dan Dathan, tetapi dia berusaha tenang. Dia berusaha tenang. Dia memilih mengajak bicara Loveta.


“Lolo mau apa?” tanya Arriel.


“Lolo mau crab.” Loveta menunjuk ke satu makanan. Neta pernah membuatkannya untuknya. Jadi dia hafal.


“Memang itu crab?” tanya Arriel yang melihat makanan yang tampak seperti tahu bulat.


“Iya, Aunty Neta buat dan Lolo suka sekali.” Loveta begitu senang menceritakan.


Entah berapa kali pujian untuk Neta yang Arriel dengar. Sampai dia merasa begitu sempurna sekali Neta hingga membuat orang sekitarnya bahagia, termasuk anaknya.


Arriel pun mengambilkan makanan tersebut. Kemudian memberikan pada Loveta.


Neta melihat sekilas raut wajah Arriel. Terlihat jelas mengalami perubahan. Dari yang tadinya tersenyum, berubah murung. Neta hanya berharap, jika Arriel tidak melihatnya sebagai pesaing. Karena dia kelak akan berdampingan bersamanya menjaga Loveta.


Mereka semua menikmati makan. Seusai makan mereka menuju ke ruang keluarga. Mereka mengobrol sebentar. Bercengkerama bersama dengan Loveta yang menceritakan mainannya.


“Aku sepertinya akan harus pulang.” Neta menatap Dathan. Revisi Dathan cukup banyak, jadi dia mau mengerjakannya. Sebelum majalah selesai dicetak.


“Aku akan mengantarmu.” Dathan langsung berdiri.


“Tidak perlu.” Neta merasa masih ada banyak orang. Jadi tentu saja dia akan merasa tidak enak.


“Kalau tidak mau diantar Dathan, lebih baik kamu pulang denganmu. Kebetulan aku harus pulang juga.” Arriel menyela pembicaraan antara Dathan dan Neta.