
Keesokan hari.
Mansion Erick.
Semua penghuni mansion Erick tampak berkumpul di meja yang sudah tertata di pinggir kolam renang, hari ini Mommy Alya lagi kepengen menikmati sarapan pagi di pinggir kolam renang, sembari menikmati pemandangan hijau dari pepohonan dan tanaman-tanaman yang tertanam di kebunnya yang tak jauh dari kolam renang.
Arsal dan Arash ikut bergabung sarapan dengan kedua orang tuanya, kecuali Nabilla karena dia sekolah masuk jam tujuh pagi.
“Daddy, aku ingin bekerja di perusahaan Daddy, sekalian cari bahan buat skripsi,” kata Arash sembari mengunyah roti sandwichnya.
Daddy Erick yang sedari tadi fokus menikmati sarapan buatan istrinya, menegakkan kepalanya biar semakin jelas menatap anaknya yang tiba-tiba saja berkata ingin bekerja. Harapan Daddy Erick apa yang diucapkan oleh Arash barusan bukan lagi kesambet setan.
“Kamu, serius!” Tuh kan beneran Daddy Erick masih belum percaya.
Kepala pria bermata biru itu mengangguk pelan. “Serius Daddy, kali ini beneran. Bukannya dulu Daddy sangat berharap aku untuk belajar berbisnis seperti Daddy.”
Daddy Erick mengambil segelas air putih kemudian meneguknya terlebih dahulu sebelum dia menjawab. “Ya memang Daddy berharap semua anak Daddy untuk belajar berbisnis, namun baru Arsal yang melakukannya ... kuliah sambil bekerja di kantor Daddy.”
“Tapi kamu bilang seperti itu tidak sedang kesambet setan kan?” lanjut kata Daddy Erick.
“Astaga Daddy, giliran aku bilang sering, sekarang malah dibilang kesambet setan,” desaah Arash agak sedikit kecewa.
“Ya wajarlah Nak kalau Daddy jadi praduga seperti itu, karena kamu tuh susah diminta tolong, susah dibilangin,” timpal Mommy Alya, mendukung pernyataan suaminya.
“Emm ... Ya kali ini aku serius Mom, apalagi aku kan segera menikah, kalau tidak bekerja nanti istriku mau dikasih makan apa,” gerutu Arash.
Mommy Alya menarik sudut bibirnya ke atas, sepertinya sudah ada kemajuan dalam pemikiran anaknya, ya walau sebenarnya Arash bukan anak bodoh, nilai akademisnya sangat bagus, namun karena pergaulan nya jadi jarang memikirkan masa depannya karena terbuai dengan kesenangan sesaat.
“Kalau begitu hari Senin, kalau kamu tidak ada jadwal kuliah datang ke kantor Daddy, kamu bisa barengan sama Arsal,” titah Daddy Erick.
“Ok siap Pak Bos, aku akan datang,” jawab Arash dengan semangat 45.
“Oh iya Mom, Daddy, hari Sabtu dan Minggu, aku ikut Almira tadabbur alam di puncak,” lanjut kata Arash dengan santainya, mulutnya kembali dipenuhi dengan sisa roti sandwichnya.
“Apa tadabbur alam!” seru Mommy Alya dan Daddy Erick serempak dengan raut wajah yang tampak terkejut.
Arash jadi ikutan menyurengkan kedua netranya saat menatap kedua orang tuanya terkejut.
“Mommy gak salah dengar kalau kamu mau ikut tadabbur alam? Kamu beneran lagi gak ke masukan setan’kan!” cerocos Mommy Alya masih tak percaya, andaikan meja bulat ini ukurannya tidak lebar mungkin Mommy Alya sudah mengecek suhu Arash dengan menempelkan punggung tangannya ke kening Arash.
Arash kembali mendesah panjang. “Benaran Mommy, aku ikut tadabbur alam dari tempat pengajiannya Almira, bukan lagi kesambet atau kemasukan setan,” jawab Arash, menjelaskan.
Arash langsung melengos ke samping dengan memicing kedua netranya. “Sue lo ngiliran gue belajar yang lurus malah diledekin, bukannya di dukung kek saudaranya!” sewot Arash.
“Wait, clam down Bro. Justru gue sangat mengapresiasikan kemajuan elo. Tapi ingat jangan karena ada Almiranya, tapi karena hati lo sendiri Bro,” jawab santai Arsal.
“Betul kata saudara kamu Arash, jangan karena ada Almira kamu ikut, tapi seyogianya demi diri kamu sendiri, ambil manfaat nya,” sambung Daddy Erick.
Arash manggut-manggut paham kata Daddy Erick, walau sebagian besar yang dikatakan oleh Daddy Erick ada benarnya, dia ikut karena ada Almiranya, dan demi menjaga calon istrinya agar tidak dekat dengan Ustadz Ridwan.
“Kalau begitu nanti Mommy siapkan baju koko, peci, dan kain sarung untuk kamu bawa ke puncak. Lagian gak mungkin kamu ikutan tadabbur gayanya udah kayak mau ngajak tawuran,” tukas Mommy Alya.
Arash langsung menundukkan kepalanya, dilihat lah penampilannya hari ini, celana jeans yang warnanya tampak pudar, belum lagi celana tersebut banyak robekan yang disengaja di bagian lutut dan pahanya, ditambah kaos berwarna putih polos yang amat mengetatkan di bagian tubuh atletisnya, dan tak lupa jaket kulitnya yang berwarna hitam tampak ditaruh di pinggir sandaran kursinya.
“Hari Senin kalau ke kantor Daddy, penampilan kamu juga harus rapi, tidak seperti ini ya!” pinta Daddy Erick, ikutan melirik gaya penampilan Arash.
Kedua bahu Arash terlihat turun bersamaan dengan helaan napas panjangnya. Pikiran benar-benar tidak sampai ke gaya penampilannya, ya mau bagaimana lagi, dia pelan-pelan harus merubah nya.
“Tenang Daddy, nanti Mommy akan siapkan beberapa stel pakaian kerja untuk Arash, biar tidak bikin malu Daddy di kantor,” ucap Mommy Alya, memberikan solusi buat masalah pakaian, untung saja Mommy Alya punya butik jadi masalah kecil jangan jadi masalah besar. Closed pembicaraan tentang baju.
“Aku ikut pilihan Mommy aja,” kata Arash, sebelum Mommy Alya menyuruh nya ke butik untuk mencoba baju, pria itu sangat memahami mommy nya.
“Oke Nak, nanti Mommy bawakan beberapa baju ke mansion.”
Mereka pun kembali menikmati sarapan paginya setelah salah satu maid membawakan menu tambahan. Matahari pagi tampak bersinar cerah menyinari mereka yang ada di pinggir kolam renang, menikmati moment kebersamaan yang jarang terjadi karena kesibukan masing-masing, di pagi ini Arash juga antusias menanyakan bisnis Daddy-nya sebelum mereka berpisah untuk kembali ke rutinitas masing-masing.
Mommy Alya wajahnya pun mulai berseri-seri, setelah beberapa hari yang lalu jatuh sakit dan tidak berbicara dengan Arash. Akan tetapi melihat ada sedikit perubahan dari Arash di pagi ini, tak henti hentinya hati Mommy Alya berucap syukur dan berharap perubahan ini tidak hanya sementara dan terus semakin lebih baik.
Daddy Erick meraih tangan istrinya, lalu mengecup punggung tangan Mommy Alya dengan lembutnya. “Selalu sehat ya sayangku,” ucap Daddy Erick begitu manisnya, sembari sama sama menatap kedua anak laki-lakinya sudah berpamitan untuk ke kampus.
“Aamiin Daddy, semoga kita berdua selalu diberikan kesehatan, dan diberikan umur yang panjang, biar kita kelak bisa melihat cucu-cucu kita,” jawab Mommy Alya.
“Insya Allah, semoga doa kita dikabulkan, Mom.”
Apalagi yang Daddy Erick dan Mommy Alya inginkan sekarang, dunia sudah ada digenggamannya, dan sekarang sudah waktunya memberikan semuanya ke anak-anaknya untuk melanjutkan jejaknya, kemudian menemani anak-anaknya hingga berhasil dan sukses baik dalam berbisnis dan berkeluarga, hanya itu impian mereka berdua sekarang.
Bersambung ...
Kakak readers yang kepengen coklat ayam dari Bang Wowo, ikuti kisah Almira dan Arash sampai tamat ya, jangan lupa juga like, dan meninggalkan komentarnya di tiap babnya, biar bisa ikutan diundi 😊. Oh iya yang masih punya VOTE mau dong buat Almira, nonton iklan juga boleh. Makasih sebelumnya 🙏🏻