Anak Genius : First Night With CEO

Anak Genius : First Night With CEO
Bab 92. Yes!


The Green Village ....


Rumah mewah dan megah ini, kini mulai dibersihkan. Sang pemilik, Donny Winn dan keluarganya akan berlibur ke luar negeri untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Helda dan Donny, merasa bahwa keadaan mereka kini terancam.


Walau ia melaporkan semua kejahatan Jordan, tak ada jaminan jika dirinya akan selamat. Karena Donnya sudah meyakini, jika dirinya juga pasti akan terseret semua kasus malang itu. Hanya tinggal menunggu waktu, Donny dan kelaurganya akan terbang bersama-sama ke Los Angeles.


Tak ada yang tahu, jika kepergian Donny ke luar negeri, adalah untuk kabur dan melarikan diri. Semua pembantu di rumah ini pun hanya diberi tahu, jika Donny dan keluarganya akan berlibur ke luar negeri. Anehnya, Donny dan Helda membawa begitu banyak perlengkapan. Mereka tak main-main, membeli pesawat jet untuk terbang ke LA.


Perlengkapan yang dibawa pun sangat banyak. Mereka sepertinya akan pindah, bukan akan berlibur. Namun, Donny menutup rapat-rapat rahasia besarnya. Donny tak ingin busuknya tercium oleh siapapun. Sebelum semua benar-benar terlambat, Donny harus mengantisipasi kejadian ini.


Pembantunya, termasuk Ibunda Ellea, Wina Patrice, kini telah membereskan semua perlengkapan Helda yang tersisa. Ada besar harapannya pada adik iparnya sendiri, untuk mempertemukan dirinya dengan anak sulungnya, Ellea. Namun, Helda seakan membohonginya. Helda tak pernah membuktikan ucapannya. Wina Patrice hanya tenggelam dalam angan-angan semu.


"Helda, m-maksudku, Nyonya Helda. Bisakah kau memberiku alamat Ellea sebelum kau pergi berlibur?" Wina terus berharap agar Helda membantunya.


"Hahaha, kau ini memang Kakak ipar yang bodoh dan tidak tahu diri! Sudah kubilang berkali-kali, jika Ellea sangat membencimu! Dia sudah tak peduli padamu! Dia sudah menjadi orang kaya, yang tak akan memedulikan orang tua miskin sepertimu!" Helda mulai menyakiti hati Wina lagi.


"Ya, aku sadar akan hal itu, Helda. Aku meminta alamatnya, aku ingin meminta maaf padanya, karena aku telah menyakiti hatinya. Kumohon, sebelum kau pergi ke luar negeri, izinkan aku bertemu dengan anakku. Bukankah dulu kau berjanji padaku, Helda? Kau akan mempertemukan aku dengan anakku."Air matanya berlinang, Wina yang sudah tua dan keriput itu, mulai tak bisa menahan kesedihannya.


" Lancang sekali kau menyebut namaku tanpa sebutan Nyonya! Kau hanya pembantu yang tak berharga di sini! Berani-Beraninya kau memanggil namaku! Panggil aku Nyonya! Nyonya Helda! Mengerti!?" Sentak Helda.


"B-baik, Nyonya. Maafkan aku ..., kumohon kabulkan keinginanku sekali ini saja, aku benar-benar membutuhkan informasi mengenai Ellea. Aku menyesal telah mengusirnya, aku ingin dia kembali dan kita hidup bersama. Kumohon Helda, tolong aku ...," Wina terus memohon tiada henti.


"Kau pembantu kurang ajar yang banyak bicara! Harusnya kau sadar, Wina! Kau bodoh sekali! Aku sangat membenci Ellea sejak dulu, mana mungkin aku akan memberi tahu keadaannya padamu?” Helda tertawa keras.


Wina menatap Helda penuh amarah, “Kau sengaja menipuku, Helda?”


“Kalau iya, kenapa? Orang bodoh sepertimu tak mungkin akan bisa melawanku, bukan? Jangan banyak bicara, dan cepat bereskan semuanya! Bawa semua koperku ke ruang utama, jika kau masih ingin keluar hidup-hidup dari rumah ini!" Bentak Helda pada Wina.


Air mata Wina tumpah, hatinya sakit mendengar kelakuan Helda yabg tak menganggapnya seperti manusia. Wina menyesal, pernah percaya pada wanita yang ia anggap sebagai adik iparnya sendiri. Dengan hati yang hancur, Wina membawa beberapa perlengkapan milik Helda.


Wanita paruh baya itu membawa koper sambil tergopoh-gopoh. Usianya sudah mulai menua, badannya tak mampu membawa beban yang sangat berat. Namun, baik Helda maupun Donny, mereka sama sekali tak memedulikan Wina yang telah renta.


Sesampainya di ruang utama, persiapan keberangkatan keluarga Winn sudah mencapai 90 persen. Sebentar lagi, Donny dan keluarganya akan berangkat menuju landasan pesawat jet mereka. Wina sangat-sangat sakit hati pada mereka, namun ... ada keinginan terakhir yang harus Wina lakukan sebelum keluarga Donny benar-benar pergi.


"Nyonya Helda, Tuan Donny ... kalian adalah adik iparku. Aku menghormati kalian selama ini, kumohon ..., sebelum kalian pergi, izinkan aku untuk bertemu dengan anakku. Aku ingin dia kembali, aku ingin dia melihat Ayahnya, yang juga merupakan Kakak kandungmu, Tuan Donny! Tega kah kau melihat Kakakmu seperti itu? Dia sangat ingin sekali bertemu dengan anak sulungnya. Keadaannya sudah benar-benar memprihatinkan! Dia hanya tinggal menunggu ajal dan dia menginginkan satu hal, yaitu Ellea! Kakak kalian ingin bertemu dengan keponakan kalian! Tak kasihan kah kau padanya? Kumohon, beritahu aku di mana anakku?" Wina terus memohon sambil menangis.


"Kau yakin ingin bertemu dengannya?"


Wina mengangguk, "Aku sangat yakin, apapun akan aku lakukan, kumohon kau kabulkan keinginan terakhirku, kumohon ... hidup Kakakmu sudah lama menderita. Ia menyesal, ia ingin meminta maaf, ia ingin bertemu anaknya. Aku tak sanggup membiarkannya terus terluka. Aku ingin dia hidup dengan tenang. Kumohon ...,"


"Berlututlah dihadapan kita berdua! Kau harus berlutut sambil memohon padaku!" Tegas Donny.


Wina mengangkat wajahnya, haruskah ia melakukan hal itu? Haruskah ia membungkuk dan berlutut dihadapan adiknya sendiri? Gila, Donny dan Hela benar-benar sudah gila. Namun, Wina tak punya pilihan lain. Ia berharap jika ucapan Donny benar adanya.


"Baik, akan kulakukan."


Wina pun menatap mereka, lalu berlutut dihadapan Helda dan Donny. Helda dan Donny terlihat sangat puas, karena mereka sengaja melakukan hal ini pada Wina. Helda tersenyum licik, karena ia merasa memenangkan semuanya.


Beberapa saat lagi mereka akan pergi, dan tentu saja akan meninggalkan semuanya. Helda dan Donny akan terbebas dari semua yang membebaninya selama ini. Saat Wina tengah berlutut, dan Donny tersenyum licik, tiba-tiba ada yang mengagetkannya.


"Diam di tempat, dan angkat tangan kalian semua! Jangan ada yang bergerak, atau peluru akan mengenai kalian!" suara bariton itu mengagetkan mereka yang ada di rumah tersebut.


Segerombolan polisi tengah datang dan menggerebek rumah Donny. Mereka sudah tahu tentang rencana Donny. Donny dan Helda pun kaget setengah mati, karena saat mereka akan berangkat, polisi malah datang dan mengacaukan semuanya.


"ANGKAT TANGAN!" Suara itu sangat Donny kenal, dan mereka sontak melihat ke pintu utama.


Para polisi memberikan jalan untuk pria tersebut. Ialah Gavin, ialah pria yang selama ini akan membuat Donny dan Helda habis di tangannya. Gavin berjalan dengan memegang pistol legal yang dia miliki selama ini.


"T-Tuan, G-Gavin!" Donny kaget bukan main.


"Jangan coba-coba lari dariku, brengsek! Kau akan merasakan apa yang Papaku rasakan juga!" Gavin terus berjalan mendekati mereka.


Ellea turut masuk, dan melihat Ibunya tengah berlutut sambil mengangkat kedua tangannya. Ellea amat kaget dan shock, seketika itu pula, ia berlari dan berteriak, "IBU ...., Ibu ..., hentikan! Bangunlah! Kau tak pantas berlutut pada mereka!"


Sontak saja Wina menoleh ke belakang, "A-anakku, E-Ellea ..., Anakku ..." air mata itu tak bisa terbendung lagi, benar-benar menegangkan sekaligus mengharukan.


*Bersambung*