Amora

Amora
Amora part 20


"Cilla Amore, kan?" naiklah kelantai 48 dan temui Presdir, tamatlah riwayatmu anak magang, bersiaplah!" Bu Rati memperingati Cilla.


Mengingat Erick adalah sosok tegas dan tidak punya hati untuk memaafkan kesalahan sedikit saja, semua karyawan jadi takut dan tunduk.


Cilla melihat ekapresi Bu Rati menjadi ciut, apakah tadi Erick menyampaikan pesan dengan Wajah marah? ataukah Cilla melalukan kesalahan fatal sampai 2 kali mendapat peringatan untuk berhati-hati.


"Hufff, ayolah Non kamu gak ada salah kok, gak usah takut" ucapnya bermonolog sambil masuk kedalam lift. Belum sempat masuk seorang Karyawati menariknya.


"Anak magang, lift itu khusus petinggi perusahaan, jangan coba-coba masuk" ucapnya.


"Ada begitu ya?" lirihnya. Ia kemudian masuk di lift bersama dengan karyawati tadi.


"Makasih ya, sudah memberitahu saya" balasnya


"Iya, sama-sama, magang bagian apa?" tanya si Karyawati


"Saya bagian Acounting, oh iya nama saya Cilla" balas Cilla senyum sambil menekan tombol 48


"saya Limbong, tapi kenapa naik di Ruang khusus Ceo dan Presdir kalau anak Accountig?" Limbong heran.


"Saya disuruh menemui Presdir" ucapnya


"Beruntung sekali, cuma magang tapi diijinkan naik ke lantai 48. Saya bahkan sudah 3 tahun kerja disini belum menginjak lantai itu" jawab limbong


"Saya ada tugas, jadi harus ke atas" jawabnya.


Lift terbuka dan Limbong keluar sementara Cilla masih tetap naik.


***


Erick VOP


Semalam meski tidur di sofa tapi kuakui itu tidur teryaman yang kurasakan, tidur tanpa obat tidur. Biasanya aku akan tidur dengan obat resep dr Erfan (dokter pribadiku) hanya dia yang tahu apa yang kualami selama ini. Aku sangat sulit untuk tidur.


Tapi semalam, aku bahkan tidak sadar sudah tertidur. Pagi ini aku bangun seperti biasa.


"Pagi ini aku merasakan bahagia entah karena menang tender besar atau apa, akupun tak tahu. Yang kupikir sekarang adalah aku akan sarapan menunggu si bocil itu membawa sarapanku" Erick dengan semangat menuju lobi


"Dari pintu utama aku bisa melihat semua karyawan/ti sedang berjejer seperti biasa, tapi mataku tak bisa lepas dari sosok mungil itu ya dia bocil, berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya (kebiasaan pikirku) tapi apa yang membuatnya seperti terburu-buru, aku ingin sekali menegur dan mengerjainya tapi apa kata karyawan dan Karyawati nanti akhirnya aku kembali menetralisir raut wajahku kemudian tetap jalan tenang, setelah si Bocil menunduk dan mengucapkan selamat pagi dengan suara lembutnya. "Ah suara itu, aku menyukai suara indahnya itu" batinku.


Aku melirik Regan untuk mengingatkan yang kukatakan dimobil tadi.


(memberitahu jika Cilla datang ke kantor langsung temui saya).


#Lantai 48


Saya sedang memeriksa beberapa proposal dan juga dokument saat mendengar pintu diketuk.


"Hmm, masuk" Ucapku tanpa menoleh


"Maaf, Pak... Apa betul saya disuruh kesini"


"Deg...Suara itu?" ah Bocil entah pengaruh apa aku seakan merasa sangat Nervous bila dengannya tapi segera ku normalkan raut wajah ku.


"Hmm, mana sarapan yang kau buat?" jawabku sedingin mungkin.


"Ini, maaf hanya ini yang sempat kubuat, besok-besok pasti yang lebih enak lagi" balasnya dengan menyerahkan kotak abu-abu di meja depan meja kerjaku.


"Ok, baiklah...kau boleh keruanganmu sekarang" balasku tanpa meliriknya.


Kudengar pintu tertutup, kulirik kotak makanan itu "menarik" batinku


Karena memang tidak sarapan aku merasa lapar dan segera membuka menu apa yang dibuatnya.


Saat kubuka bau wanginya sudah tercium, pasti sangat enak.


"Waaaa, omlate telur+sayur, ini makanan kesukaanku" ucapku berbinar ini seakan saya mendapatkan hadiah yang tak ternilai dan rasanya sangat sangat enak menurutku.


aku terseyum punya ide untuk mendapatkan sarapan darinya tiap hari selama magang, mom and dad tidak salah pilih bocil itu