
Hari berganti, Minggu berlalu, dan bulan pun bertukar tanpa masalah berarti. Rayan terlihat bahagia karena setiap hari Ibu dan Biya memanjakkannya dengan berbagai hal yang dia suka.
Ketakutan yang sempat memenuhi relung hatinya, perlahan menguap. Lalu, hilang entah ke mana. Selama tinggal di Jakarta, Seira belum memberi izin Rayan untuk pergi keluar rumah. Akan tetapi, rencana yang disusun Ibu semalam sepertinya akan berhasil untuk hari ini.
Pagi buta indera pembau mereka sudah dimanjakan oleh aroma masakan yang menguar dari dapur. Jika setiap pagi hanya akan ada potongan sandwich juga susu, maka pagi-pagi sejak kedatangan Seira semua berganti. Di meja makan selalu terhampar berbagai macam menu yang berbeda setiap harinya.
Sesuai permintaan sang suami, pagi itu Seira hanya membuat nasi goreng dan telur mata sapi kesukaan Fatih sejak kecil. Sebenarnya, dia tidak meminta Seira memasaknya sendiri.
"Sayang, 'kan, udah Mas bilang kamu nggak usah capek-capek nyiapin semuanya."
Teguran dari Fatih membuat art di rumah itu membelalak panik. Dia sedang membersihkan dapur dan akan menyiapkan sarapan tatkala Seira tiba-tiba datang mengambil alih dapur. Matanya terasa panas ketika bersitatap dengan manik tajam milik Fatih.
Ia tertunduk gelisah, meremas kuat-kuat ujung daster yang dikenakannya. Rasa takut pun menghampiri, bayangan dipecat tanpa belas kasihan menghantui pikirannya. Seira terkekeh sambil meletakkan piring terakhir milik Rayan, melepas apron dan menyimpannya di tempat semula.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku nggak capek, kok, kalo cuma masak aja. Ini juga dibantu Bibi sama Bi Sari, aku nggak sendirian." Ia bergelayut manja di leher suaminya.
"Iya, tapi Mas nggak mau kamu kecapean." Fatih tetap saja keberatan jika Seira turun langsung ke dapur.
"Aku nggak akan kecapean kalo cuma masak. Mas tenang aja, aku masih kuat, kok, buat ngelayanin Mas," rayu Seira sembari mengedipkan mata nakal.
Fatih terhenyak, gelagapan dibuat olehnya. Matanya berpaling gugup, tangan yang melingkari pinggang Seira meremas dengan kuat. Dua orang di sana tersipu malu, diam-diam meninggalkan mereka berdua.
"Bu-bukan begitu. Mas cuma-"
"Cuma apa? Hmm?" Seira semakin berani.
Astaghfirullah, kenapa istriku jadi nakal begini? Mungkin karena udah lama nggak aku ajak jalan-jalan.
"Mas? Kenapa diem?" Seira masih melingkarkan tangan di lehernya.
"Kamu bisa nakal juga, ya." Fatih mengangkat tubuh kecil Seira, dibawanya berputar seperti dapur hanya milik berdua.
Tanpa disadari, tiga pasang mata memandang aneh pada mereka, terlebih sepasang mata bulat itu. Ia berbinar dengan garis bibir yang ikut terangkat ke atas.
"Papah, Mamah, lagi apa? Kenapa main putar-putar? Rayan mau putar-putar, Rayan mau putar-putar!" serunya sembari berlari menubruk tubuh keduanya.
"Mas!" Seira berbisik sembari memukul kedua pundak Fatih. Ia malu ketika melihat Ibu dan Biya tersenyum-senyum berdua. Lagipula Rayan ada di bawah mereka, merengek minta berputar-putar seperti yang mereka lakukan tadi.
Gelak tawa bocah itu pecah ketika Fatih membawanya berputar. Seira menunduk menyembunyikan rona merah di pipi sambil menyelipkan rambut pada daun telinga. Pagi yang menyenangkan, menyegarkan hati tua Ibu. Teringat masa mudanya dulu, disaat ayah Fatih masih berada di dekat mereka.
*****
"Kak, aku sama Ibu mau ajak Rayan ke mal, ya. Kasihan dia di rumah terus, di sana dia bisa main sama anak yang lainnya juga. Boleh, ya, Kak? Please!" mohon Biya sesaat mereka duduk di taman depan rumah menikmati pagi akhir pekan.
Senyum yang diukir bibirnya perlahan hilang berganti rasa cemas. Seira diam seketika saja disaat Biya meminta izin membawa Rayan pergi bermain. Remaja itu menunggu jawaban dengan cemas, hampir setiap Minggu ia meminta izin Seira untuk mengajak keponakannya itu bermain di mal.
"Iya, Nak. Kalian udah sebulan lebih di sini, tapi Ibu sama Biya belum pernah ajak Rayan ke mana-mana," timpal Ibu dari tepi kolam ikan menemani Rayan menabur potongan roti.
"Tapi-"
Sentuhan Fatih di tangan sebenarnya untuk menguatkan Seira agar ia tak ragu mengambil keputusan. Fatih mengangguk disaat pandang mereka bertemu. Bukan ragu yang dirasakan Seira, tapi takut ada hal-hal yang tak terduga di luar sana yang akan mengganggu kenyamanan anaknya.
Rayan menoleh memperhatikan riak wajah sang Mamah, ia beranjak dan berlari mendekati orang tuanya, memeluk Seira sambil menjatuhkan kepala di pangkuannya. Merasakan dekapan buah hati, Seira menoleh sambil mengusap rambutnya. Ia mendongak, menatap berani pada manik sang Mamah.
"Mamah nggak usah cemas. 'Kan, ada Nenek sama Aunty yang akan jagain Rayan. Rayan pasti baik-baik aja, Rayan janji sama Mamah nggak akan kenapa-napa." Kepala bocah itu menggeleng pelan.
"Iya, sayang. Biarin aja mereka main, nanti Mas suruh orang buat jaga mereka kalo kamu cemas." Fatih ikut berbisik meyakinkan sang istri.
Melihat mata keduanya, Seira melemah. Menyingkirkan ego juga menepis rasa takut yang selama ini bersarang di hatinya. Ia menghela napas mencoba menumbuhkan keyakinan pada hati yang selama ini ringkih.
"Ya udah, tapi inget pesan Mamah. Rayan jangan berdekatan sama orang yang nggak Rayan kenal, tetap sama Nenek sama Aunty, ya. Rayan mau janji sama Mamah?" ucap Seira.
Ia mengangkat jari kelingkingnya sambil tersenyum. Kepala bocah itu mengangguk mantap, menautkan jari kelingkingnya pada milik sang Mamah.
"Makasih, Mamah." Rayan kembali memeluk Seira sebelum menghampiri Ibu, Bi Sari dan Biya yang telah bersiap-siap.
Fatih merangkul bahu Seira, faham betul apa yang ditakutkan istrinya itu jika Rayan berada di luar rumah.
"Dadah, Mamah! Dadah, Papah!" Ia melambaikan tangan membalas lambaian sang anak.
Dengan berat hati melepas kepergian mereka, tapi Seira mencoba percaya. Terlebih, suaminya itu meminta seseorang untuk mengawasi setiap pergerakan mereka.
"Kamu jangan cemas, tenang. Semuanya akan baik-baik saja, ya?" ucapnya sambil menarik kepala Seira dalam dekapan.
Mau apa lagi? Ia tak boleh terus terkungkung dalam rasa takut. Lagipula, Zafran tidak tahu jika ia memiliki anak dari Seira.
Di sepanjang perjalanan, Rayan kembali berceloteh. Bertanya ini dan itu, tapi Biya tak lelah menanggapi. Ibu merasa bahagia, hidupnya menjadi penuh warna sejak kehadiran Rayan di rumah itu.
"Wah, apa ini yang namanya mal? Lebih besar dari rumah Nenek," seru Rayan begitu tiba di mal terbesar di bilangan kota Jakarta.
"Iya, ini mal. Ini bukan rumah, sayang. Ini semacam pasar, tapi di dalam gedung," jawab Biya penuh kehati-hatian.
Tahu betul sifat Rayan, dia tak akan berhenti bertanya jika mendapat jawaban yang tak memuaskan hatinya. Mereka melewati pintu utama, berjalan bersama para pengunjung yang lain.
Oleh karena terlalu bersemangat, Rayan berlarian ke sana kemari. Biya mengejar di belakangnya, dan ....
Brugh!
"Ugh!"
"Rayan!?"
Bocah itu tak sengaja menabrak seseorang, seorang laki-laki yang mengenakan seragam petugas kebersihan di mal. Rayan terjatuh begitu pula dengan orang tersebut. Ia menghampirinya, tanpa segan berdiri di hadapan orang asing itu.
"Om, nggak apa-apa? Maaf, aku nggak sengaja," ucapnya sopan.
Orang itu tersenyum, perlahan mengangkat wajah menatap manik bulat di hadapan. Senyum itu raib begitu wajah Rayan memenuhi kornea matanya.
"Rayan? Maaf, Pak. Keponakan saya nggak sengaja. Sekali lagi, saya minta maaf."
Biya datang dan cepat-cepat membawa Rayan pergi dari sana.
"Tu-tunggu!"
Akan tetapi, mereka telah menghilang ditelan para pengunjung.
"Kenapa wajah anak itu nggak asing, ya?" Dia bergumam lirih.