
"Apa maksud kamu ngomong kayak gitu di depan mereka?" sentak Hendra begitu Fatih tiba di sebuah tempat yang tak terjangkau suaranya oleh Nisa.
"Ekhem." Fatih berdehem, kedua tangannya ia simpan di dalam saku. Tertawa sambil menatap arah lain. "Nggak ada, karena dari awal aku minta kamu ikut aku, kan, buat bicara? Tapi kamu malah cuek." Fatih tersenyum miring.
Hendra menghela napas panjang, menatap jengah pada suami Seira, wanita yang sampai saat ini terus bersemayam di hatinya. Laki-laki bergelar dokter itu hanya diam tak dapat menyahut. Hanya kedua matanya saja yang menyalang.
Fatih menghela napas sebelum kembali berbicara, "Baiklah, langsung aja. Apa maksud kamu nakut-nakutin anakku?" Wajah tampannya tampak serius.
Menunggu dengan mata yang tak berkedip dari manik kehitaman di depannya. Hendra masih diam, tak bereaksi apapun terhadap pertanyaan Fatih. Berselang, dia tertawa sendiri.
"Anakku? Kamu yakin dia anak kamu, haha? Jangan mengaku-ngaku kamu," ucap Hendra merasa lucu mendengar ucapan Fatih.
Namun, laki-laki itu terlihat biasa saja, tidak tersinggung atau merasa kecil hati. Rayan memang bukan anak kandungnya, tapi dia tidak mempermasalahkan statusnya yang hanya sebagai ayah sambung bagi anak itu.
"Oh, jelas aku mengakui karena anak itu pun mengakuinya. Dengar, aku beri peringatan sekali ini saja. Jangan pernah mengganggu keluargaku, kalo kamu masih mau gelar kehormatan itu!" tegas Fatih menuding Hendra tanpa segan dan ragu.
Ia berbalik, tapi suara Hendra selanjutnya seolah-olah menantang ancaman Fatih.
"Kamu itu cuma ayah sambung anak itu, bukan ayah kandungnya. Ada yang lebih berhak di posisi itu daripada kamu. Aku yakin, sebagai orang pendidikan kamu tahu itu. Mereka itu ayah dan anak, bagaimanapun kerasnya kamu menolak. Mereka tetap memiliki ikatan darah dan anak itu harus tahu siapa ayah kandungnya," ucap Hendra disusul senyum sinis melihat langkah Fatih berhenti.
Suami Seira itu tersenyum sambil menunduk, ia berbalik dan kembali mendekati Hendra. Menepuk-nepuk pundak dokter itu beberapa kali sebelum menatap daun-daun yang berguguran.
"Aku nggak nolak soal status kandung mereka, aku juga nggak ngelarang anak itu untuk tahu siapa ayahnya, tapi sebagai orang pendidikan dan ahli dalam kesehatan baik fisik maupun psikis, apakah pantas seseorang bergelar dokter seperti kamu ini melakukan hal tadi? Sampai anak itu ketakutan."
Hendra mendengus, "Kalian berlebihan. Bilang aja kamu takut kehilangan Seira, kan? Sampai-sampai nggak mau ngenalin anak itu sama ayahnya. Egois!"
Fatih menatapnya dalam diam. Menelisik wajah bulat di hadapannya yang tampak berisi.
"Kami sedang mempersiapkan mentalnya agar dia dapat menerima kenyataan ini. Kami nggak mau melakukannya dengan tiba-tiba, dan lagi kamu itu cuma orang asing yang nggak seharusnya ikut campur urusan kami. Urus aja hatimu itu, jangan pernah mengharap pada sesuatu yang nggak akan pernah bisa kamu miliki." Fatih tersenyum dikala Hendra mendongak dengan mata yang membelalak.
"Jangan kira aku nggak tahu siapa dan bagaimana kamu. Aku akan selalu mencari tahu dan mengawasi orang-orang yang terlibat masa lalu dengan istriku. Ingat, Dokter. Kamu itu udah punya istri dan anak juga, kenapa masih menyimpan nama lain di hati kamu? Lihat aja mereka, orang-orang yang harusnya kamu urus." Fatih berdecak sambil menggelengkan kepala.
Sementara Hendra termangu seperti orang bodoh yang sedang dikuliti. Fatih menoleh pada istri Hendra dan anaknya.
"Kasihan perempuan itu, kalo dia tahu suaminya mencintai wanita lain dan berstatus istri orang, sudah aku pastikan bagaimana hatinya hancur berkeping-keping. Juga anak itu, kalo dia tahu kelakukan ayahnya apa mungkin kamu akan tetap menjadi cinta pertama di hatinya?" sarkas Fatih.
Dokter Hendra semakin gelisah, dia sudah salah berurusan dengan Fatih. Ancamannya yang tadi pastilah tidak main-main. Fatih dapat melakukan apapun yang dia mau. Rasa takut perlahan hadir mengisi hatinya, membuat Hendra menatap cemas pada sang istri terlebih saat dia melihat Seira tengah duduk bersamanya.
Fatih melirik sekilas dan melihat menemukan kecemasan di wajahnya.
Hendra meliriknya, tapi Fatih sama sekali tak mengalihkan pandangan dari Seira. Wanita itu cantik, apalagi saat dia marah karena membela keluarga.
"Mereka akan saling mengerti sebagai sesama wanita dan sesama Ibu. Kamu juga punya anak, Dokter. Gimana perasaan kamu kalo ada orang yang membuatnya trauma seperti anak kami?" Fatih menatap lekat-lekat wajah Hendra yang memucat.
"Lupakan apa yang ada di hati kamu, karena semua itu sia-sia. Fokus aja sama keluarga kamu, dan jangan sekali-kali lagi menggangu ketenangan keluargaku terlebih anak dan istriku. Aku nggak akan segan melepas gelar kehormatan yang kamu banggakan itu. Camkan itu, Dokter!" tandas Fatih sekali lagi menuding wajah Hendra yang dibanjiri keringat.
Fatih berbalik, tepat saat Seira juga berdiri dari duduknya. Wanita itu mengusap kepala anak mereka sambil tersenyum sebelum berbalik menunggu sang suami. Pandangannya menajam dan mengancam ketika jatuh pada mata Hendra.
Fatih merangkul pinggang Seira seraya mengajaknya berjalan meninggalkan taman. Di bawah tatapan mata Hendra yang memanas, juga Nisa yang kecewa, keduanya terus melangkah maju tanpa peduli.
"Udah ngomongnya?" tanya Fatih.
Seira mengangguk, lalu bertanya, "Gimana sama dia, Mas? Dia nggak akan ganggu Rayan lagi, kan?" Cemas, itulah yang ada di hati Seira.
Fatih tersenyum, menarik tubuh Seira semakin merapat dengan tubuhnya.
"Kamu tenang aja, Mas yakin dia nggak akan berani lagi ganggu Rayan. Percaya sama Mas, ya. Tenangin hati kamu," ucap Fatih sembari menatap wajah Seira yang dari mana pun pastilah terlihat manis dan cantik.
Wanita itu mengangguk, sedikit tenang setelah berbicara dengan mereka. Semoga setelah ini semuanya akan baik-baik saja sampai waktunya tiba. Waktu di mana Rayan harus mengetahui semuanya.
Di taman, Hendra menatap sayu istri dan anaknya. Hatinya meragu untuk melangkah ke arah mereka, apa yang sebenarnya dibicarakan Seira pada Nisa?
Wanita di tepi danau itu melengos ketika mata mereka berserobok. Seolah-olah enggan melihat laki-laki yang masih mematung di bawah sebuah pohon tanjung itu. Hendra mereguk ludah susah payah, seperti terhalang duri serasa sakit menusuk-nusuk.
Nisa beranjak, menggandeng tangan anak mereka meninggalkan taman sekaligus laki-laki yang selama lima tahun lebih ini menjadi suaminya. Hendra menggeleng, berlari cepat menuruni bukit mengejar langkah cepat Nisa.
"Ibu! Ayah masih di sana, kenapa kita pergi? Kita tunggu Ayah dulu, Bu," ucap anak mereka yang berjalan terseret.
"Nisa! Tunggu! Jangan pergi, sayang!"
Nisa tak hirau, terus berjalan cepat tak menunggu langkah Hendra mengejar.
"Nisa!" Hendra menarik tangan sang istri, menahannya agar dia tidak berlari lagi.
Wanita itu berpaling, enggan bersitatap dengan suaminya.