
πππππππ
Hujan yang tahu anaknya sudah bangun dari tidur akhirnya mengajak Sam untuk jalan-jalan sebentar ke taman jajan, ia akan menghabiskan waktu setengah harinya itu bersama putra semata wayangnya tentu dengan pengawasan ketat. Ia yang biasa pergi pagi dan pulang sore tentu jarang sekali menikmati makan siang bersama.
"Dede mahu itu, boleh?" pinta Sam.
"Ok, tapi cukup saus tomat, kecap dan Mayones ya" ujar Hujan saat Baby bearnya itu meminta sosis bakar.
Sekaya apapun keluarga Rahardian, mereka tak pernah malu untuk menikmati makanan rumahan atau jajanan kekinian meski itu berada di pinggir jalan asal halal dan masih layak untuk masuk kedalam perut mereka.
Hujan memesan dua porsi untuknya dan juga untuk Samudera, keduanya menikmati makanan sambil duduk di sebuah ayunan.
"Dede suka jalan-jalan sama Moy?"
"Cuka banak banak" jawabnya dengan mulut yang sudah berantakan dengan kecap juga mayones.
"Moy jarang main sama dede, maafin Moy, mau?" pinta Hujan dengan perasaan penuh rasa bersalah.
"Mahu, Moy tekoyah dede ugha tekoyah"
Hujan mengusap kepala putranya dengan begitu lembut, rasa sayangnya semua berlimpah pada Sam saat putri kecilnya pergi padahal belum sempat menyapa dunia.
Hal itu yang membuat ia berpikir ulang untuk kembali hamil rasa takutnya bagai menambah rasa trauma yang pernah ada, di lecehkan lalu keguguran.
Air yang memang tak pernah menuntut apapun bukan berarti Hujan tak tahu jika suaminya itu seringkali melempar kode ingin memiliki beberapa keturunan lagi. Tapi, pria itu cukup paham untuk tidak memintanya secara langsung. Hujan yang selama ini memakai alat kontrasepsi pun belum di minta untuk melepasnya.
"PapAy cini nda?" tanya Sam setelah menegak sedikit air putih didalam botol.
"PapAy sibuk, mungkin pulang malam"
"Napa?" tanya Sam lagi, ia tak pernah cukup bertanya sekali.
"Tadi papAy anter dede sekolah dulu, besok berangkat sama Moy ya?" ucap Hujan yang dibalas anggukan kepala putranya.
"Becok tekoyah agih?"
"Iya, sekolahnya hanya empat hari" jawab Hujan.
Hari yang beranjak sore akhirnya membuat pasangan ibu dan anak itu pulang karna Air menelepon sudah arah pulang karena malam nanti akan pergi ke luar kota.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit keduanya sampai dan langsung masuk kedalam kamar setelah menyapa Melisa yang kebetulan ada di ruang tamu.
Cek lek.
Samudera membuka pintu sedikit keras saat tahu papAynya sudah berada di dalam kamar.
"Pay, dede puwang oey" teriaknya senang dengan mengangkat tangan sambil berlari.
"PapAy juga udah pulang nih, kangen dede ih" balas Air sambil menggendong anak kesayangannya, putra pertama yang ia dapat setelah empat tahun menikah dengan Hujan.
"Napa puwang? udah teleja nya" tanya Sam lagi, akan begitu banyak pertanyaan dalam otaknya.
"Iyyaah" jawab Sam santai namun membuat kedua oorang tuanya terkekeh.
Air yang sudah mengganti pakaiaannya langsung ikut bergabung lagi dengan anak istrinya di atas tempat tidur, entah apa yang di ceritakan Samudera sampai harus membuat Hujan tertawa terpingkal pingkal.
"Ada apa sih?" tanya Air penasaran.
"Dede pusing katanya pas di tanya nama, apalagi saat perkenalan diri" sahut Hujan sambil mengusap ujung matanya yang terdapat cairan bening.
"Iya, dede di tanya Miss malah jawab namanya Dede, kayanya kita lupa ajarin itu deh, Moy" ucap Air yang ingat juga dengan kejadian itu.
"Lain kali kalau di tanya nama, dede jawab nama asli dede ya, gak boleh sebut dede apalagi tutut jajah nanti temen temen jadi bingung, ok" pesan Hujan.
"Mang, nama dede capa?" tanya Sam, ia selalu lupa dengan namanya sendiri karna tak terbiasa.
"SAMUDERA ERRAINLY RAHARDIAN WIJAYA" sebut Air pelan namun penuh penegasan.
"Udra lili ian taya" ulangnya yang langsung membuat Air dan Hujan gemas lalu tertawa bersama tak lupa kedua mencium pipi Sam dikanan dan kiri.
"Salah , sayang. Ulang ya dengerin Moy. SAMUDERA ERRAINLY RAHARDIAN WIJAYA"
.
.
.
.
.
.
.
.
Ya awoh.. mak othol acih dede nama cucah benel ih.. mana banak banak banet oey.
πππππππππ
Alhamdulillah disalahin π€£π€£
Fix ya dapet cium πππππ π
like komennya yuk ramaikan.