
ππππππππππ
"Loh, kopernya mana?" seru Air yang kebingungan, ia mengedarkan pandangan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa Hujan udah nunggu di bawah" gumamnya lagi.
Secepat kilat ia langsung keluar dari kamar menuju lantai bawah yang kemungkinan ada anak istrinya disana, Air menuruni anak tangga dengan tergesa sambil memanggil nama pemilik hatinya.
"Ja.. Jan Hujan"
"De.. dede Sam."
Langkahnya berhenti saat masuk keruang makan, ada kedua orang tuanya yang sedang mengobrol santai sambil berpelukan seperti biasa, hal yang tak aneh bagi anak dan menantunya.
"Hujan mana, Mah?" tanya Air pada Melisa.
"Belom turun" jawab Reza.
"Tapi di atas gak ada, dikamar juga gak ada" timpalnya pada sang papa.
"Belum turun, kak. Tuh buktinya masih terang" jawab Reza sambil melirik ke arah luar jendela.
"Bukan hujan itu, tapi Hujan istri aku!"
Reza hanya tertawa kecil, ia bangun dari duduk kemudian melengos pergi bersama istrinya yang nampak bingung dengan kedua pria tampan di depannya itu.
"Kalian kenapa sih?" tanya Melisa, ia menatap anak dan suaminya secara bergantian.
"Biar dia suruh cari istrinya sendiri" kata Reza dengan sorot mata kesal pada si sulung.
Sikap Reza yang tak biasa itu pun membuat Air semakin frustasi dan pusing sendiri.
"Mas Reza kenapa? apa kakak buat kesalahan" tanya sang istri saat keduanya sudah menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Hem, iya"
"Yakin, siapa yang bilang?" tanyanya lagi saat sampai di depan pintu.
Pasukan GAJAH.
****
Air yang panik dan khawatir terus saja menghubungi Hujan lewat sambungan telepon tapi tak sekalipun wanita itu mengangkatnya, bahkan pesan yang di kirim Air pun belum satu pun terbaca dan itu membuatnya sungguh sangat kesal.
"Pergi sendiri, pulang juga kamu harus sendiri!" cetusnya sudah terlanjur geram.
"Tuan akan makan siang di kantor atau di luar?' tanya Daniel sang sekertaris.
"Di kantor saja, pesankan saya makan apa saja terserah kamu" jawab Air dengan mata tetap fokus pada layar laptop.
"Baik, Tuan" sahut Daniel sambil berpamitan ke luar dari ruangan sang direktur Rahardian Gruop.
Air menghela nafas, ia buka kembali ponselnya yang sengaja ia letakan di dalam laci, wajahnya semakin murung saat tak ada satu pun balasan pesan dari Hujan meski wanita itu sudah membaca puluhan pesan yang ia kirim sedari pagi.
"Sejahat ini kamu sama aku, sampe cuekin aku kaya gini" lirihnya sedih apalagi saat mengingat Baby bear yang biasanya sering melakukan panggilan telepon lewat video call.
Air lalu membuka galeri di ponselnya, ia perhatikan satu demi satu foto Samudera mulai dari menit pertama ia lahir sampai tadi malam sebelum Baby Bearnya itu tidur, Air memang paling rajin mengabadikan momen sang putra setiap hari terutama saat dirumah karna begitu banyak tingkah anaknya yang menggemaskan dan tentu sayang jika di lewatkan begitu saja.
Ada senyum yang menghiasi wajah sedihnya kala ia memutar video Samudera saat ulang tahun pertamanya tempo hari, wajah tampan yang begitu lucu bertingkah sangat antusias saat melihat kue gajah diatas meja, bahkan Samudera sempat merengek saat ia tak bisa meniup lilinnya sampai padam, alhasil semua anggota keluargalah yang meniupnya secara berbarengan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Dede tanya sama MiMoy ya, kenapa tinggalin PapAy sendiri. Kalau marah harusnya bilang karna PapAy gak punya BASKOM AJAIB!!!!
ππππππππ
Akibat belom kirim sajen lo, kak π€£π€£π€£
Puas???! πππ
Like komennya yuk ramaikan.