
Binar membuka pintu kamar Andra, kedua matanya menangkap sosok ketiga wajah yang tidur dengan pulas dengan Abra yang berada di tengah, sedangkan Adam dan Andra menghimpit tubuh Abra.
Hati istri mana yang tidak senang melihat suaminya begitu menyayangi kedua putranya tanpa membedakan mereka, apa lagi dengan anak wanita masa lalunya, yang tentunya pernah mengisi hari-harinya sebelum dirinya.
Binar mendekat, dia mengusap kening Andra, lalu mengecupnya. "Maafkan tante, Sayang."
Dia menarik selimutnya sampai menutupi sampai ke dadanya, lalu beralih pada putranya Abra, ia hanya merapikan selimutnya.
Dia pun memutari ranjangnya, menatap suaminya. Pria yang sangat ia cintai begitu dalam. Ia pun menarik selimutnya sampai ke dadanya dan mengecup keningnya.
"Emmm...."
"Sayang,"
Adam mengalungkan kedua lengannya ke leher Binar. Ia sangat senang merasakan sebuah kecupan di keningnya, saat pintu terbuka, dia pun berpura-pura tidur. Berperan sebagi seorang ayah membuatnya harus berjaga, takut Andra menimpa tubuh Abra atau Andra takut terjatuh.
"Aku membangunkan mu?"
"Tidak, sejak tadi aku berjaga,"
"Sayang, aku merasa sesak," ucap Binar. Adam melepaskan pelukannya dan Binar duduk dengan tegak dan bernafas lega.
Adam beringsut duduk, dia kembali memeluk Binar. "Aku ingin tidur dengan mu,"
"Jangan manja," seru Binar. Dari awal rindu, lalu melakukannya.
"Kau tidak kasian pada suami mu yang berjaga, ini sudah jam berapa? besok kan aku kerja," manja Adam.
Binar merasa kasihan, benar juga besok suaminya akan kerja. Ia tidak mau suaminya sampai kelelahan.
"Baiklah,"
Binar tidur di samping Adam, untungnya Adam membelikan ranjang yang berukuran besar sehingga muat untuk tidur berlima, dan Adam, pria itu pun memeluk Binar. Sebelah kakinya melingkar di atas perut Binar, sedangkan sebelah tangannya memeluk leher Binar dan kepalanya, ia tenggelamkan di leher Binar.
"Nyaman," ujar Adam. Seketika ia merasa lelahnya langsung hilang begitu saja.
Binar mengelus kepala Adam, ternyata pria itu menepati janjinya dan tidak melakukan sesuatu, sampai terdengar dengkuran halus.
***
Binar terbangun lebih awal, dia melepaskan lilitan Adam pada tubuhnya, perlahan ia turun dan memperbaiki selimut suami serta anaknya, tepat jam 4 pagi ia harus mempersiapkan sarapan pagi, sekalipun di rumahnya ada beberapa Art, tapi kalau masalah Adam dan Abra, ia ingin melakukannya sendiri.
Binar berkutat di dapur, dia membersihkan wortel, kentang dan sayuran lainnya. Menu pagi ini Nasi Goreng dan sandwich, tapi hari ini ia merasa lapar dan ingin makan nasi seperti biasa dan sup, membayangkannya saja membuat air liurnya menetes.
"Nyonya," sapa Bi Lia.
"Sudah selesai,"
"Iya, aku akan membangunkan mereka," Binar membuka celemek di tubuhnya, lalu menaruhnya di tempat pojokan, mengaitkannya pada kaitan pakaian.
Binar membuka pintu kamar Andra, bocah itu melihat kanan-kiri, sedangkan Abra masih tidur pulas dan Adam tidak terlihat lagi.
"Sayang kau sudah bangun," sapa Binar. "Butuh sesuatu?"
"Tidak!" ketus Andra. "Mulai sekarang jangan memasuki kamar ku dengan sembarangan, aku tidak suka privasi ku di ganggu orang lain."
"Baiklah, aku tidak akan masuk tanpa seijin mu."
Binar mengambil Abra yang masih tertidur lelap. "Abra juga tidak akan mengganggu mu atau memasuki kamar mu," imbuhnya lagi.
Andra mencengkram seprainya. "Biarkan Abra tetap masuk,"
"Kau tidak berniat sesuatu kan? aku tahu kau tidak menyukai Abra."
"Dia .... "
"Sayang, aku mau ke kantor. Siapkan baju ku," ucap Adam. Dia malah bertelanjang dada dan menggunakan handuk sampai di atas pinggangnya.
"Baiklah," ucap Binar. Prianya memang tidak akan pernah lepas darinya. Dia pun begitu tak ingin melepaskan Adam pada Ayu.
"Andra, sarapan sudah siap. Bi Lia akan kesini sebentar lagi," ucap Binar. Seketika membuat kening Adam berkerut.
"Kenapa? ada apa?" tanya Adam sambil mengikuti Binar dari belakang. "Apa Andra mengatakan sesuatu lagi?"
"Sudahlah, masalah Andra dan diriku, aku pasti membereskannya."
"Apa kau sudah menghubungi Mama Mahira? karena aku sibuk aku sampai lupa menanyakannya, dia sudah sampai apa belum?"
"Dia sudah sampai sayang."
Binar menaruh tubuh Abra di atas ranjang, di sekeliling tubuhnya, ia berikan pembatas bantal agar tubuh Abra tidak jatuh ke lantai. Dia pun beralih pada lemari dan menyiapkan semua keperluannya.
Binar memakaikan kemeja dasi, jam tangan dan menyisir rambut suaminya, lalu memakaikan parfum. Anehnya lagi, suaminya sangat manja dan ingin Binar yang selalu melakukan apa pun.
"Sudah," Binar mengelus dada bidang Adam, dan Adam memberikan sebuah ciuman dari bibirnya.
"Terima kasih sayang,"
"Ayo turun,"
Adam dan Binar saling bergandengan tangan, mereka menuruni anak tangga satu per satu, hingga sampai di meja makan. Kedua orang itu saling tatap melihat seorang wanita yang tengah duduk dengan santai dan memakan sandwich.
"Dia lagi," ucap Adam mendengus kesal. Rahangnya mengeras, seketika wajah suramnya keluar begitu saja.