
3 hari kemudian.
Selama tiga hari itu Adam membagi waktunya, sepulang kantor dia akan menemui Andra lebih dulu dan membawakan makanan kesukaan Andra sekaligus beberapa mainan, tepat sore hari dia akan pulang menghabiskan waktu bersama Binar dan Andra pun selama tiga hari tidak mengatakan apa pun. Andra menjadi anak penurut, sedangkan Ayu dia tidak banyak menuntut dia hanya berusaha menerimanya, meskipun terasa sakit.
Tepat hari ini, Andra telah di perbolehkan pulang dan Adam membawanya ke rumah utama. Sedangkan di kediaman utama, Binar tampak sibuk membuatkan kue cokelat, tentunya dia meminta Papa Ardey dan Mama Mahira hadir untuk menyambut Andra, meskipun ada sedikit pemaksaan dari Binar.
"Binar, ada Bi Lia dan yang lainnya, buat apa kamu turun tangan sendiri?" tanya Mama Mahira, ia tidak suka dengan Binar yang menyambut kedatangan Andra. Kalau bukan karena menantu kesayangannya, ia tidak akan mau.
"Ma, anggap saja ini buatan seorang ibu untuk anaknya," Binar menaruh kue di loyang itu, lalu memasukkannya ke dalam oven.
Ia merasa senang, ini adalah perjuangannya untuk membuat Andra menerimanya.
"Kau sangat baik, tapi aku tidak percaya kalau anak itu tidak di racuni oleh ibunya."
"Maka tugas kita untuk menghapusnya Ma,"
Mama Mahira memutar kedua bola matanya sambil mengipas tubuhnya dengan kipas kecil di tangannya, padahal udara di dapur tidak terlalu panas, mungkin karena panas hati dan otaknya sehingga ia butuh angin kecil.
"Sudahlah, Mama mau menemani Abra." Mama Mahira bangkit dari tempat duduk di meja makan. Sejak tadi dia tidak berniat membantu Binar karena tahu menyambut Andra.
Binar menggelengkan kepalanya. "Aku akan membuat Mama menyukai Andra."
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil memasuki area halaman utama, Binar tampak bahagia melihat seseorang yang ia sambut, ia ingin menambah kesan baik untuk putra pertamanya. Dia pun berlari kecil ke arah parkiran mobil.
"Mas," sapa Binar.
Adam tersenyum dan mencium keningnya. "Ayo kita jemput Andra," ucap Adam. Dia pun membukakan pintu mobil belakang, tak lupa dia menurunkan kursi roda di bagian belakang mobil.
"Pelan-pelan sayang," ucap Binar dengan lembut. Binar membantu tubuh Andra duduk di kursi roda itu. Sedangkan Ayu, diam saja memperhatikan interaksi mereka.
Senyuman mu tidak akan bertahan lama Binar,
Binar mendorong kursi roda yang di duduki oleh Andra, di sampingnya ada Adam yang tersenyum senang. Akhirnya Binar kembali dan ia berhasil membawa Andra, ia tidak bisa membayangkan betapa dirinya akan bahagia ke depannya. Membayangkan keluarga kecil bersama Binar.
Nadira menyenggol lengan Farhan, saudara kembarnya itu. Sejujurnya ia kurang setuju dengan kedatangan Andra. Bukannya ia tidak suka, tapi ia takut anak itu membuat ulah karena Ayu adalah ibunya Andra. Ia belum percaya kalau Ayu benar-benar menerima hubungan kakaknya dengan kakak iparnya.
"Andra, biar Mama yang mengantar mu masuk," tawar Binar.
"Tidak perlu, aku mau Papa dan Mama yang mengantar ku masuk," ucap Andra dengan dingin tanpa melihat wajah Binar yang tampak kecewa.
"An ..."
"Ya sudah," ucap Binar melepaskan pegangan kursi roda itu. Dia mundur ke samping dan Ayu lekas mengambil alih.
"Mas, di mana kamar Andra."
"Binar yang akan menunjukkannya," ucap Adam. Dia ingin Binar ikut mengantarkan Adam karena ia tahu Binarlah yang menyiapkan kamar itu.
"Ayo, Mama antar."
Ayu mendorong kursi roda Andra, mengekori Binar sedangkan Adam berada di belakangnya.
"Ini kamar mu Andra,"
Ayu menyapu setiap sudut ruangan itu, sebuah gambar Spiderman di dinding tepat di depan ranjang Andra dan warna dinding yang berwarna biru. Sebuah lemari dan meja belajar di samping ranjang yang berukuran kecil, cukup untuk Andra seorang. Kamar yang di tempati oleh putranya sangat layak dan inilah yang ia harapkan, kehidupan Andra yang layak.
"Kau suka sayang, Mama khusus menyiapkan semua ini untuk mu,"
Andra menetralkan wajahnya, sejujurnya ia suka dengan warna dan dinding bergambar Spiderman itu, tapi karena Binar yang menyiapkannya, ia jadi tidak suka.
"Aku lelah, aku ingin beristirahat."
"Ya sudah, Papa bantu," Adam dengan sigap menggendong tubuh Andra, lalu memindahkannya ke kasur empuk itu.
"Ya sudah, Andra beristirahatlah. Kalau butuh sesuatu bilang pada Bi Lia, dia akan menemani Andra di sini," ucap Adam.
Andra mengangguk, Adam pun memberikan kecupan singkat di keningnya, lalu Ayu. Sementara Binar hanya menatap dari jauh, ia tidak berani memberikan kecupan itu karena takut Andra semakin membencinya.