
Ayse benar-benar takut melihat wajah sang putra, wajahnya benar-benar membuat Ayse tidak berani untuk mendekat. Putranya yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita, kini sekalinya dapat dan akan menikah. Harus di pisahkan oleh maut, baru saja ia bisa melihat sang putra bahagia dan tersenyum bahagia. Tapi kini, semua itu hilang tak berbekas.
Hanya tatapan dingin dan amarah, yang kini menyelimuti wajah Agra. Ayse memegang dadanya, sakit. Ia tak sanggup membayangkan ke depannya. Seandainya yang membuka pintu itu dirinya, mungkin sang putra masih bisa tersenyum.
Ayse menangis, menyadarkan Agra....