
“Apa keuntunganku jika bertarung melawanmu.”
“Aku akan memberikan hiburan terbaik untukmu, dan tentu saja… Aku akan membuatmu serius.”
“(tersenyum) Hahahaha, menarik.” Sudah lama aku tak merasakan hal seperti ini, sesuatu yang bisa membakar semangatku. “Aku harap kau cukup kuat, setidaknya lebih kuat dari musuh yang pernah aku lawan.”
“Kalau begitu, besok pagi kita akan berduel di coloseum yang ada dikerajaan ini. Bagaimana, apa kau setuju?”
“Ya, itu tidak masalah. Kalau begitu, aku munggumu untuk pertarungan besok.”
“Aku harap kau kuat seperti yang dirumorkan, raja terkuat.” Aku pergi meninggalkannya.
Beberapa menit setelah itu.
“Itu dia!!”
“Huh, Emi, Ai, ada apa?” Mereka bergegas ke arahku, dan sepertinya dia sedang mencariku.
“Sayang, apa kau menerima tantangan duel dari raja Yunas.”
“Huh, ya. Apa ada masalah?”
Emilia terlihat cukup marah. “Hiroaki! Ikut kami, cepat!”
“B-baik.”
Penginapan, di dalam kamar.
“Cepat duduk!”
“B-baik!” Aku duduk, karena tidak ada kursi aku terpaksa duduk (Seiza) di lantai.
“Apa kau tau kenapa aku marah.”
“Hmm. Karena aku menerima duelnya?”
“Kalau kau sudah tau kenapa kau masih menerimanya!”
“Eh, dia bilang akan memberikan hiburan terbaik untukku jika aku menerima duelnya, dan karena terbawa suasana aku jadi menerimanya.”
“Kau itu. Kita datang kemari untuk rapat, bukan untuk berduel. HIROAKi, jangan mengalihkan pandanganmu, lihat aku!!”
“M-MAAF.” Emilia yang marah, terlihat menakutkan.
Beberapa lama setelah diceramahi habis-habisan.
“Sebagai hukuman karena tidak mendengarkan apa yang aku katakan, malam ini kau tidur diluar.”
“Haa, baik.” Aku hanya bisa menghela nafas, dan perlahan keluar kamar.
Beberapa lama setelah itu, di sebuah tempat.
“Shura, turun disitu saja.”
Groaaarrr
Sebuah bukit yang ada di dekat kerajaan Drenan. “Sepertinya tempat ini cukup nyaman.” Setidaknya disini aku bisa menikmati ketenangan dan kedamaian. Tapi… “Haa. sudah kuduga, disini cukup dingin.” Suhu disini sangat berbeda dengan di kerajaan, setidaknya di kerajaan cukup hangat, sedangka disini sangat dingin.
“Shura, bisa kau membuat perapian disini?”
Groaaarr.
Shura menyemburkan api dari mulutnya, dan mulai membakar. “Stopp!!!” Shura berhenti. “Wah, sepertinya ini sudah berlebihan.” Shura hampir membakar rumput dan juga pohong yang ada disini. Meskipun begitu, aku masih tak merasakan perbedaan suhu yang berarti. “Haa, sepertinya aku harus menumpang.”
Aku menghubungi dewa Sha. “Dewa Sha.”
“Huh? Ada apa?”
“Dewa Sha, apa aku boleh menginap di istana langitmu untuk semalam?”
“Huh? Memangnya ada apa?”
“Sudahlah, jangan biarkan aku mengatakannya, aku tau kau sudah tau.”
“Hahaha, baiklah.”
“Terimakasih.” Dewa Sha menutup telepatinya. “Shura, kau bisa pergi.”
Groaaarrr.
Shura pergi, dan aku disini sendirian.
Beberapa menit berlalu.
“Haa, disini dingin.” Dewa Sha masih belum memanggilku.
“Cari tempat tidur yang kau sukai, ya meskipun seluruh desain kamar yang ada diistana langiku ini sama. Dan ingat 1 hal, ada beberapa runagan yang tak boleh kau datangi. Ingat itu.”
“Eh?” Secara tiba-tiba aku langsung berada di luar pintu masuk istana langit milik dewa Sha.
“Hiroaki, apa kau dengar?”
“Y-ya, aku dengar.” Suhu disini sangat berbeda dengan yang sebelumnya, disini hangat dan sangat nyaman.
“Cepat masuk, besok kau masih ada urusan’kan.”
“Benar juga. Oh ya dewa Sha.”
“Ada apa lagi?”
“Shirame dan Ryuga, kapan peningkatan mereka akan selesai?”
“Entahlah, tapi ini tidak akan makan waktu lama.”
“Begitu.”
“Sudahlah, cepat masuk.”
“Baik.”
Di dalam istana langit.
“Wah, seperti biasa tempat ini sangat luar biasa.” Selain sangat luas, tempat ini juga sangat mewah. Tapi, ada yang berbeda dengan saat pertama kali aku datang kemari. “Dewa Sha, kemana para pelayan di istana ini?”
“Tugas mereka sudah selesai, aku memberikannya pada dewa lain untuk menjadi bagian dari dunia mereka.”
“Begitu. Lalu, siapa yang merawat istana sebesar ini?”
“Istana ini tidak perlu dirawat, istana ini adalah istana istimewa. Sudahlah, cepat kau tidur.”
“Sha.”
“Ahh. Ai maaf, apa aku memabangunkanmu?”
“Dia…”
“Ahh. Kau baru pertama kali melihatnya secara langsung, ya. Biar aku perkenalkan, dia adalah Hiroaki, nama Aslinya Akarui Hiroaki.”
Sifat dewa Sha tiba-tiba saja berubah, dan selain itu… Dia adalah Ai yang asli. “Kenapa dia ada disini?”
“Dia diusir oleh istrinya karena melakukan kesalahan.”
“Hey!! Jangan membeberkan hal itu.”
“Begitu. Akarui-san, semoga malam hari ini kau bisa tidur nyenyak.”
“T-Terimakasih.” Dia kembali masuk ke kamarnya.
“Cepat cari kamarmu.”
“Baik.” Sifatnya kembali, lagipula aku sudah mengantuk.
Sebuah kamar.
“Haa… Ini sangat empuk dan nyaman.” Kasur yang aku tiduri ini sangat-sangat empuk, dan juga sangat nyaman. Aku tak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya, dan mungkin aku hanya bisa merasakan ini disini saja. “Selamat tidur.”
Pagi hari.
“Hiroaki, bangun.”
“5 menit lagi.”
“Cepat bangun, atau tidak akan aku lemparkan kau ke bawah.”
Aku langsung membuka mata dan bangun. “D-Dewa Sha!!”
“Haa, cepat bersiap-siap, hari ini bukannya kau memiliki acara. Saat kau sudah siap, keluarlah dan sentu tiang yang ada di dekat taman.”
“Huh? B-baiklah.” Dewa Sha pergi, dan sesuai apa yang dikatakan olehnya, aku bersiap-siap.
Beberapa lama kemudian.
“Akarui-san, kau sudah mau pergi?”
Tanpa sengaja aku bertemu dengan Shiraku Ai. “Ahh. Iya, aku memiliki acara pagi ini.”
“Begitu. Kalau begitu, selamat jalan.”
“Terimakasih.” Ia sangat ramah terhadapku, padahal aku hanya orang asing disini.
“Hmmm. Apa tiang itu, ya?” Aku melihat sebuah tiang yang ada di taman seperti yang dikatakan oleh dewa Sha. Dan saat aku menyentuhnya.
--------------
Di depan penginapan.
Pintu penginapan terbuka.
“H-Hiroaki!!” Emilia tiba-tiba saja memelukku. “Maaf, aku minta maaf..”
“Minta maaf, kenapa?”
“Seharusnya aku tidak mengatakan hal buruk seperti itu padamu..”
“Huh?”
“Sayang begini, sebenarnya Emilia ingin bilang kalau dia merasa bersalah karena semalam ia sudah mengusirmu.”
“Begitu.”
“Aku minta maaf, semalaman kau pasti kedinginan.”
“Ahh, tidak apa-apa, aku sudah terbiasa.” Lagipula aku diberi tumpangan menginap oleh dewa Sha, jadi itu tidak masalah. “Oh ya, hari ini aku harus ke coloseum, bisa antarkan aku kesana.”
“Baiklah.”
Beberapa menit setelah itu.
Karena aku tak mengetahui tempat ini, Emilia yang terlihat tau dengan tempat ini menunjukkan jalan, sedangkan aku dan Ai mengikuti dibelakangnya. “Sayang, kau semalam tidur dimana?”
“Huh, memangnya ada apa?”
“Emilia dan aku, semalaman kami mencarimu, tapi kami tidak menemukanmu.”
“Ahh.” Sepertinya aku sudah merepotkan mereka. “Begitu. Maaf, sudah merepotkan kalian.”
“Hiroaki, kita sudah sampai.”
“Weeew.” Tempatnya besar, ini memang cocok disebut sebagai coloseum.
“Hiroaki, ayo.”
Setelah beberapa saat berlalu, di ruangan persiapan.
“Hiroaki, apa kau akan baik-baik saja?”
“Tidak usah khawatir, aku pasti akan baik-baik saja. Lagipula aku tidak mungkin kalah.”
“(tersenyum) Kalau begitu, berjuanglah. Aku akan melihatmu dari kursi penonton.”
“Ya.” Emilia pergi.
“Ai, kenapa kau masih disini?”
“Apa kau benar akan baik-baik saja?”
“Huh? Memangnya ada apa?”
“Aku dengar raja dari kerajaan Yunas memiliki pedang terkuat.”
“Hmm? Terus?”
“Apa kau bisa melawannya, bukannya pedangmu masih ada di tangan dewa.”
Yang dikatakan Ai memang benar, mungkin aku akan kesulitan jika bertarung tanpa pedangku, lagipula kemampuanku terletak pada kedua pedangku itu. “Tenanglah, kau tidak perlu khawatir. Aku pasti bisa mengatasinya.”
“Begitu.” Ai pergi dari sini.
Mereka berdua mencemaskanku, dan aku sedikit bersyukur karena ada orang yang mencemaskanku. “Ha.. baiklah. Waktunya beraksi.”
Tempat pemilihan senjata.
Ada berbagai mancam senjata disini, tapi aku tak merasakan kecocokanku dengan satupun senjata yang ada disini. “Haa, pakai saja apa yang ada.” Itu lebih baik daripada melawannya dengan tangan kosong.
Arena coloseum.
“Raja Riel, terimakasih sudah menerima tantanganku. Dan sesuai janjiku, aku pasti akan memberikan hiburan terbaik untukmu.”
“Wah. Ramai juga yang melihat kita.” Ada banyak orang yang datang kemari, mungkin karena ada pertarungan karena itu tempat ini ramai.
“Sepertinya aku diremehkan.. Raja Riel, kau tidak menggunakan pedang pusaka milikmu. Apa kau meremehkanku?”
“Ada beberapa alasan, jadi aku tak bisa menggunakannya untuk sementara waktu. Tapi, kau tak perlu khawatir. Pedang tumpul ini saja sudah cukup untuk mengalahkanmu.”
“Hahaha, baiklah kalau begitu.” Sebuah pedang muncul di depan raja Yunas. “Demon hunter, pedang ini sudah membasmi ratusan ribu iblis. Dan karena itu pedang ini memiliki julukan Demon hunter.”
“Hmmm. Demon hunter, ya.” Karena dewa Sha suka membuat pedang, jadi tidak wajar kalau itu termasuk salah satu ciptaannya, dan jika begitu pedang itu pasti memiliki kekuatan yang luar biasa.
“Bagaimana, apa kau bisa merasakan kekuatan pedang ini.”
“Sudahlah, cepat mulai saja pertarungannya.”
Beberapa saat kemudian.
Suasana menjadi hening, dan begitu tenang.
Tingg. Sfx : suara lonceng.
Sebuah lonceng berbunyi dan itu menandakan dimulainya pertarungan ini. “Rasakan ini.” Serangan pertama dimulai oleh raja Yunes dengan serangan langsung secara horizontal.
“Ups, hampir saja.” Aku memilih untuk menghindari serangannya, karena menangkisnya dengan pedang ini adalah pilihan yang buruk.
“Sebagai seorang raja, ternyata kau memiliki refleks yang bagus juga.”
“Aku tidak butuh pujian darimu..”
“Begitu, sangat disayangkan.”
Satttt
Setttt
Sattt
Secara beriringan, aku terus menghindari serangannya. “Hoy hoy, apa kau hanya bisa menghindar saja. Jika seperti itu, para penonton tidak akan terhibur, begitu juga denganku.”
“Kau cukup sombong juga. Baiklah, aku akan sedikit serius.” Memasang kuda-kuda menyerang.
“Hahaha, bagus, seperti itulah yang aku inginkan. Kalau begitu, aku juga akan sedikit serius.”
Step
Aku bergerak dengan cepat, dan melancarkan serangan secara vertikal padanya.
Ctang
Pedang milik kami beradu. Aku melompat menjauh kebelakang. “Pedang ini sudah rapuh.” 1 benturan saja, membuat pedang yang aku gunakan ini menjadi seperti ini. “Setidaknya, aku masih bisa menggunakannya untuk 3-4 serangan lagi.” Aku kembali melancarkan serangan padanya.
Ctangg
Ctangg
Ctanggg
Ia berhasil menangkis semua serangan yang aku arahkan padanya. “Tidak hanya reflek, kau juga memiliki kekuatan dan juga kecepatan yang luar biasa. Tidak heran kau dijuluki raja terkuat.”
“Kita sedang bertarung, jangan terlalu sering berbicara.”
“Hahaha..”
1 serangan lagi, dan jika aku gagal maka pedang yang aku gunakan ini akan hancur, dan aku tidak memiliki senjata lagi untuk bertarung. “Haa, baiklah, akan aku kerahkan semuanya dalam 1 serangan ini.” Yang harus aku lakukan adalah fokus. Membuat pedang ini sama seperti Shirame dan Ryuga, kemampuan, kekuatan dan juga ketahanan.
Crtasss
Gagal, meskipun begitu, yang bisa aku lakukan hanya memperkuat kekuatannya saja, sedangkan ketahanannya tidak bisa. “Haa, ini sudah lebih dari cukup.” Bisa melakukan hal ini pada senjata selain Shirame dan Ryuga sudah membuatku tenang. “Serangan terakhirku.”
Step
Aku dengan cepat berlari ke arahnya, dan memulai serangan secara vertikal. “Serangan yang sama tidak akan berguna.” Ia mencoba untuk menangkis seranganku.
Aku tersenyum karena ia terpancing umpanku.
Settt
“S-Siall.” Aku berpindah ke belakangnya, dan menyerangnya.
“Tehnik pedang ke-8, Kishu.”
Srasshhh
Seranganku berhasil mengenainya dengan telak.
Ctakk
Ctrassss
“Eh?” Pedang yang aku gunakan patah, jika aku berhasil seharusnya hal seperti ini tidak akan terjadi.
“Kau melakukannya..” Dia berhasil bertahan, atau yang lebih tepatnya ia berhasil menghentikan seranganku. Seranganku hanya membuat sedikit bajunya robek. “Kau membuatku dipermakukan seperti ini, kau akan merasakan akibatnya.” Aliran sihir besar mulai terbentuk di pedang yang dipegang olehnya.
“Wah wah, bukannya ini sudah sedikit gawat.” Tanpa senjata, aku saat ini tidak mungkin bisa mengalahkannya. “Haa, sebaiknya aku menggunakan Shirame dan Ryuga untuk bisa menikmati pertarungan ini.” Tapi, karena Shirame dan Ryuga sedang ditingkatkan aku jadi tidak bisa menggunakannya. “Apa aku akan kalah?”
‘Peningkatannya sudah selesai, kau bisa menggunakannya.’ Dewa Sha menghubungiku, dan memberiku berita menarik itu.
“Terimakasih.” Akhirnya, peningkatannya selesai disaat yang tepat.
“Raja Riel,bersiaplah menerima kekalahanmu.”
“(tersenyum) Shirame, Ryuga.”