Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 38: Duel


“Hah? Aku harus berduel?“ Yayan masih belum percaya, dia meminta konfirmasi.


Namun, pria yang kelihatan agak berumur itu mengangguk. Ia menawarkan sebuah kesepakatan yang akan menyelesaikan sengketa tanah itu.


“Ya. Jika kau bisa menang melawanku, kami akan sukarela menjual tanah kami. Penawaran yang bagus, bukan?“ terang pria tua itu.


Yayan melirik ke arah Intan dan Nazuna sebelumnya. Tatapan matanya tersirat jelas meminta pendapat. “Gimana?“


“Gas. Aku yakin kau bisa menang, Yan!“ Intan dengan gemas mengguncang bahu Yayan. “Kami setuju. Nona Nazuna?“ Harus minta persetujuan dengan sang bos.


Wanita Jepang itu mengangguk.


“Sudah diputuskan,” ucap pria itu berbalik. Para warga sontak membuka blokade jalan lebih lebar. “Ikuti aku!“


Rombongan Yayan pun mengikuti pria tua itu masuk. Para warga menatap mereka dengan tatapan sinis.


“Manager, kau yakin? Aku sedikit ragu,” bisik Yayan pada Intan.


“Tenang saja, aku yakin dengan kemampuanmu. Lagipula dia hanya seorang kakek-kakek. Kau minder?“


“Ya, tentu saja. Orang itu pasti ahli beladiri, jika tidak … kenapa dia mengajukan tantangan duel?“ risau Yayan, sedikit ragu untuk menang.


“Yayan … semangat!“ ucap Nazuna tiba-tiba yang berjalan sedikit di depan mereka . Intan sedikit kaget.


“Nah, itu harusnya cukup! Kau sudah mendapatkan semangat dari Nona Nazuna. Kekuatanmu pasti berlipat-lipat!?“


“Bukan begitu konsepnya!“


'Yah, ucapan semacam itu tidak akan berpengaruh jika tidak datang dari orang yang disukai. Huh, mungkin aku punya sedikit kesempatan bila menggunakan mental out!'


Pria tua itu membawa rombongan Yayan ke sebuah tanah lapang di tengah-tengah pemukiman kumuh dan padat penduduk.


“Tempat ini seperti arena oktagon di MMA saja,” celetuk intan.


Itu tidak salah, tanah lapang itu dikelilingi perumahan rapat, membentuk segi delapan. Di pinggirannya ada pohon-pohon besar nan rindang, dedaunannya menutupi layaknya atap.


“Apa-apaan ini? Apa aku harus benar-benar berkelahi?“ Yayan nampak frustasi, mengacak-acak rambutnya.


“Tenang saja, kami bakal mendukungmu habis-habisan. Terlebih, aku pasti akan membantumu untuk naik gaji.“


Intan mendesak Yayan untuk segera ke tengah Andrea, si penantang sudah sedari tadi menunggu. Si manager keuangan langsung berteriak untuk menyemangati.


“Go … Yayan, jadilah pahlawan perusahaan!“


“Semangat! K-kamu pasti menang!“ Nazuna juga ikut menyemangati, meskipun sedikit malu dengan dengan tuturan bahasanya.


'Sial! Kenapa semua orang jadi mengandalkanku! Aku jadi segan untuk kalah, 'kan?' rutuk Yayan dalam hati.


Yayan dengan legowo maju ke depan menghampiri si pria tua. Menguatkan tekad untuk menang.


Dia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.


“Kau sudah siap?“ tanya si pak tua.


Yayan mengangguk, dia menggulung lengang kemejanya sampai siku. “Siap kapan saja.“


'System, gunakan poin secara maksimal untuk meningkatkan kemampuan fisikku!'


[Dimengerti, Host]


“Sebelum memulai duelnya. Perkenalkan, namaku …. Saka.“ Pria tua itu memperkenalkan dirinya, ia mengulurkan tangan pada Yayan.


“Aku Yayan.“ Jabat tangannya dibalas.


“Ya, salam kenal." Saka tersenyum lembut.


Sedangkan di sisi lainnya, semua orang yang menonton nampak tegang. Intan dan Nazuna tidak berhenti untuk berdoa.


“Begini, Yayan. Jika kau bisa menang, maka kami akan secara Duke rela menjual tanah kami dengan harga berapa pun. Selain itu, kau juga bisa menikahi putriku!“


Deklarasi dari Saka membuat semua orang terkejut. Tidak peduli, Intan atau Nazuna, semua warga kaget dengan keputusan si pria tua itu.


“Ketua, Anda yakin dengan keputusan itu? Menjodohkan Nona Mikha dengan pria asing itu——”


“Kau meragukan kemampuanku?“ sela Saka yang berhasil membungkam orang yang protes itu.


'Apa-apaan ini? Dia menjadikan anaknya sebagai barang taruhan? Huh, jika dia memang sepercaya diri itu … pasti kemampuannya benar-benar hebat!' batin Yayan. ,'Eh, lalu? Apa yang terjadi jika aku kalah?'


“Kalau aku kalah?“


“Kau akan dieksekusi … mati!“


Bak petir di siang bolong, hal itu sangat mengejutkan. Yayan awalnya berpikir bahwa itu hanya candaan. Yah, dia tetap berusaha berpikir positif.


“Kau pikir ini bercanda? Harusnya kau merasa tersanjung. Mau menang ataupun kalah, martabatmu akan sangat dijunjung tinggi. Keluarga kami memang gemar menantang orang-orang kuat, itu adalah sebuah kepuasan tersendiri. Dan untuk membuat lawan bertarung habis-habisan haruslah ada motivasi yang kuat! Yah, nyawa ….


Jika mau, kita bisa mempertaruhkan nyawa masing-masing. Ini sudah menjadi tawaran yang sangat bagus, bukan?“ ucap Saka panjang lebar.


Yayan menggertakan giginya dengan kuat. “Apa aku terlihat kuat? Aku bahkan tidak bisa bela diri sedikit pun!“ Ia terdengar mengerang tidak terima.


“Batu.“


“Hah?“


“Batu yang kau lemparkan tadi? Bukannya kau sangat kuat hingga mampu membuat sebuah baja ringan cekung hanya bermodalkan kerikil kecil. Ayolah, aku ingin menguji kemampuanmu!“ Saka memasang kuda-kuda bertarung, tinju telapak tangan terbuka diarahkan pada Yayan.


'Cih, rupanya gara-gara itu?!' kesal Yayan, dia mencoba menoleh pada Intan dan Nazuna. Yah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


“Ayo, kita mulai!“


'System, bantu aku!'


[Misi spesial dikonfirmasi]


[Terima setiap serangan]


[Reward: 1 poin daya tahan/serangan]


[Misi spesial dikonfirmasi]


[Hindari tiap serangan]


[Reward: 1 poin kecepatan/serangan]


[Misi spesial dikonfirmasi]


[Berhasil mendaratkan serangan pada musuh]


[Reward: 1 poin kekuatan/serangan]


'Huh?'


“Jangan bengong, anak muda! Pertarungan sudah dimulai!“


Saka bergerak dengan cepat ke arah Yayan, bersiap mengirimkan tinjunya.


Bugh …


Itu secara telak mengenai perut Yayan, membuatnya termundur beberapa langkah. Dia mengerang kesakitan.


[1 poin daya tahan didapatkan]


“Sialan!“ Yayan meludah dengan kesal.


“Ini baru permulaan!“


Saka melesat lagi ke arah Yayan. Si budak korporat itu memang terkejut dengan kecepatan si pak tua.


'Dia cepat!'


Saka melancarkan tinju telapak tangan terbukanya, kini mengincar bahu kanan Yayan. Dia bisa melihat gerakannya dan berpikir bisa mengelak.


'Kena kau!'


Yayan berhasil menghindar dan mencoba menyerang balik. Namun, Saka mendadak memutar lengannya lalu digerakkan secara harizontal, mengincar leher Yayan.


Buaghh!


Serangan itu sukses dan membuat Yayan sempoyongan.


[1 poin daya tahan didapatkan]


Belum sampai disitu, Saka mengayunkan kakinya, melakukan tendangan memutar yang mengincar kepala Yayan.


Buaghh!


[1 poin daya tahan didapatkan]


“Yayan!“ Intan dan Nazuna tidak kuasa menahan teriakannya saat Yayan berputar di udara dan terjatuh dengan keras.


Pria itu terkapar, namun tak berselang lama langsung bangkit kembali.


'Ini memuakkan! System, gunakan semua sisa poin kekuatan dan kecepatan! Aku tidak akan kalah di sini!'