Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 42


"Kembar?.." Tanya ulang Lorenzo wajah datarnya seketika berubah.


"Apa kau tidak penasaran? aku merasa begitu."


"Aku akan membawanya ke dokter besok." Balas Lorenzo.


"Baiklah aku akan tidur di kamar bawah, jangan terlalu sering melakukannya istrimu butuh istirahat.." Ujar Raymond dengan terkekeh.


"Kau tidak akan mengerti, makanya cepat menikah!."


"Sudah ku bilang jodohku biarkan saja dia datang sendiri aku sibuk!..." Balas Raymond tak mau kalah sambil melangkah pergi ke lantai bawah.


"Cih..." Kekeh Lorenzo.


Seperginya Raymond, Lorenzo menatap langit malam. Pikirannya menerawang pada masalah yang sedang dihadapi pada dunia bawah kekuasaannya, sekarang nyawanya menjadi incaran sosok misterius itu.


"Siapa kau sebenarnya? apa sangkut pautnya kematian Caesar dengan membenciku...."


Bagi orang-orang Lorenzo adalah sosok putra kedua dari presiden New York setelah kakaknya Caesar meninggal, juga seorang pemimpin perusahaan besar dunia yang bergerak di segala bidang. Tetapi tanpa orang-orang ketahui ia merupakan mafia berdarah dingin yang sangat disegani dan dihormati, bahkan istrinya Claudia sendiri tidak mengetahuinya.


Sebenarnya masalah seperti ini sudah sering terjadi, tetapi kali ini Lorenzo harus serius menghadapinya karena ada Claudia juga calon anaknya yang harus dijaga.


"Baiklah ku ikuti permainanmu!!...." Lirih Lorenzo dengan sorot mata tajam.


Lelaki itu melangkah menuju kamar Raymond, tampak sahabatnya itu sedang sibuk melakukan tugasnya.


"Cari tahu informasi tentang Naila bahkan orang yang bersangkutan sewaktu dia masih hidup!, hubungan apa yang dimiliki orang misterius itu dengannya?.."


(Naila adalah istri dari Caesar)


"Hmmm aku sedang melakukannya." Jawab Raymond.


"Kau memang terbaik aku tidak perlu meragukan kemampuanmu..."


Raymond tersenyum puas dengan pujian Lorenzo.


"Baiklah aku akan istirahat sekarang.." Ujar Lorenzo hendak melangkah pergi.


"Tunggu!.." Timpal Raymond.


"Ada apa?..."


"Apa Claudia akan diberitahu soal ini?.."


"Tidak untuk sekarang.." Jawab singkat Lorenzo setelahnya ia berlalu pergi menuju kamarnya dimana Claudia berada.


"Baiklah..."


...***...


Tampak Claudia sudah tertidur lelap, Lorenzo mencium lembut bibir ranum itu sekilas setelahnya ia ikut tertidur menuju alam mimpi sambil memeluk Claudia.


02:13 malam...


Tangan lentik Claudia menggoyangkan tubuh kekar suaminya. Dengan mata masih terpejam Lorenzo bangun. "Kenapa apa ada sesuatu?..."


"Aku terbangun dan tiba-tiba sangat menginginkan sandwich..."


Sontak saja Lorenzo membuka mata lebar-lebar, ia melihat jam dinding di kamarnya. "Ini sudah malam kemungkinan cafe sudah tutup.."


Claudia terdiam wajah cantiknya tampak murung, tentunya Lorenzo tak tega melihat itu. Ia harus siap siaga apalagi sekarang Claudia sedang ngidam.


Lorenzo mengambil kunci mobil ia hanya mengenakan celana dan baju pendek dengan rambut acak-acakan, para anak buahnya terkejut mereka menawarkan diri untuk mencari sandwich tetapi tuannya itu menolak.


Setelah beberapa lama berkeliling akhirnya Lorenzo menemukan cafe yang ke 10 kebetulan buka 24 jam, ia kembali pulang membawa sandwich yang diidamkan istrinya.


Raymond terkekeh melihat Lorenzo, kebetulan ia baru kembali dari dapur. Sahabatnya itu tampil dengan rambut yang acak-acakan tak karuan.


"Berhenti menertawakanku!..." Sinis Lorenzo.


"Hahaha apa ini sosok asli seorang Lorenzo Scottbryan?.." Goda Raymond lagi dengan sengaja. Pasalnya ia belum sama sekali melihat penampilan Lorenzo acak-acakan seperti sekarang, hanya Claudia yang bisa memperlakukannya seperti itu.


"Cih..."


Dengan acuh Lorenzo meninggalkan sahabatnya menuju kamar, tampak di sana Claudia sudah menunggu. Ia sangat senang sekali saat Lorenzo memberikannya sandwich.


"Terimakasih..." Claudia langsung melahapnya, Lorenzo tersenyum melihat itu.


"Tidak cukup dengan terimakasih..." Lirih Lorenzo.


Claudia tersenyum sambil minum air ia mengerti maksud suaminya, wanita itu sontak menghampiri ia mengecup bibir Lorenzo sekilas. "Terimakasih yaaaaa..."


"Hanya itu?..."


"Ya." Jawab Claudia ia pura-pura tak mengerti maksud Lorenzo.


"Pilih keinginanku salah satu, layani suamimu sekarang juga apa besok ke rumah sakit?.."


Claudia mengerutkan keningnya. "Bukannya aku tak mau tapi untuk malam ini tidak bisa tubuhku masih pegal karena ulah dirimu di Paris."


Lorenzo menyunggingkan senyum. "Baiklah berarti sebagai ganti kita besok ke rumah sakit lupakan pekerjaanmu!.."


"Untuk?.."


"Ikuti saja sayang, atau kau tak bisa berjalan besok!..." Sengaja ancam Lorenzo.


"Haish baiklah..."


Setelah selesai bicara, keduanya kembali tidur untuk istirahat tentunya dengan posisi yang sedikit meresahkan karena Lorenzo tidak bisa diam.


.


.


09:00 Pagi hari....


Rumah sakit


Claudia akhirnya mengetahui bahwa ia akan dicek kandungan, perlahan ia berbaring membiarkan dokter wanita mengecek perutnya dengan alat. Dokter wanita itu sesekali melihat tampilan layar USG untuk melihat hasil..


Lorenzo fokus memperhatikan sambil tangan kekarnya menggenggam tangan Claudia.


Tidak lama dokter wanita itu tersenyum kepada mereka berdua. "Kalian bisa melihatnya dari layar hasil USG, dalam rahim nona Claudia telah tumbuh dua janin. Selamat calon anak kalian berdua adalah kembar tuan dan nona..."


Claudia sontak menutup mulutnya tak menyangka, Lorenzo tersenyum penuh haru ternyata dugaan Raymond benar.


Tiba-tiba rasa haru mereka dikejutkan oleh kegaduhan di dalam rumah sakit, banyak orang yang menjerit tak karuan.


DOR! DOR! DOR!!


Bersambung.....