
Sesuai dengan perintah Fei Wei, kini Fu sedang terbang mencari keberadaan Rei dan rombongannya. Ia langsung mengubah wujudnya menjadi burung elang berwarnah merah dan menghadang perjalanan Rei.
"Maaf mengganggu perjalanan anda putra mahkota, saya diutus oleh tuan saya untung menghentikan anda,"
Rei nampak kebingungan, rasanya ia tidak mengenal siapapun yang memiliki beast spirit elang merah.
"Tuan dia adalah burung pheonix milik nona Fei Wei,"
Pantas saja, untung Mo sang naga milik Rei memberi tahunya. Ternyata pheonix ini juga dapat berubah bentuk.
"Apa yang tuanmu katakan?"
"Beliau mengatakan bahwa anda tidak perlu kesana, cukup kirim beberapa prajurit kebanggaan anda dan disana akan ada yang menolongnya. Tuanku akan memberitahukan rencana selanjutnya kepada anda,"
"Dasar pembangkang," Rei tersenyum tipis mengingat sifat Fei Wei yang memang sangat keras kepala.
"Kau dengar itu Lee, kirim beberapa prajurit kesana, sedangkan sisanya ikut bersamaku kembali ke kota,"
"Tapi Rei, siapa pemilik elang ini? Mengapa kita harus percaya kepadanya?"
"Aku mengenal pemiliknya, kita akan mengetahui rencananya saat berjumpa nanti,"
Lee yang tidak tahu apa apa menatap Fu dengan mata penuh curiga. ia tidak akan dengan mudah percaya pada elang yang tiba-tiba saja menghadang perjalanan mereka, "Aku akan mengawasimu elang, aku tidak akan semudah itu percaya padamu,"
Fu yang mendengar perkataan Lee hanya memutar bola matanya bosan. Ia lalu pergi meninggalkan mereka.
"Dasar elang kurang ajar!"
"Sudahlah Lee, jangan bermain dengannya,"
Lee memacuh kudanya berbalik dan mengikuti Rei serta rombongannya.
"Fei aku sudah menjalankan tugasku,"
Fei Wei tersenyum mendengar informasi dari Fu.
"Baiklah, sekarang kau kembalilah dulu, aku akan memanggilmu nanti,"
"Baiklah,"
"Satu misi terselesaikan,"
"Apa yang kau katakan Fei?" Di yang samar-samar mendengar Fei Wei berbicara bertanya kepadanya.
"Tidak, aku hanya bergumam saja, mereka sangat ribut,"
Benar, mereka sedang berkumpul di aula untuk mendengarkan pemenang dari kegiatan tadi pagi.
"Aku tidak terlalu berharap bisa memenangkan lomba itu, aku hanya bisa membuat pil tingkat 3 tadi," ucap Dian memberitahukan kepada teman-temannya.
"Aku juga, aku bahkan hanya bisa membuat pil tingkat 2," tambah Di sedikit murung.
"Sudahlah, setidaknya kalian sudah bisa membuat pil kan? Itu yang terpenting,"
"Aku setuju dengan ucapan Han, yang kita perlukan itu ilmunya, bukan jadi juaranya," tambah Xia yang juga bersama dengan mereka.
"Para murid, seperti yang sudah kami katakan kepada kalian bahwa pemenang lomba pagi tadi akan diumumkan sekarang. Hanya ada satu murid yang akan memenangkan perlombaan ini baik dari akademi Ba Xian dan juga akademi Qi Li,"
"Untuk murid dari akademi Qi Li, kami sangat bangga karena murid ini juga adalah salah satu murid yang sangat berprestasi dalam bidang alkemisnya. Tanpa harus menunggu lama, Xio Xia dipersilahkan untuk maju ke depan,"
Semua orang bertepuk tangan, Xio Xia sangat bahagia karena dapat memenangkan perlombaan itu.
"Selanjutnya, untuk murid dari akademi Ba Xian, juga tidak kalah membanggakannya, bahkan tetua dari kedua akademi sangat kaget dibuatnya. Silahkan maju untuk murid Lu Fei Wei,"
Sorakan yang tak kalah meriahnya dari sebelumnya terdengar kembali mengiringi langkah Fei Wei semakin dekat dengan posisi Xio Xia berdiri.
"Wah tidak hanya cantik, mereka berdua juga sangat pintar."
"Benar, aku sangat iri kepada mereka."
"Lihatlah betapa anggunnya mereka berdua, tidak akan ada yang percaya jika mereka adalah jenius di kedua akademi ternama."
Mereka diberikan hadiah masing-masing 5 juta tael emas dan juga akan diberi libur selama seminggu sehingga mereka bisa melakukan apapun.
"Xia, selamat karena kau berhasil mengalahkan mereka."
"Aku tidak akan seperti ini jika bukan karenamu nona sekaligus guru pertamaku."
Semua murid iri dengan hadiah yang mereka dapatkan terutama hadiah liburan itu, sungguh menggiurkan. Berharap suatu hari nanti mereka juga akan mendapatkan hadiah yang sama seperti mereka. Setelah acara pengumuman itu selesai, Fei Wei bergegas mengunjungi Re dan Lee.
Lee sempat heran saat melihat kedatangan Fei Wei, namun kemudian mengerti saat Fu ikut bersamanya dalam wujud burung elang yang menghalangi mereka tadi.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Rei to the point.
Fei Wei menunjukkan peta yang tadi sempat ia buat, disana sudah ada beberapa letak bom yang ia ketahui.
"Mereka sedang mengecoh kalian agar kalian berada jauh ditempat yang seharusnya,"
"Lihat peta ini, ini adalah letak bom yang mereka pasang di pusat kota,"
"Apa maksudmu dengan bom? Mereka ingin meledakkan kota?"
"Benar Lee, tujuan utama mereka bukanlah pinggir kota, melainkan pusat kota. Mereka sengaja memancing kalian menjauhi kota,"
"Hal ini akan membuat rencana mereka berhasil meskipun nantinya kita sudah tahu kebenarannya karena jarak pinggir kota ke pusat kota yang sangat jauh,"
"Benar, maka dari itu, aku menghentikan kalian,"
"Tapi bagaimana kau tahu bahwa tujuan mereka yang sebenarnya adalah pusat kota?"
"Untuk masalah itu, aku tidak bisa memberitahu kalian. Yang perlu kalian tahu, informasi ini sangat akurat dan rencana mereka akan dilaksanakan besok saat perayaan dilakukan,"
"Dan hei Rei, apakah kau tidak menyadari bahwa ada pengkhianat diantara kalian?"
Lee dan Rei saling memandang, rasanya semua prajurit merupakan prajurit yang sudah lama bersama mereka.
Fei Wei yang melihat gelagat mereka yang seperti orang kebingungan hanya memutar bola mata bosan, ternyata mereka tidak sepintar yang Fei Wei pikirkan.
"Fu, masuklah,"
Fu yang sedari tadi diluar, masuk sambil membawa seorang prajurit yang nampak ketakutan.
"Hei, apa yang elang itu lakukan!" teriak Lee saat melihat prajuritnya di seret oleh Fu.
"Katakan yang sejujurnya jika kau masih ingin hidup," ucap Fei Wei tanpa menatap prajurit itu.
"Ampuni saya putra mahkota, jendral Lee, saya terpaksa melakukan hal itu karena mereka mengancam akan membunuh keluarga saya,"
"Sebenarnya semua informasi yang kalian terima hanyalah jebalan agar rencana yang sebenarnya dapat dilaksanakan,"
"Siapa yang memaksamu melakukan itu!" murka Lee sambil menarik baju prajurit itu.
Wajah prajurit tersebut menunjukkan raut wajah yang sangat ketakutan, badannya gemeteran dan peluh membsahi dahinya. Saat akan membuka mulut, tubuhnya tiba-tiba saja mengejang, ia memegangi lehernya seakan menahan rasa sakit. Matanya melotot merah, terlihat jelas urat-urat diwajahnya yang semakin memerah. Dari mulutnya keluar banyak busa dan seketika ia jatuh tergeletak tidak bernyawa.
"Apa yang terjadi? Cepat periksa denyut nadinya!" perintah Lee penuh emosi bercampur kaget.
Prajurit yang memeriksa nadinya menatap mereka lalu menggeleng lemah.
"Dia sudah terikat, maka dari itu ia tidak akan bisa mengucapkan siapa dalang sebenarnya," ucap Fei Wei santai.
"Lebih baik sekarang kalian bersiap untuk menggagalkan rencana mereka, aku akan ikut membantu,"
"Tidak, kau tidak perlu membantu. Ini sangat berbahaya untukmu," ucap Rei tidak setuju dengan keputusan Fei Wei.
"Tapi aku sudah ikut campur sejauh ini Rei, kalian bahkan tidak akan tahu kebenarannya jika bukan aku yang memberi tahu kan! Aku tidak selemah yang kalian kira, yang perlu kalian tahu, aku akan tetap ikut apapun yang terjadi," tegas Mei Wei lalu pergi begitu saja bersama dengan Fu. Ia kembali ke akademi dengan mood yang tidak baik.
Ia tidak akan mungkin tinggal diam disaat ia tahu bahwa ada sesuatu yang besar yang akan menghadang mereka dimasa depan.
.
.
.
Tbc.....
Gomen nee lama banget ya hehehe
Sorry guys
Semoga kalian suka ya, bye see you baga bashi....