
Korea selatan
9:43
Mansion
Marvel dan Leo sudah sampai kemarin malam setelah perjalanan dua belas jam dari Australia. Mereka berdua sudah sampai dimansion milik Marvel yang sudah lama ia beli itu. Mansion besar dan mewah yang tidak jauh dari pusat kota agar memudahkannya untuk pergi kemana saja.
Mansion bernuansa putih dan hitam dengan beberapa pilar besar yang berdiri kokoh membuat mansion mewah itu tampak besar dan terlihat mewah. Tak Lupa dengan halaman dari gerbang utama yang membutuhkan waktu tiga menit untuk sampai ke garasi utama. Dari gerbang utama di tengah-tengah halaman ada patung gambar singa yang menghadap ke gerbang seolah- olah penjaga rumah mewah itu.
Marvel keluar dari kamarnya menuju halaman belakang untuk berolahraga. Pria tanpa Baju itu langsung mengangkat beban untuk membentuk ototnya. “Ekh..
Melihat sahabatnya berolahraga. Leo menyusul dan duduk di gazebo untuk istirahat sambil menikmati secangkir kopi hitam yang baru saja di berikan padanya. “Jadi, apa
Yang kita kerjakan di sini ?.” Tanya Leo sambil menyeruput kopi yang masih hangat.
Marvel menghentikan aktifitasnya lalu duduk. “Kau bilang mau liburan bukan ? Kenapa kau tanya aku lagi.”
Leo menghela Nafas bingung lalu terdiam. Ia tidak Menjawab pertanyaan Marvel tadi dan hanya bergelut dengan pikirannya. Marvel hanua diam dna membiarkan sahabatnya itu berpikir. Sedangkan ia juga bingung harus melakukan apa setelah ke negara sseibu idol ini.
Meski Marvel harus menangkap orang yang telah merusak kepercayaannya itu. Namun sekarang Marvel tidak terlalu memikirkannya. Entah kenapa ia sekarang butuh sesuatu yang dikerjakan selain yang lain.
“Ah, aku tau apa yang harus kita lakukan Vel. Kau ingat kan waktu kita sekolah ?.”
Marvel mengangkat satu alisnya bingung. “Kenapa ?.”
“Haruskah kita kembali sekolah ? Ya.. cari senang- senang aja…
“Kau ingin kita kembali sekolah di umur seeprti ini ?.”
Marvel bingung, umur mereka sudah dua puluh sembilan tahun. Untuk apa mereka sekolah lagi pikir Marvel.
Bukan hanya umur saja. Pasalnya mereka berdua sudah lulus kuliah bahkan mereka sudah lulus S3 untuk apa mereka sekolah lagi pikirnya marvel.
“Senang- senang aja. Toh apa salahnya .”
Marvel menghela nafas lelah. Ia memejamkan matanya sembari rebahan. Ia menutup matanya cukup lama untuk berpikir.
Namun saat sedang berpikir ia teringat sesuatu yang membuatnya langsung membuka matanya. Ia menatap Leo serius. “Kau dengar tadi malam anggota menelponku bukan ?.” Tanya Marvel menatap Leo sambil mengeringai.
Marvel berdiri. “Kau tau kan perempuan gila itu tinggal di korea saat ini ?.”
Leo bingung sebentar lalu menatap Marvel sembari mengingat sesuatu. “Ahhh, aku mendengar anggota menginfokan itu tadi malam..
Marvel menggertakan jempolnya sambil tersenyum. “Mereka mengatakan jika perempuan gila itu tengah bersekolah di salah satu anniversity.”
“Bagaimana kau tau ? Mungkin saja info itu tidak valid.”
Marvel menatap Leo tajam. Wajahnya yang sedari tadi tersenyum seketika berubah. Ja menatap Leo tidak suka. “Kau meragukan informasi dari anak buahku ?.”
Leo yang menyadari hal Itu langsung menenangkan Marvel. “Tenanglah Marvel. Bukannya aku tidak percaya, tapi mana mungkin ketua gangster itu kembali sekolah. Kau ku atau kan jika orang seperti dia itu pasti lulusan sekolah yang tinggi. Untuk apa dia sekolah lagi.”
Marvel terkekeh. “Kau pikir sekarang. Untuk apa juga kau mengajakku kembali sekolah di umur kita sekarang. Di tambah kita sudha lulus. Kau mengajak ku sekolah hanya untuk bersenang- senang bukan ? Jika kau saja berpikir seperti itu pasti wanita itu juga berpikir demikian.” Marvel Menyipitkan kedua matanya berpikir sambil mengelus dagunya pelan. “Sepertinya wanita itu sedang bekerja menangkap Kaparat bodoh,”
Marvel tersenyum Membayangkan bagaimana wanitanya itu melakukan hal
Seperti itu.
Leo hanya mengangguk paham. “Kau benar juga.” Ia menatap Marvel seketika yang saat ini tengah tersenyum. Ia menghela nafas panjang.
“Kenapa kau begitu suka dengan wanita yang di juluki gila itu sih. Kau bahkan tidak tau rupanya seperti apa, kau tau kan sampai sekarang tidak ada yang tau wajahnya seperti apa. Dia samgat tersembunyi bahkan kau pun sama,” leo kembali Bingung Bagaimana bisa Marvel begitu menyukai wanita dengan sebutan wanita gila Itu tanpa tau wajahnya seperti apa.
Seperti yang mereka tau atau bahkan masyaratapun tau. Wanita dengan sebutan gila itu yang menjadi ketua gangster itu bahkan tidka pernah menunjukan wajahnya pada siapapun saat bekerja. Tidak ada tau bagaimana rupanya apakah buruk rupa atau kebalikannya. Dan di sini bahkan Marvel sangat menyukai wnaita itu tanpa tau wajahnya seperti apa.
Marvel Terkekeh lalu merangkut Leo. “Tak maslaah dengan wajahnya. Aku hanya suka bagaimana dia beraksi menyelesaikan pekerjaannya. Kau tau betul bagaimana dia membantu ku perdagangan bukan. Aku pikir dia wanita yang keren.”
Marvel melepas rangkulannya lalu berdiri. Ia menatap Leo lalu berkata. “Siap- siaplah besok, kita akan pergi ketempat dimana Wanita itu melakukan misinya.” Marvel mengambil ponselnya di atas meja lalu pergi. Leo menatap Marvel hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.
“Pria itu..
Marvel langsung mengotak Atik layar ponselnya mencari nomor yang biasanya memberinya informasi.
“Hallo tuan, ada yang bisa di bantu ?.” Jawab seorang pria Di sebalik ponsel Marvel.
“Carikan informasi dimana Wanita itu sekolah.”
“Baik tuan..
Tut
Matvel memutuskan panggilannya sepihak dan tersenyum smrik. Wajah bahagianya terukir nyata di wajah tampannya. “Aku harus melihat wajahmu wanita gila,” Marvel tersenyum penuh gila lalu masuk ke dalam rumahnya.
Sedangkan sedari tadi para pelayan hanya membungkuk hormat kepada pemilik rumah mewah itu.
Mereka semua hanya bisa diam dan hanya bisa mengagumi pria tampan itu. Tidak bisa melakukan apapun meski hati mereka ingin memeluk Pria yang bahkan tidak memakai baju yang memperlihatkan keringat yang membasahi tubuhnya yang kekar. Melihat wajah tuan nya tersenyum membuat pelayan yanh di dominasi perempuan itu hanya bisa menahan nafas.
“Aku baru sekali melihat tuan tersenyum seperti itu.” -pelayan 1
“Benar, wajah tuan jadi lebih tampan saat tersenyum.” - pelayan 2
“Ah taulah, aku tidak peduli dia tersenyum atau bagaimana. Aku hanya melibat aura seksi di tubuhnya.” -pelayan lainnya.
“Benar sekali !!!.”
Mereka semua berteriak tergila-gila melibat Marvel. Bagaimana mungkin mereka tidak terpesona melihat Marvel. Memiliki kekayaan yang tak terbatas lalu wajah yang tampan dan jangan lupa tubuh yang kekar yang membuat para wanita menjerit dibawahnya. Pasti sangat menarik bukan. Memeluk tubuh kekar adalah keinginan mereka apalagi punya suami kaya raya. Hidup mereka akan terjamin lahir dan batin.
Namun masalahnya adalah Marvel bahkan enggan menyentuh mereka semua. Karena yang ada dipikirannya adalah cuma Wanita gila.
GILA