THE TRIPLETS

THE TRIPLETS
Episode 54


Tak berapa lama kemudian, hanya dengan kedipan mata saja, ketiganya telah berpindah tempat, tepatnya di depan pintu gerbang Mansion utama.


"My God _, cepat Sekali ini?" Ucap Evan.


"Bagaimana kau tau tempat tinggal kami?" Tanya Ethan menelisik.


"Aku bisa menembus pikiran kalian, maaf, aku terpaksa menggunakan kekuatan itu untuk mengembalikan kalian ke tempat yang aman" jawab Sky.


"Kau_" ucap Evan.


"Terimakasih, sudah membantuku, semoga kita berjodoh dan akan bertemu kembali" ucap Sky memotong.


"Tapi kau terluka" Ethan nampak khawatir.


"Aku tidak apa-apa, juga sudah menemukan cara untuk melawan mereka semua dan menyelamatkan diriku" jawab Sky.


"Benarkah?, tapi mereka_" Sahut Ethan nampak cemas.


"Jangan khawatir, Jaga wanitaku untukku, aku pergi" ucap Sky memotong ucapan, lalu sejenak menoleh ke sebuah jendela kamar yang ada di Mansion itu.


"Apa?" Sahut Ethan.


"Tung_" ucap Evan berusaha mencegah namun tak berarti.


SRET


Sky pun menghilang dengan cepat, Evan ingin menggunakan kekuatannya untuk kembali ke tempat sebelumnya, namun aneh, ingatan akan tempat itu tiba-tiba saja hilang dari otaknya.


"Sial, apa yang dilakukan Sky sampai aku tak bisa mengingat tempat itu?" Ucap Evan kesal.


Tidak dengan Ethan yang masih tertegun karena melihat sepeda motor sport miliknya yang ternyata di bawa juga oleh Sky kembali ke Mansion dengan teleportasi nya.


"Gila, seberapa besar kekuatannya?, bahkan dia bisa membawa barang berat yang lain saat melakukan teleportasi, belum lagi kekuatan menghapus ingatan Evan, ini benar-benar_" batin Ethan.


"Kak?, Apa yang kalian lakukan disini?" Ucapan seorang wanita mengejutkan Ethan dan juga Evan.


"Ailina?" Ucap mereka hampir bersamaan.


"Kalian kenapa?" tanya Ailina.


"Ti tidak ada, kamu dari mana?" Ucap Evan.


"Aku menyusul kalian, cemas karena tidak kunjung pulang, tapi teman-teman kak Evan mengatakan sudah pulang dari tadi, kalian dari mana saja, ini hampir jam 2 pagi" ucap Ailina merasa aneh menatap kedua kakaknya yang nampak bingung.


"Oh, itu, kami ada urusan penting, ayo kita masuk dulu, apa mommy dan Daddy tau kita belum pulang?" Tanya Ethan menghentikan langkah sejenak.


"Tentu saja kak, mangkanya aku disuruh untuk menjemput kalian bersama beberapa pengawal dan pak sopir, aku sudah mengabarkan kalian dalam perjalanan pulang ke mommy, jangan khawatir" Ailina menjelaskan.


"Oh, syukurlah, ayo" sahut Evan merangkul Ailina dan berjalan masuk bersama Ethan.


"Kakak berkeringat sekali, minggir!" Teriak Ailina berusaha mendorong Evan agar tak merangkulnya.


Ethan hanya menarik nafas dalam melihat tingkah Evan yang suka sekali membuat Ailina darah tinggi.


Sedangkan pengawal menyelesaikan sisanya, mulai dari membawa motor sport tuan mudanya dan membawa kembali masuk mobil dan menutup pintu gerbangnya.


Setiba di kamar masing-masing, keduanya membersihkan diri cukup lama di kamar mandi, teringat akan kejadian yang baru saja dialami dan juga rasa cemas akan keselamatan Sky saat ini.


Tanpa di duga, keduanya keluar kamar hampir bersamaan.


"Kakak juga tidak bisa tidur?" tanya Evan.


"Hem" jawab Ethan.


Lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke kursi sofa yang ada di lantai bawah, segelas wedang jahe hangat telah di bawa oleh Evan ke meja yang ada di dekat sofa.


"Ini kak" ucap Evan.


"Terimakasih Ev, tidak pernah aku mencemaskan seseorang seperti saat ini, bagaimana nasib Sky?" Ethan mengambil minuman lalu menyicipinya sedikit.


"Entahlah kak, aku juga sama, berdoa saja Sky selamat" jawab Evan yang menghela nafas sebelum minuman masuk dan menghangatkan tubuhnya.


"Amin, dia sangat melindungi kita, bahkan berusaha sekeras tenaga membawa kita ke tempat yang aman" sahut Ethan kembali meletakkan minumannya.


"Iya kak, siapa sebenarnya Sky ini?" Tanya Evan makin penasaran.


"Ailin!?" Keduanya terkejut mendapati sang adik sudah berada tepat di belakangnya.


"Kalian membicarakan seseorang bernama Sky?" Tanya Ailina lagi.


Ethan terdiam menatap mata Ailina, lalu menghela nafas kembali, tau benar apa yang ada dalam pikiran Ailina saat ini.


"Iya, dia laki-laki yang pernah kamu bicarakan denganku" ucap Ethan.


"Apa?!, Apa yang terjadi kak, bagaimana kalian bisa bertemu?" Tanya Ailina sangat terkejut, lalu segera mengambil tempat duduk diantara keduanya.


"Kau kekasihnya?" Tanya Evan.


"Jangan sembarangan kak, kita saja bertemu hanya sekejab mata, dan itu juga tidak pernah lama, lebih banyak tidak sengaja nya, tau namanya saja baru kemaren" jawab Ailina.


"Tapi dia meng klaim mu sebagai wanitanya, bahkan dia menitipkan mu pada kami, hati-hatilah mulai saat ini, dia bukan laki-laki sembarangan, kekuatannya tak bisa kau bayangkan" ucap Evan.


"Dan dia sangat diinginkan musuh-musuhnya untuk dilenyapkan" sahut Ethan menambahi.


"Apa?!, Maksud kak Ethan apa?" Ailina makin bingung dan tidak mengerti.


Ethan menatap Ailina, lalu mengusap rambutnya dengan lembut, nampak wajah khawatir yang diperlihatkan.


"Hati-hatilah, aku tidak bisa menembus pikirannya, dia bisa menahan kekuatanku, dan memiliki semua kekuatan kita, bahkan bisa lebih, dan yang paling aku khawatirkan adalah_"Ethan terdiam.


Ethan berpikir sejenak, apakah harus menceritakan segalanya ke Ailina, karena bisa di pastikan hal itu akan membuat Ailina makin penasaran dan takut akan mencari keberadaan laki-laki itu, tentu saja hal itu sangat membahayakan nyawanya.


"Sudahlah, tidak usah kau pikirkan laki-laki itu Ai, dia laki-laki yang hebat, kami tak sengaja bertemu, dan sepertinya dia juga akan keluar dari negara ini, kau tau dari perawakannya dia bukan orang asli pribumi bukan?" Evan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar lebih santai dan tak membuat Ailina cemas.


"Iya aku tau, tapi kenapa dia menitip pesan ke kalian untuk menjagaku, seenaknya saja meng klaim aku wanitanya, aku milikku sendiri, bukan milik siapapun" sahut Ailina merasa kesal saat mengingat terakhir bertemu.


"Kalian sedang apa?"


GLEK


Ketiganya terkejut saat mendengar suara yang tidak asing.


"DAD?" Ucap ketiganya serempak.


"Kenapa kalian terkejut, ini masih jam 2 malam, kenapa malah berdiskusi disini?" Ucap Edward lalu terus berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


"Kami hanya berbincang karena tidak bisa tidur Dad, sorry kalau membuat Daddy malah terganggu" jawab Ailina.


Edward menghabiskan air minumnya, lalu kembali melangkah mendekati ketiga anaknya.


"Daddy kebetulan haus dan ingin minuman dingin, kalian tidak menganggu sama sekali, hanya satu pesan Daddy, teruslah mawas diri dan hati-hati, jangan sampai lengah, saling menjaga dan melindungi" ucap Edward sambil tersenyum dan menepuk pundak kedua putranya, tak lupa satu kecupan sayang di kening Putri satu-satunya.


"Thanks Dad, we love you" ucap Ethan.


Edward tersenyum dan melambaikan tangan sebelum akhirnya kembali menaiki tangga menuju ke kamar pribadinya, ada senyuman tipis dan misterius di balik sikap Edward yang seolah tak tau apa-apa soal ketiga anak kembarnya.


Ceklek


Edward membuka pintu perlahan, tak ingin menganggu istri tercintanya.


"Bagaimana keadaan mereka?"


"Oh Sh-it!, Kamu mengejutkan ku Bee" Edward terperanjat tak menyangka wajah sang istri sudah berada dekat di depan wajahnya dengan rambut terurai terlihat begitu horor.


"Hehe, sorry honey, apa aku kelihatan seperti hantu?" Sahut Ailina konyol lalu menghidupkan lampu kamarnya.


Edward menyambar bibir sang istri dan menci-um nya sedikit kasar sebagai hukuman karena membuatnya terkejut.


"Ish, kenapa malah menci-um ku, aku mengkhawatirkan anak-anak ku!" Teriak Alena setelah berhasil melepaskan diri.


Edward tertawa sejenak melihat muka kesal istrinya yang selalu mempesona di matanya.


"Mereka baik-baik saja Bee, jangan khawatir, tidak ada luka serius di tubuh Ethan dan Evan, aman" Edward meyakinkan sang Istri.


"Siapa laki-laki itu?" Tanya Alena.


Jangan lupa HADIAH VOTE LIKE KOMEN dan Tonton IKLANnya.


Bersambung.