The Lonely Wolf

The Lonely Wolf
PERMAINAN GAIRAH



Sepanjang malam Hendra Daan Melly duduk berdua menikmati kesejukan alam, berbincang dan sesekali saling bertukar Saliva.


Hendra mengakui betapa hebatnya Melly mengguncang kehidupan rumah tangganya. “Kamu tau sejak saat itu aku hilang rasa dengan Queen. Semua tentang kamu Mel,”


“Aku menunggumu cukup lama di halaman, berharap kamu menyusul aku. Tapi hingga malam kamu tak datang. Dan, aku memutuskan untuk pulang.” Melly membuang pandangannya ke lepas pantai.


“Sekarang, ini seperti takdir yang tertunda Mel, kita bertemu dan saling bertukar kasih. Masihkah ada kesempatan untuk ku?”


Hendra menggenggam tangan Melly, menanti jawaban.


Melly mengangguk senang. “Kita mulai dari awal,”


Menunggu hitungan jam, Hendra dan Melly melanjutkan perjalanan menuju satu tempat yang akan membawa keduanya melepaskan rindu yang nikmat.


Mobil berhenti ke tepi jalan. “Mel, kamu yakin kita balikan, kan?”


“Why not? l love you,”


Udara malam yang dingin memberikan kesempatan kepada keduanya untuk bernostalgia. Rasa ciuman yang pernah tertinggal jauh di belakang dapat dirasakan kembali.


“Mel, aku rindu kamu, rindu semua tentang kamu,”


Melly menekan bibir Hendra dengan ujung jari telunjuk. Menekan jarinya hingga masuk ke dalam mulut Hendra.


Bibir Melly yang mereka dengan warna oranye begitu seksi. Hendra menelan ludahnya sendiri. Menghisap jari yang menyentuh bibirnya hingga masuk ke mulutnya.


Melly yang menyadari keinginan Hendra hanya tersenyum menggoda. “Ayok berangkat, sampai rumah cepat, Bagus kan?”


Ah, “di rumah ada mami, Auren. Jika kita pulang, kita tidak akan mendapatkan apapun.” Hendra menarik kepala Melly untuk mendekat. Dengan cepat Hendra menyambar lagi bibir yang selalu mengganggu pikiran nya.


“Mel, aku rindu saat Kita pertama kali melakukan.”


Melly tidak bisa memberikan jawaban. Mulutnya sudah sibuk dengan menyeimbangkan antara bernafas dan liarnya permainan Hendra.


Hendra begitu terbakar emosi, tangannya terus bergerilya menyusuri bagian dalam baju Melly. Menyusup Gundukan kenyal Melly yang mengeras. Bagian ujung gundukan tampak membesar dan hitam kecokelatan.


“Mel, tekan itu lebih kencang.”


Tidak bisa menunggu tujuan, Hendra sengaja menghentikan kendaraannya ke tepi jalan yang terlihat sedikit lenggang.


Hormon testosteron yang naik dengan cepat, tidak ingin berkerja sama.


Melly membuka bagian bawah pusar Hendra. Mencengkeram erat bagian yang telah mengencang.


“Hen, aku rindu kamu. Menikahlah denganku.”


Hmmm... Hendra mengangguk, tidak ingin terganggu acara menikmati hisapan pada bibir Melly. “Tunggu 40 hari Queen kita akan memiliki dunia ini berdua saja.” Terbata-bata Hendra memberikan jawaban.


Hendra memejamkan mata menikmati sentuhan Melly. Sesekali menghembuskan nafas dengan tertahan, hingga pada akhirnya Hendra meregang kenikmatan di bawah wanita itu.


Hendra menyimpulkan bahwa kehadiran Melly adalah Takdir yang sesungguhnya.


Ini ke sekian kalinya Hendra menyeimbangkan permainan. “Melly kamu luar biasa.” Hendra tampak ngos-ngosan menahan rasa nikmat yang berkali-kali lipat nikmatnya. Matanya terpejam mengekspresikan diri.


Selain itu, Melly tidak memberikan kesempatan pada Hendra untuk melakukan perlawanan. “Malam ini biarkan aku yang berkuasa.” Ucap Melly menantang di telinga Hendra.


Lelaki tampan itu hanya mengerang, tubuhnya menegang menjawab kerasnya permainan sang mantan.


Belum puas permainan di jalanan kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu melanjutkan pergi ke sebuah losmen yang berdiri di perkebunan kelapa sawit di tepi pantai.


Menikmati keindahan alam yang di padu dengan indahnya malam penuh gairah.


“Mi, aku titip Alfat dan Ernando. Ada perjalanan mendadak yang harus aku lakukan.” Ijin Hendra pada ibunya melalui telfon.


Sang ibu tertawa keras, “iya nikmati perjalananmu, biarkan mami yang menjaga rumah.”


Hendra menutup handphone, mengecup manis kening Melly yang bersandar di bahunya.