
Satu Minggu berlalu...
Martin dan Rena menghabiskan waktu bermain suami istri selama satu Minggu ini.
Rena seakan mengetahui segalanya dan semua kebutuhan yg dia beli di mal benar benar berguna di saat seperti ini.
Tapi setiap kali Martin bertanya, Rena selalu mengalihkan pembicaraan dengan kemampuan goyangan pinggulnya yg tidak mampu di tahan oleh Martin.
Hingga malam ini, suasana tiba tiba berubah.
Rena yg biasanya periang tiba tiba menunjukan wajah kehilangan dan kesedihan yg mendalam.
Di depan api unggun dan di bawah sinar bulan yg terang, Rena yg duduk di pangkuan Martin perlahan membuka mulutnya.
"Martin ku sayang..." suara sedih Rena langsung membuat hati Martin merasa tidak nyaman.
"Tolong dengarkan aku dan jangan menyela, aku akan mengatakan apa yg selama ini menjadi beban pikiran mu"
Martin hanya mengangguk sambil membelai rambut Rena dengan penuh kasih.
Entah kenapa dia merasa akan kehilangan Rena setelah dia selesai mendengar kata kata Rena.
Tapi Martin segera membuang perasaan itu dan berusaha untuk tetap kuat, karena dia memang perlu mengetahui apa yg sebenarnya terjadi saat ini.
"Sebelum itu kamu harus tahu bahwa aku bukan Rena yg sesungguhnya"
"Aku hanya sebuah kesadaran yg datang dari masa depan dan saat ini sedang mengendalikan tubuh Rena."
Walaupun Martin terkejut, dia tetap tidak menyela dan hanya mengangguk.
Melihat ini Rena tersenyum lembut dan mulai melanjutkan kata katanya.
"Saat ini kita di kirim ke dunia lain yg bernama Eldora"
"Dunia fantasi di mana ada sihir dan kekuatan ajaib sama seperti novel novel di dunia mu"
"Hanya saja dunia ini sedang dijajah oleh mahluk dari kegelapan yg datang entah dari mana"
"Sekarang kita berada di wilayah pengujian dimana ini adalah persimpangan antara dunia mu dan dunia ku"
"Bagi yg tidak lulus akan di kirim kembali dengan ingatan yg sudah di hapus dan yg lulus akan menerima sebuah sistem lalu melanjutkan ke ujian kedua yaitu ujian pemilihan kelas."
"Ujian ketiga adalah tahap peringkat dimana kalian berlomba lomba untuk membunuh monster untuk mendapat peringkat tertinggi dan mendapatkan hadiah yg dapat membantu mu"
"Tapi saran ku jangan memilih kelas apapun karena itu hanya akan menghambat perkembangan mu, di tahap ke tiga cukup bertahan hidup dan yg terakhir berhati hatilah dengan kakak mu."
"Kakak mu menggunakan pusaka ajaib untuk kembali ke masa lalu dan dengan kekuatan pusaka itu juga aku bisa bertemu dengan mu."
"Sebentar lagi kalian akan dipindahkan ke ujian kedua dan Rena akan lupa tentang apa yg pernah kita lakukan, he he he he....."
Seketika alis Martin berkedut mendengar tawa jahat Rena.
"Lalu siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu melakukan ini pada ku?"
"Sudah berapa kali aku bilang jika aku sangat mencintai mu dan untuk siapa aku sebaiknya kamu tidak perlu tahu karena setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, jangan mencari ku dan hiduplah sesuai keinginan mu, aku tidak ingin menjadi beban mu."
Seketika Martin menghela nafas lega. "Untunglah, aku hampir putus asa memikirkan cara lepas dari mu."
Seketika tubuh Rena menegang dan wajahnya mulai memerah karena marah.
Tapi sebelum Rena melampiaskan kemarahannya, Martin segera mencium bibirnya.
Tubuh kaku Rena perlahan mulai melunak dan air mata Rena perlahan mulai menetes.
Martin dengan lembut menghapus air matanya sambil berkata. "Siapapun kamu, aku juga mencintai mu. jika aku menemukan petunjuk maka aku pasti akan mencari mu."
Air mata Rena semakin deras dan dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Jangan, aku tidak ingin kamu mati lagi. Hiduplah selama mungkin dan temukan wanita lain yg kamu cintai."
"ingatlah untuk tidak pernah percaya dengan kakak mu, jauhi dia dan orang orangnya."
Tapi sebelum Rena menyelesaikan semuanya, dia tiba tiba pingsan.
Sebuah cahaya pelangi keluar dari tubuh Rena dan melesat ke langit.
Rena yg ada di pangkuan Martin juga tiba tiba menghilang dan lingkungan di sekitar Martin juga berubah menjadi sebuah ruangan seperti aula yg di penuhi oleh orang orang asing.