
"Mbak Susan!" Menjelang dini hari, saat David dan Susan pulang, Hanifah yang baru selesai tahajud langsung mencengkeram lengan Susan dan menyeret wanita seksi itu ke balik pintu, jauh dari jangkauan David yang terbelalak kaget.
Baru kali ini dia melihat Hanifah menggebu-gebu.
"Duh duh! Apa sih Ipah!" Desis Susan.
"Bagaimana caranya menyingkirkan laki-laki yang naksir sama kita?!"
"Hah?"
"Aku harus gimana? Aku belum boleh pake cadar lagi!"
"Memang apa yang kamu nggak suka dari Galuh? Dia kan sempurna untuk kamu,"
"Bukan Mas Galuh!"
Susan langsung bengong. Ia tampak berpikir mengenai maksud kata-kata Hanifah.
"Aaah... Sudah mulai tebar pesona kamu yaaa, ih, Ipah genit ih!" Goda Susan akhirnya, sambil mencolek pinggang Hanifah.
"Aku ini serius mbak! Risih rasanya! Sampai-sampai aku mandi dua kali karena keingat sama tatapan merayu, sayu, terlihat bernafsu! Dan lain sebagainya lah! Ih!!"
"Indra Yodhayasa hartanya triliunan loh, Pah..." Goda Susan.
"Bukan masalah harta triliunan! Dia suami yang soleh apa enggak? Tobat nasuha nggak dia?! Kerjanya tiap ke cafe cari miras melulu!" Hanifah mengomel bagaikan mertua yang mendapati menantunya lalai cuci piring.
Terdengar kekehan geli David dari balik pintu.
Hanifah membuka pintunya dan mendapati David sedang bersandar di daun pintu sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kok Mas David nguping, sih?" Omel Hanifah.
"Assalamu'alaikum Hani, kamu belum balas salam saya tadi," Desis David.
"Eh? Ah iya," Hanifah memekik, "Astaghfirullah, maaf Mas! Aku tuh lagi sebel sama orang!"
"Sekarang manggil saya pake Mas yah, nggak papa sih, lebih nyaman kedengarannya," David menyeringai.
"Yah, aku hanya berusaha mengikuti alur," desis Hanifah.
"Yang kamu maksud tadi, Indra Yodhayasa? Benar?" tanya David.
Hanifah mengangguk.
"Tadi kamu pulang diantar siapa?"
"Jadi, Mas Galuh sebenarnya mau antar aku pulang, dan aku seharusnya lembur bantuin Chef Jaya. Tapi Pak Indra ngekor terus, jadi terpaksa saat ada kesempatan aku langsung kabur pulang sendiri! Akhirnya aku naik ojek online,"
"Hahahahahahahaha!!" Susan langsung terkakak. "Ya ampun, si Ipah punya fans fanatiiikkk!!"
"Lagian apa maksudnya sih ikutin aku kemana-mana? Aku lagi gilas adonan dia berdiri di depanku, ngeliatin! Aku lagi kasih cream cheese dia di sebelahku! Aku kan jadi salah tingkah yang harusnya adonan bentuk bintang jadi keliru bentuk bulat! Sampai Chef Jaya begah dan akhirnya dia kerjakan semua sendiri! Kan aku jadi nggak enak Mbak!" Hanifah sepertinya mulai panik.
"Tempat teraman buatku cuma di toilet wanita!" Tambahnya.
Tak ayal, Susan dan David malah terbahak hampir berbarengan.
"Yah, itu salah satu pembelajaran untuk kamu, Ipah. Kalau sudah tegas dia masih mengejar-ngejar juga, ya gunakan cara lain. Seperti menghindar atau mengancam,"
"Kok malah ekstrim sih Mbak, aku mau yang lebih halus, gitu loh," Hanifah menatap David, "Mas David nggak bisa bantu aku? Seperti mengusir Pak Indra menjauh atau bagaimana?"
"Dia sudah tahu kalau saya akan melepaskan kamu dan Alwa. Dia juga pihak yang terlibat terhadap kesuksesan misi Suleyman ini,"
"Pak Indra itu siapa sih Mas sebenarnya?!" Seru Hanifah panik.
David menggaruk tengkuknya, "Semua bodyguard saya sewa dari dia. Indra itu teman kuliah saya waktu di MIT, bisa dibilang, kami itu nakal bareng-bareng. Gitu-gitu dia sebenarnya hapal Al-Qur'an loh, bahasa Arabnya juga bagus karena kami punya kantor cabang di Dubai dan Qatar. Hanya hatinya saja masih ditutup Yang Maha Kuasa,"
"Astaghfirullah," desis Hanifah. "Sayang sekali kalau tidak diamalkan,"
"Wanita kasar di sebelah saya juga lancar bahasa Arab, tapi biasanya yang versi untuk berdebat," David melirik Susan dengan sinis.
"Tidak juga, aku belajar bahasa itu karena seringkali berguna. Laulal ilma lakaanannaasu kal bahaaim," (Kalaulah tidak karena ilmu, manusia itu seperti binatang) kata Susan.
"Al ilmu bilaa amalin kasyajari bila tsamarin." (Ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tidak berbuah) sahut David.
"Hoi! Maksudnya apa'an tuh! Nyindir?!" Susan memukul bahu David.
"Hmph!" Dengus David sambil mengelus bahunya yang terasa perih.
Hanifah menatap mereka dengan terpana. Mereka begitu pandai dan malah terlihat keren di mata Hanifah. Ia yang setiap hari mengaji dan belajar mengenai fiqih, malah belum lancar berbahasa Arab. Isi Al-Qur'an pun ia belajar dari terjemahan. Sungguh sangat sayang apabila mengetahui persis artinya namun malah berbuat sebaliknya.
"Kami belajar bahasa Arab murni untuk berbisnis, untuk menerjemahkan isi kitab suci masih harus dikaji lagi lebih dalam oleh profesional, karena banyak arti yang bias," kata David seakan ia mengerti isi hati Hanifah.
"Dia bisa mencoreng nama baiknya sendiri dalam sekejab. Mana ada Hafidz tukang mabok? Mau hapal sampai alam bawah sadarnya kalau tingkahnya kayak setan ya percuma," gerutu David.
"Apa karena itu dia mengincar Ipah? Karena dia ingin disadarkan?"
"Wah, Indra tidak tertebak orangnya. Aku tak tahu jawabannya. Yang pasti, kalau dia sudah menginginkan sesuatu, dia akan terobsesi untuk mendapatkannya," katta David.
Mendengar hal itu Hanifah menarik napas sambil mengelus kedua lengannya yang merinding.
David melihat tingkah Hanifah dan mengelus puncak kepalanya, "Jangan kuatir, Indra tidak akan menyentuh kamu, kalau kamu tidak mengizinkan. Dia cukup gentleman orangnya,"
"Asal tahan saja dengan rayuan-rayuan mautnya, lidahnya juga tajam loh. Dia itu hanya bersikap kalem kalau sama Eyangnya," kata Susan.
Lalu karena hari semakin larut,
"Sudah ah, besok kamu free time kan? Galuh besok harus meeting seharian, dan sepertinya Indra juga hadir. Jadi nikmati waktu kamu seharian untuk istirahat ya Pah," Susan menggeliat sambil menguap.
Hanifah mengangguk dan menghela lega. Ia berencana mau ke toko Mas karena tadi tidak jadi. Hal itu karena Galuh juga terus mengekornya sebelum ke cafe.
Hanifah melihat Susan berjalan ke kamarnya, namun David menarik lengan kurus wanita itu dan menariknya ke kamarnya. Susan protes dan menepis tangan David.
Lalu pria itu malah membopong tubuh mungil Susan untuk masuk ke kamarnya.
"Kamu seharusnya udah puas tadi!" protes Susan.
"Cuma mau tidur bareng sama istri sendiri kok nggak boleh sih!" Omel David.
"Aku capek! Pinggangku serasa mau remuk dibolak-balik!"
"Ini itu cuma mau tidur doang Susaaan!"
Brak!
Dan tertutuplah pintu kamar David yang didorong dengan ujung kaki pria itu.
Hanifah menghela napas lagi.
Ia iri.
Bukan iri dengan Susan bisa diperlakukan seperti itu oleh David. Tapi iri karena ia belum pernah merasakan hal seromantis dua sejoli itu.
Tampaknya rasanya menyenangkan bisa bersenda gurau dengan pria yang dicintai.
David terasa lebih lepas saat bersama Susan. Tawanya lebih lebar tanpa dipaksakan.
Saatnya untuk mengikhlaskan. Hilangkan semua rasa cinta yang tersisa dengan orang yang tidak tepat untuk kita.
Jangan dipaksakan, kita tahu hasilnya malah akan menyakitkan diri sendiri.
Jadi, lepaskan saja semuanya, berserah kepada Yang Di Atas.
Yakinlah kalau benang merah jodoh, pasangan tubuh dari tulang rusuk yang terbagi, pasti sedang berada di tempat lain.
Lagipula...
Katanya Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri yang terpendek dari Adam.
Tulang rusuk manusia yang terpendek, adalah Tulang Rusuk Melayang. Jumlahnya satu di kanan dan satu di kiri.
Itu berarti, seharusnya, hanya ada satu wanita untuk satu orang pria. Bukan empat wanita untuk satu pria.
Begitu bukan?
Hanifah menyeringai dengan pembelaan dirinya barusan. Dark jokes, pikirnya.
Lalu, untuk bunga tidur malam ini. Hanifah meraih ponselnya yang ia simpan di saku.
Lalu mengirimkan pesan singkat ke Galuh.
Assalamu'alaikum, Mas Galuh. Maaf tadi saya pulang duluan, Inshaa Allah besok kita bisa lebih banyak mengobrol. Selamat tidur, jangan lupa berdoa.
Lalu wanita itu tersenyum dengan pipi merona. Mengira-ngira reaksi Galuh saat menerima pesannya.
Baru saja Hanifah akan menutup pintu kamarnya, dering notifikasi terdengar dari ponselnya.
Hanifah merogoh ponselnya dan membuka WA dari ... Galuh.
Wa'alaikumsalam Mbak Hani. Saya jadi kangen. Hehe.
Astaga, ini sih nggak bakalan bisa tidur malam ini!