
Zehan ingin marah tapi tidak jadi setelah mendengar seluruh cerita yang didengar oleh Hasya, lagi-lagi gosip murahan tentang dirinya dengan Melinda, diapun harus tetap diam hingga hari lamaran itu yang tinggal beberapa hari lagi.
"Sayang, menurutmu diantara empat orang yang tingkahnya paling mirip dengan ku siapa?" tanya Zehan setelah Hasya rampung dengan uneg-unegnya.
"Hmmm... kalo kak Gibran, terlalu tinggi, kalo Joon Woon anak itu postur badannya terlalu berisi mudah untuk membedakannya. Sedang Keni, sudah setahun ini ia memanjangkan rambutnya. Paling mirip sih ya Hejun, bahkan kadang aku mencium bau parfume yang sama dengan mu darinya, tapi tetap saja aku masih bisa membedakannya karena bau keringat kalian tetap berbeda sih menurutku." jelas Hasya sambil berpikir juga sambil menjentik-jentikan jari telunjuknya di dekat bibirnya.
"Jadi menurutmu aku lebih bau dari Hejun begitu maksudnya?"
"Bukan begitu Mas, tapi seorang istri itu penciumana memang sedikit lebih tajam, dia bisa mengenal bau keringat suaminya meski pun suaminya sedang berada ditengah kerumunan orang, kalo mas ngga percaya mas boleh tanya mbah google"
"pck!!" Zehan tetap saja kesal.
"Tapi emang apa hubungannya..??" Hasya masih bingung, namun Zehan hanya menatapnya seolah berkata "kamu yakin tidak paham?"
"Ahh jangan-jangan, Hejun ya yang mau menikah dengan Melinda?" kata Hasya tepat saat Zehan akan menjelaskan bahwa Hejun lah yang akan menikah bukan dirinya. Zehan hanya mengangguk mengiyakan.
"Hah?? Beneran??"
"Jadi masih curiga sama mas?"
" Tergantung" delik Hasya. mendengar hal itu bibir atas Zehan mengernyih sebal.
"Cih dasar wanita!" Zehan lantas beranjak menuju kamar mandi setelah dirasa masalahnya sudah selesai, namun tangan Zehan ditahan oleh Hasya.
"Mas yakin mau mandi sendiri" kata Hasysa mengulum bibirrnya seraya membuang muka menyembunyikan rona wajahnya yang bersemu merah. Tanpa malu-malu dan senyum tertahan Zehan langsung membopong istrinya ke kamar mandi untuk mandi bersama.
......................
Pukul tiga lewat seperempat seperti biasa Hasya sudah bangun terlebih dahulu dari pada Zehan yang masih tertidur dengan lelapnya. Sejak ia hamil lagi ia memang lebih mudah terbangun saat dini hari menjelang subuh, kesempatan itu ia gunakan untuk sholat tahajud, baru kemudian sedikit bersih-bersih membantu meringankan pekerjaan bi Rani, meski pekerjaan Bi Rani juga tidak terlalu berat tapi tetap Hasya melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan dari dulu, seperti merapihkan tempat tidurnya, menyiapkan bahan masakan untuk sarapan, tapi tidak jarang juga bi Rani suka protes mengomel karena pekerjaannya diserobot Hasya semua.
Setelah membersihkan diri dan sholat tahajud, Hasya kemudian keluar kamar menuju dapur karena merasa lapar. Baru ia keluar kamar ternyata sudah ada bi Ani yang sedang membersihkan barang-barang porselen di dekat kamarnya Hasya.
"Lho non Hasya udah bangun toh?" Bi Ani masih masih suka terheran padahal sudah beberapa kali melihat Hasya terbangun di jam yang sama.
"Iya bi, tadi abis tahajud, tapi dede bayi kayanya laper" kata Hasya sambil mengusap memutar perutnya yang makin terlihat membesar, yah wajar usia kandungannya memasuki bulan ke delapan. Sesuai perjanjian Hasya harus mau pindah ke mantion setelah acara tujuh bulanannya. Mau tidak mau Hasyapun pasrah, ia juga kasihan pada Zehan yang harus terus bulak balik Jakarta-Ciwidey, dan mau tidak mau Ia juga harus memindahkan sekolah Deliza, karena kalau Zesya tidak ada masalah karena memang bertepatan dengan kelulusannya sekolah SD-nya.
"Oalah,, dedenya mau nenek buatkan apa?" kata Bi Ani sambil ikut-ikutan mengelus lembut perut buncit Hasya.
"Tolong buatkan aku susu saja bi, nanti tolong antar ke kamar ya," pinta Hasya.
"Iya nanti bibi antar ke kamar non" Hasya pun masuk kembali ke kamarnya. Lalu ia duduk di bibir tempat tidur dan memperhatikan wajah tampan suaminya. Zehan bergerak dan membuat tubuhnya terlentang sekaligus mengekspos dada bidangnya yang telanjang.
"Kalo ngga ganteng nanti kamu ninggalin aku" kata Zehan dengan mata masih terpejam
"Lho kamu udah bangun mas? Sejak kapan?"
" Sejak kamu keluar kamar tadi"
"Oh barusan aku mau ke dapur, bikin susu, tapi ada Bi Ani, ya udah aku minta tolong Bi Ani, Capek soalnya naik turun tangga"
"Oiya kandungan kamu udah mau delapan bulan, harusnya sejak awal kita pindah ke kamar di lantai bawah aja biar kamu ngga kecapean" sesal Zehan.
"Ngga apa-apa, biar aku ada olahraga dikit, tapi emang sih lumayan bikin sesek."
"Ya udah besok minta bi Ani buat pindahin barang-barang kita ke kamar lantai bawah, dari pada kamu nanti kecapean terus kepeleset terus ngegelinding kan bahaya"
"Ngegelinding? Emang aku segendut apa sampe kamu katain aku ngegelinding kalo jatuh dari tangga?" Hasya tidak terima dikatai gendut oleh Zehan.
"Maksud aku bukan gitu sayang,.."
"bodo ah!! Males!!" Hasya beranjak dari tempat tidurnya sambil menghentak hentakan kakinya Hasya kemudian keluar kamar meninggalkan Zehan yang yang termangu menyesali kata-katanya barusan. "Haduuuuhh !!! gagal deh serangan fajarnya!" sesal Zehan frustasi padahal niatnya, sebelum sholat subuh Zehan berniat bermesraan dengan Hasya, namun karena satu kata ngegelinding malah gagal total semuanya, parahnya Hasya malah ngambek sekarang.
Pagi menyingsing, Zesya sudah siap dengan seragam SMP-nya, sedang Deliza masih dengan seragam SD-nya. Khusus untuk Deliza ia sebelum ia masuk ke sekolah barunya terlebih dahulu ia harus menjalani test kesetaraan perpindahan, karena tetap ada perbedaan antara desa dan kota, namun karena test itulah Deliza yang seharusnya ke 5, malah langsung ke kelas 6, yang meskipun langsung SMP juga dia bisa, tapi dia lebih memilih langsung ke kelas 6 saja supaya tidak terlalu mencolok.
Hasya menyidukan nasi putih pada piring Zehan, dan anak-anak. kemudian ia pun menambahkan beberapa lauk pendamping seperti sayur capcai dan goreng telur mata sapi di piring ketiganya.
"Sayang kamu ngga sarapan juga? "
"Sarapan kok, tadi pagi kan udah minun susu hamil," tidak lama kemudian Bi Ani menyuguhkan jus wortel kepada Hasya.
"makasih bi" Bi Ani hanya mengangguk kemudian kembali ke dapur.
"Nih sarapan aku udah dateng" kata Hasya lagi.
"Iya ngga apa-apa, tapi nanti harus makan lagi jangan diet-diet!" kata Zehan setelah melihat Hasya sarapan hanya dengan segelas wortel, ia paham istrinya masih ngambek karena kata-katanya tadi subuh. Hasya hanya menjawab "hmm" sambil meminum jus wortelnya dengan tatapan dan ekspresi kesal pada suaminya.
"Dadah dede,Aa sama teteh sekolah dulu ya, ade jangan nakal, kasian mama" kata Zesya berbicara pada perut Hasya, lantas dengan mencium perut Hasya bergantian. Zehan tidak banyak berkata-kata ia hanya mencium kening dan perut Hasya baru kemudian menyusul anak-anaknya yang sudah menunggunya di mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...