Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
48. Karena Kamu Aku Marah


Janus tertidur begitu lelapnya hingga suatu ketika cahaya fajar dari balik jendela menyoroti wajahnya. Ia pun terbangun dengan mata yang setengah terbuka. Saat ia terbangun, entah mengapa sebuah selimut menyelimuti tubuhnya. Padahal semalaman ia tertidur tanpa menggunakan selimut. Ia pun menerka-nerka bahwa Astrid lah yang telah menyelimutinya semalam. Bagaimana bisa Astrid menyempatkan waktunya, untuk pergi keluar dari kamar hanya untuk menyelimuti suaminya itu. Padahal ia sendiri tengah marah pada Janus.


Janus beranjak dari sofa untuk segera bersiap-siap berangkat kerja. Saat ia usai bersiap-siap, Janus kemudian pergi ke meja makan. Sesampainya di sana, Astrid masih di sibukan menyiapkan sarapan di dapur. Hanya butuh sedikit bantuan, kemungkinan sarapan akan segera siap. Janus pun menghampiri Astrid yang tengah di sibukan menyiapkan sarapan di dapur.


"Hm, apa tadi malam kamu yang memberiku selimut? jika benar, makasih ya," ucap Janus bernada gugup.


Astrid diam seribu bahasa, mengabaikan Janus yang tengah berdiri di sampingnya itu. Ia masih saja nampak marah kepada suaminya, setelah kemarin ia bertengkar hebat. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut manis perempuan tengah di sibukan menyiapkan sarapan. Pikiran Astrid masih terlintas tentang kejadian kemarin. Tentang Janus yang tak henti memandangi Luna dengan raut wajah sedihnya, dan juga tentang Janus yang memarahinya karena sikap Astrid yang berlebihan terhadap luna dan Bayu. Membalas cacian dari Bayu mungkin itu hal yang wajar bagi Astrid. Walau bagaimana pun Astrid yang sebagai istri tak akan tinggal diam, jika suaminya di caci meskipun orang tersebut keluarganya. Tapi bagi Janus tindakan Astrid merupakan hal yang kekanak-kanakan.


Beberapa hidangan telah siap, Astrid kemudian mengangkat piring-piring yang telah di isi dengan hidangan yang di buatnya. Saat ia akan beranjak dari dapur, Janus langsung saja mengambil piring yang tengah di bawa Astrid.


"Biar aku saja yang bawa."


Janus membawa dua piring yang tadi di bawa Astrid ke meja makan. Begitu pun setelahnya, lagi-lagi dua piring yang di bawa Astrid kembali di bawakan Janus ke meja makan. Tindakan Janus tak membuat Astrid ingin mengucapkan kata terima kasih sedikit pun. Karena saat ini ia masih merasa kesal terhadap suaminya tersebut.


Saat piring-piring telah di tata Janus di meja makan. Keduanya pun duduk untuk segera menyantap empat hidangan yang di buat oleh Astrid.


"Soal kemarin, aku minta maaf, aku tak bermaksud begitu. Hanya saja sikapmu terlalu kekanakan. Bukan berarti tindakanmu salah, tapi kita harus menghadapi Bayu itu dengan cara dewasa," ucap Janus sembari menyantap hidangan.


Seketika Astrid berhenti melahap, ia kemudian meletakan sendok dan garpunya di atas piring.


"Kamu pikir sikapku kekanakan. Bukankah sikap Bayu yang lebih kekanakan, kamu harusnya bertindak saat Bayu dan ibu sambungmu mencacimu. Diam saja bukan berarti baik, setidaknya kita harus bisa menyumpal mulut busuk dari mereka." Dengan raut wajah yang nampak marah, Astrid berdiri dari tempat duduknya lalu berkata. "Kamu tahu kenapa kamu masih ketergantungan obat, itu karena kamu yang tak bisa melampiaskan amarahmu kepada orang-orang seperti mereka."


Astrid pun segera beranjak pergi sembari membawa tasnya. Sementara Janus langsung saja terdiam saat kata-kata Astrid menusuk ke dalam dirinya. Bukan ia tak marah saat kakak dan ibu sambungnya mencaci. Dengan tak membalas tindakan mereka, itu merupakan sikap dewasa bagi Janus. Atau mungkin karena Janus memang sudah terbiasa mendapat cacian dari mereka. Hingga membuatnya jadi acuh saat mereka mencacinya.


...****************...


Sesampainya Astrid di sekolah, raut wajahnya masih saja memancarkan kekesalan. Tak hanya kemarin saja Janus telah membuat marah istrinya, pagi ini juga Janus telah membuat istrinya kembali marah. Astrid sampai tak bisa berkata-kata lagi saat Janus masih saja menyalahkannya atas tindakan kemarin.


"Jika dia ingin meminta maaf, maka seharusnya meminta maaf saja. Bukan menambahkan kata-kata yang membuatku kesal," gumam Astrid di benaknya.


Tiba-tiba saja Alula dan Hilda datang menghampiri Astrid sembari mengejutkannya.


"Woy," teriak Alula dan Hilda serentak.


Seketika Astrid di buat kaget dengan suara keras dari kedua temannya itu.


"Gila ya," ucap Astrid kesal.


Marahnya belum juga reda, ia malah di buat kesal oleh aksi jahil dari kedua temannya itu. Dengan ekspresi kesalnya, Astrid berjalan terburu-buru memasuki kelasnya. Yang kemudian ia duduk sembari menundukan kepala di meja.


"Kamu kenapa sih Trid?" tanya Hilda menghampiri Astrid yang tengah duduk sembari menutupi wajahnya di atas meja.


"Tidak apa-apa," jawab singkat Astrid.


"Apa kamu lagi sakit, mau ku antar ke UKS tidak," sambung Alula.


"Kamu kenapa sih?" tanya kembali Hilda.


Astrid yang tengah kesal itu, terdiam mengacuhkan kedua temannya. Hingga membuat kedua temannya merasa kebingungan dengan sikap Astrid yang tak seperti biasanya.


Lalu tiba-tiba saja Bintang datang menghampiri Astrid.


"Hei." Bintang menepuk lembut pundak Astrid.


Namun, Astrid masih saja menundukan kepala di atas meja. Bintang pun kembali menepuk lembut pundak perempuan yang tengah di landa kekesalan itu.


"Trid," ucap Bintang.


Astrid pun mendongkak ke arah Bintang. "Apa sih."


"Maaf sepertinya aku menganggumu. Lain kali saja kita bicara," ucap Bintang melangkah pergi.


Seketika Astrid pun berdiri dari tempat duduknya, yang kemudian segera mengejar Bintang yang masih belum terlalu jauh pergi.


"Bintang tunggu," teriak Astrid.


Bintang pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Astrid.


"Kamu tidak menggangguku ko. Jadi hal apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Astrid.


"Hm, sepulang sekolah aku ingin mengajakmu ke rumahku. Soalnya aku akan memasak beberapa hindangan untukmu," jawab Bintang sembari menggaruk tengkuk yang tak terasa gatal.


"Memangnya kamu bisa memasak?" tanya kembali Astrid sembari tersenyum manis menatap Bintang.


"Aku tidak bisa memasak, tapi aku akan belajar memasak dengan pembantu di rumahku. Jadi kamu bisa kan datang ke rumah untuk mencicipi masakanku."


"Iya aku pasti datang ke rumahmu."


"Baguslah, sepertinya sebentar lagi masuk. Aku ke kelas sekarang ya." Sembari beranjak pergi, Bintang tersenyum kegirangan setelah pacarnya itu menjawab dengan yakin permintaannya tersebut.


Namun, ketika Astrid akan kembali ke kelasnya. Ia mendapati dompet kulit berwarna coklat di bawah kakinya. Astrid pun segera memungut dompet tersebut. Saat dompet di bukannya, terdapat kartu pelajar atas nama Bintang. Astrid pun segera melangkahkan kakinya pergi ke kelas Bintang. Namun sayangnya belum juga sepuluh langkah ia melangkah kakinya, tiba-tiba bel berbunyi. Terpaksa Astrid pun harus berbalik dan kembali ke kelasnya.


"Giliran sama Bintang, kamu bahkan rela mengejarnya. Tapi giliran sama kita, malah di abaikan," sindir Alula.


"Maaf, tadi aku sedang kesal. Jadi kalian kena imbasnya," ucap Astrid sembari merangkul Alula.


"Tapi ingat, meski Bintang pacar kamu, bukan berarti kamu lupa dengan statusmu. Jadi lebih baik kamu segera putuskan dia," ucap Hilda.


Astrid pun di buat diam tak berucap dengan apa yang di ucapkan Hilda padanya. Apa yang di ucapkan Hilda memang sedikit menusuk. Hingga membuatnya tak bisa berkata-kata.