
(Tadi ada yang bilang judul yang baru tidak cocok ya Kak? ππ€ anggap saja untuk mengundang pembaca mampir ya Kak πππππ)
"Kalian mau meninggalkanku begitu saja?" ucapnya dengam wajah terlihat begitu frustrasi.
Bang Alven kembali memutar tubuhnya. "Hmmm, apa yang terjadi denganmu?"
"Kalian jangan pergi dulu!" Wajahnya terlihat sangat lesu. Sepertinya, hal yang menimpanya lebih berat dari apa yang aku rasa.
Aku lihat jam tangan telah menunjukan waktu pukul lima sore. Kak Vina pasti kebingungan bila aku pulang terlalu lama. "Maaf ya, Pak. Saya harus segera pulang. Nanti Elena akan kebingungan bila saya pulang terlalu lama."
Pak Arendra dan Bang Alven serempak melihat jam tangannya masing-masing. Aku pun menaiki kendaraan dan sepertinya Bang Alven tidak jadi mengikutiku. Syukur laah ... sungguh memusingkan jika dia terus mengekor seperti anak kecil begitu.
Aku melaju dan setengah jam kemudian sampai di rumah dan seperti biasa Kak Vina bagian terakhir yang pulang. Setelah menutup pintu toko, aku segera membersihkan diri bersama Elena dan menyiapkan makan malam.
π΅ la la la π΅
Ada panggilan masuk dan aku segera melihat siapa yang menelepon. Ternyata itu panggilan dari Pak Arendra. Angkat nggak ya? Namun, melihat kondisinya tadi membuatku ikut sedih. Meskipun aku pun tak merasa baik-baik saja, sepertinya dia mengalami hal yang lebih buruk lagi.
Aku geser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel ke telinga sembari memasak nasi goreng untuk menu makan malam sederhana kami berdua. Aku belum sempat menyetok protein hewani lain karena kesibukan yang tiada henti di setiap waktunya.
π³"Kamu sudah makan?" Yang di seberang tanpa salam tanpa basa basi langsung menyerobot dengan pertanyaan itu.
"Ini saya lagi masak."
π³"Masak?"
"Iya."
π³ "Buka pintunya!"
"Pintu?"
π³ "Aku lagi di depan tokomu."
"Ooh, silakan pulang ke rumahnya sendiri. Bukan pulang ke rumah orang."
π³ "Cepat laah, aku mohon. Aku lagi malas pulang ke rumah."
"Lalu, tujuan pulang ke sini apa, Pak?"
π³ "Jadi kamu tidak mau menolongku?"
"...???"
π³ "Ya sudah lah ...." Suaranya terdengar lesu.
"Tunggu! Saya akan membukakan pintu."
π³ "...."
Aku matikan kompor dan berpesan pada Elena untuk menunggu sejenak. Setengah berlari, aku segera menuju ke bawah dan membuka pintu toko. Aku intip sejenak, dia tengah meringkuk bersandar pada dinding di samping pintu.
"Bapak kenapa?"
Dia hening menghembuskan nafas dengan berat. Dia masuk mendahuluiku dan tanpa pikir panjang langsung menaiki tangga. Tidak lupa kututup pintu dulu.
Sampai di atas, Elena tampak telah berada dalam pangkuan dosenku ini. Dia menatapku sejenak.
"Apa aku boleh numpang makan di sini? Numpang menghilang sejenak dari masalah yang sedang menimpaku?
"Terserah, Pak. Asalkan janji pulang setelah tidak merasa pusing lagi." Aku melanjutkan kembali acara masak memasaknya. Lumayan, ada yang menemani Elena, hingga tidak rewel bergelayut di kaki saat sibuk menyiapkan makanan.
Setelah selesai, aku siapkan masakan untuk tiga orang dan ada satu yang tumpukannya paling tinggi. Pak Arendra terbelalak melihat tumpukan paling tinggi kuberikan padanya.
"Kamu ikhlas nggak sih memberiku makan? Emangnya aku serakus itu?"
"Jadi nggak mau?" Aku ambil kembali piring tersebut, tetapi sudah ditahan oleh tangannya.
"Tunggu, aku akan berusaha untuk menghabiskannya." Dia duduk duluan di kursi meja makan.
Elena sudah duduk manis di kursi yang ada di dekatku. Seperti biasa, emak-emak ... mendahulukan makan bagi anaknya. Namun, makanan Elena belum habis, piring Pak Arendra telah kosong tak bersisa.
"Ternyata aku lapar," gumamnya tersenyum kikuk.
"Mau lagi?"
"Boleh, kalau masih ada."
Aku pun mengambilkan nasi goreng yang masih tersisa di wajan. Setelah menyerahkan kembali padanya, aku melanjutkan menyuapkan Elena.
Tengah asik menyuapkan Elena, sebuah sendok berisi nasi goreng tengah mengambang di depan wajahku. Aku lihat tangan Pak Arendra dan dia menyuruhku membuka mulut. Aku menggelengkan kepala dan kembali menyuapkan Elena.
"Buk, Papa cuapin mamam, Ibuk." Elena menunjuk sendok yang masih ditujukan kepadaku.
Aku beri kode lewat mata agar sendok itu ditaruh kembali ke piringku.
"Ayo makan, keburu dingin malah tidak enak."
"Banyak alasan! Cepat, buka mulut sanah!"
"Iiih, maksa-maksa?" Mata aku sengaja besarkan. Aku terbiasa untuk tidak dipedulikan hingga membuatku mandiri dalam segala hal.
Ahhh ... teringat masa lalu kelam itu lagi. Sudah lah, mantan gunanya untuk dilenyapkaaan bukan?
Usai makanan Elena habis, giliranku menikmati nasi goreng dingin dengan kerupuk yang sudah melempem. Tak apa lah, yang penting, perut terisi. Elena turun dari kursinya berlari kecil ke arah Pak Arendra dan menarik pria itu.
Bagus, Nak ... Ibuk jadi bisa makan dengan tenang tanpa perlu melihat wajah orang itu.
drrrttt
drrrtt
Sebuah ponsel tengah bergetar di atas meja makan. "Pak, ada yang menelepon!"
"Siapa?"
Aku tarik ponsel tersebut. "Alvendra."
"Taruh lagi aja." Lalu dia melanjutkan bermain dengan Elena.
π΅ la la la π΅
Sekarang giliran panggilan pada ponselku. Sebuah kontak yang tidak aku kenal. Lalu aku jawab dan di seberang hanya hening.
"Halo?" Namun, di balik panggilan masih tetap hening.
"Halo? Kalau tidak bicara kututup ya?"
π³ "Emmm ... ini aku." ucapnya.
"Aku siapa?"
π³ "Aku ... Alven."
"Oooh, Bang Alven? Ada apa, Bang?"
π³ "Lagi apa?"
"Nih, lagi makan."
π³ "Ooh ...."
Lalu hening beberapa waktu. Aku terus menyupi nasi goreng yang mulai mengeras karena telah dingin.
π³ "Ehmmm ... aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Menanyakan apa? Aku mau nanya dulu nih, kamu dapat kontak aku dari mana? Kakakmu yang memberikan padamu?"
Lalu Pak Arendra memberi kode agar aku mengaktifkan speakerphone pada panggilan ini. Aku menggelengkan kepala dan mencibir padanya.
π³ "Bukan! Aku dapat saat kemarin membuka CCTV-mu yang dari ponsel. Aku langsung menyimpan kontakmu.
"Oooh, nyimpan konta kok nggak minta izin dulu?"
π³ "Maaf, aku lupa. Nah, sekarang aku yang akan bertanya padamu. Hubunganmu dengan Mas Aren udah sampai mana?"
"Hubungan apa lagi ini? Bukan kah udah terlalu sering kamu menanyakan ini."
π³ "Ya, antara pria dan wanita?"
"Aku itu dengan Mas-mu itu---" Aku lirik Pak Arendra menyuruhku mengaktifkan speakerphone kembali.
"Iih, kepo aja!"
π³ "Ooh ... maaf ... aku terlalu ingin tahu."
"Engga, aku lagi bicara sama Elena."
π³ "Ooh, ya udah ... sepertinya kamu lagi sibuk ya? Aku tutup aja, selamat melanjutkan makan."
"Yap, terima kasih."
Dosenku itu bergerak duduk di bangku dia tempati tadi. Dia menatapku dengan wajah penuh dengan tanda tanya. Duo saudara ini kenapa? Keduanya membuatku sama-sama pusing. "Jangan lihat aku seperti itu!"
"Dia menanyakan keberadaanku?" Pak Arendra menopangkan kepala pada salah satu tangannya.
"Enggak tuh."
"Lalu dia bilang apa?"
"Kepo amat, Pak? Kita ini tidak ada dalam hubungan untuk saling terbuka ya. Jadi, saya rasa Bapak tidak perlu tahu apa yang tadi kami bicarakan."
"Apa kamu bisa bicara santai dengaku seperti kamu bicara santai dengan Alven?"