
Ben dan Kane akhirnya duduk di ruang tamu saling berhadapan sedangkan Dee mengambilkan minuman.
"Ada apa?" tanya Kane dingin.
"Aku tahu anakku yang salah, tapi aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Rose hendak bunuh diri berkali-kali dan aku tidak tahu harus berbuat apa," ujar Ben.
Dee yang membawa baki berisi cangkir menghentikan langkahnya.
"Lalu kenapa kalian meminta tolong padaku, minta pertanggungjawaban orang yang menghamilinya."
"Andai kami bisa bertanya siapa yang menghamilinya."
Kane menatap ke arah Dee. Dee berjalan lagi sambil tersenyum kaku dan meletakkan minuman itu di meja.
"Silahkan diminum," tawarnya ramah.
Ben menatap ke arah Dee, mengernyit sebentar. Rasanya wajah Dee tidak asing baginya. Lalu, terdengar riuh dari lantai atas. sepertinya kembar sedang bertengkar memperebutkan apa.
"Aku akan ke atas," kata Dee. Kedua pria di depannya mengangguk.
"Kau kenal dengan istriku kan?" tanya Ben.
"Tentu saja Om Ben. Siapa yang tidak mengenal beliau. Satu-satunya anak perempuan Almarhum Tuan Mahardika. pemilik dari Mahardika Grup."
"Wajah Dee mirip sekali dengannya," ucap Ben yang lupa dengan tujuannya datang kemari untuk membicarakan tentang Rosemary.
Pria itu mengambil handphone miliknya dan memperlihatkan fotonya dengan Linda lima belas tahun yang lalu.
"Mirip sekali bukan?"
"Ya seperti satu orang yang sama dalam masa yang berbeda." Kane mengernyitkan dahinya menatap foto itu.
"Kalau boleh tahu, asal Dee darimana!" tanya Ben ingin tahu.
"Dia dari salah satu panti asuhan."
Netra Ben membulat. "Panti asuhan," ulang Ben. Pria itu lantas menceritakan tentang istri nya pada Kane
Kane menyimak dengan seksama, memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Coba kita pertemukan mereka dan melihat apakah mereka saling mengenal?"
Kane mengangguk.
"Bagaimana dengan Rosemary? Kau kemari bukan untuk membicarakan tentang istriku kan?" tanya Kane.
"Aku hanya ingin kau meyakinkannya agar anak itu tidak bunuh diri. Hanya dia satu-satunya putriku. Hatiku hancur ketika melihatnya seperti itu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," pinta Ben sedih.
Kane menghela nafas. "Hanya itu saja kan. Memastikan putrimu tidak bunuh diri."
Ben mengangguk. "Hanya kau yang bisa mengajaknya bicara tidak ada orang lain. Dia pasti akan mendengarkan semua perkataanmu."
Dee akhirnya bersama Kane ke rumah sakit dimana Rosemary berada. Anak-anak mereka titipkan pada Patrik.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Kane khawatir.
Dee menghela nafas panjang. Ini sudah kelima kalinya Kane bertanya hal yang sama. Dia takut jika Dee akan mengamuk atau apa. Ingin rasanya mengatakan jika dia bukan Kane yang akan mengamuk ketika pasangannya bersama dengan mantan kekasih.
"Aku baik-baik saja, kau yang bagaimana? Apakah kau ragu jika anak itu kemungkinan anakmu juga?" Dee menyudutkan Kane. Membuat pria itu nampak gugup.
"Aku yakin itu bukan anakku hanya saja...."
"Apa?"
"Nanti kau akan tahu sendiri." Kane meremas tangan Dee. Mereka lantas sampai di depan pintu rumah sakit dan keluar dari mobil.
Tuan Ben yang sedari tadi menunggu langsung mendatangi Kane dan Dee. Dia menyapa dengan ramah.
"Linda, coba lihat, akhirnya Kane datang kemari," ujar Pak Ben pada seorang wanita yang sedang memperbaiki selimut Rosemary. Posisinya membelakangi ketiga orang yang baru datang.
Wanita itu membalikkan tubuhnya. Dia nampak terkejut melihat Dee yang ada di depannya.
Wajah Dee sendiri seketika pucat pasi. Tangannya memegang erat tangan Kane. Kane menatap perubahan air muka Dee.
Dengan gemetar Linda memanggil Dee. "Ho... honey Dee. Benarkah itu kau?" katanya tidak percaya.
Dee langsung terhenyak dia membalikkan tubuhnya.
"Kane sebaiknya aku pergi keluar saja," ujar Dee menghindari wanita di depannya. Namun, tangannya balik digenggam erat Kane. Dee menatap Kane yang menggelengkan kepalanya.
Netra Dee berkaca-kaca. Dia tidak siap dengan hal ini. Apakah Kane sudah merencanakannya? Apakah Kane tahu yang sebenarnya? Ini... membuat dia kacau. Dia tidak tahu harus melakukan apa.
Linda menatap ke arah Ben, suaminya. Ben sendiri menganggukkan kepala. Setengah mati Linda menahan diri untuk tidak langsung memeluk Dee. Menahan gejolak di dada, tentang kerinduannya pada sang anak yang dia simpan selama ini. Mimpinya akhirnya jari kenyataan.
Pandangannya buram karena tertutup oleh air mata. Dia mengusap pipinya yang sudah terlanjur basah. Bibirnya tersenyum senang. Ternyata sang anak punya kehidupan baik dan bersama dengan orang yang tepat.
"Dee," panggil Linda. Suaranya terasa tercekat. Dia tahu Dee pasti masih kecewa dan membencinya. Dia maklum dengan hal itu.
"Aku senang bisa melihatmu lagi."
Dee menelan salivanya dengan sulit. Masih enggan untuk melihat wanita yang tidak ingin dilihatnya lagi karena sudah membuangnya dari bayi ke panti asuhan.
"Tante Linda, ternyata Anda sudah mengenal Dee," ucap Kane basa basi.
Linda masih menatap Dee lalu tersenyum pada Kane. "Sangat mengenalnya." Linda tersenyum lega. Saat ini mungkin Dee belum bisa menerimanya tapi dia masih punya waktu untuk dekat dengan anak itu setelahnya.
"Oh, ya. Dee kau tidak cerita jika mengenal Tante Linda?"
"Panggil saja aku Tante Linda," ucap Linda. Tangannya dikepal keras karena ingin sekali memeluk putrinya erat.
"Aku tidak pernah berkenalan dengannya," ucap Dee dingin.
"Dia putriku," ucap Linda jujur sambil tersenyum.
Kane pura-pura terkejut. "Dee, dia ibumu."
Dee menatap tajam pada Kane sambil menekuk wajahnya.
Kane merengkuh bahu Dee lalu membalikkannya. "Dia ibumu, seharusnya kau bahagia bertemu dengannya. Ternyata kau dan Rosemary adalah saudara walau tidak sedarah.
Rosemary yang sedang tertidur terusik dengan suara yang ada di ruangan itu. Dia membuka matanya dan mendengar kalimat terakhir Kane.
Tunggu, Dee adalah saudaranya? Anak dari Ibu Linda? Tidak. Ini tidak mungkin. Ibunya ini adalah orang terhormat datang dari keluarga terhormat dan kaya raya, tidak mungkin punya anak lain di luar pernikahannya.
Rosemary langsung terbangun menatap semua orang.
"Bu, katakan jika itu tidak benar," tanya Rosemary.
"Rose?"
"Aku tidak ingin punya hubungan apapun dengan wanita itu, usir dia dari sini, Bu!" teriak Rosemary penuh kebencian pada Dee. Dia melemparkan barang yang ada di dekatnya ke arah Dee. Kane melindungi Dee. Hal itu membuat Rosemary semakin marah.
"Dee akan tetap di sini!" ucap Kane membuat suasana histeris itu menjadi tenang.
"Jika dia pergi, maka aku pun ikut pergi," lanjut Kane.
"Kenapa, harus kau. Kenapa semuanya harus kau ambil!" teriak Rosemary menunjuk ke arah Dee dengan sengit dan penuh kebencian.
"Kane aku mencintaimu dengan sangat. Tidak cukupkah semua penantianku padamu selama ini. Tidak cukupkah apa yang kuberikan padamu hingga kau campakkan aku seperti sampah yang menjijikkan ketika bertemu kembali dengannya!" serunya frustasi.
"Rose, tenanglah."