
Silakan Dibaca.
Ryuto membawa Lilia masuk ke dalam rumah, tatapannya tertuju ke arah perempuan itu. Entah mengapa, perasaan nostalgia muncul di benaknya.
"Aku tidak menyangka, dulu kamu menjadi pengganti asli ibuku. Selalu merawat diriku bahkan merelakan diri untuk menikah dengan bajingan itu."
Mengingat masa lalu, Ryuto benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Jelas semua yang dirinya lalui layaknya film layar lebar.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju ke dalam kamar tidur. Langkahnya tetaplah stabil, meski dalam posisi menggendong seorang perempuan.
Selepas memasuki kamar tidur, Ryuto membaringkan Lilia di ranjang sama dengan istri yang lainnya.
"Tidurlah, anak-anak akan kuurus sebentar." Ryuto menutupi tubuh istrinya dengan selimut, kemudian mencium satu persatu kening mereka dengan lembut.
Di saat selesai mencium para istrinya tersebut. Lelaki itu berjalan menuju ke lemari dan memakai pakaian santai. Selepas itu pergi menemui para anak-anak yang sudah bangun dari tidur.
Pintu kamar tidur tertutup, tanda bahwa Ryuto telah keluar dari kamar tidur. Namun, selepas lelaki itu keluar. Satu persatu perempuan membuka matanya dan senyum indah terukir di wajah mereka masing-masing.
Para perempuan itu sudah bangun semenjak pagi tadi. Mereka juga mendengar suara teriakan dari saudari pertama. Meski ada rasa iri, akan tetapi mereka tetap tidak terlalu peduli karena satu persatu orang tersebut mengetahui perasaan Lilia sebenarnya.
"Saudari Amy, apakah tidak apa-apa membiarkan anak-anak pergi menuju ke kamp pelatihan?" Yuna bertanya dengan nada penasaran.
"Ini juga merupakan bentuk pertahanan diri mereka nanti. Anak-anak lebih tahu, bahwa jika kita tidak terkalahkan. Namun, mereka akan menjadi sandera agar kita kalah."
Amy memberikan jawaban yang membuat semua perempuan mengangguk, memang benar kelemahan seorang ibu adalah anak mereka masing-masing.
Jika, anak-anak disandera kondisi putus asa akan kembali dihadapi seperti sebelumnya. Inilah yang menjadi pemikiran Amy dan saudarinya yang lain.
"Jadi, sekarang kita mau melakukan apa?" Sae bertanya kepada para saudari lainnya. Ia jelas penasaran dan ingin tahu apa yang dilakukan ketika kondisi fisik seperti dirinya alami sekarang.
"Tidur, kita tidak bisa melakukan apapun lagi. Kemarin malam, Ryuto benar-benar memberikan kita kejutan besar." Yui menjawab sambil kembali berbaring tanpa busana apapun.
Semua saudari tertawa kecil dan mereka masing-masing mulai tidur lagi. Senyum di wajah merek sama sekali tidak menghilang meski sudah terlelap dalam tidur.
Di sisi lain, Ryuto yang tengah berjalan menuju ke rumah sebelah. Melihat para anak-anak tengah berkumpul di lapangan. Pakaian mereka santai dan siap untuk menerima tes yang akan dilakukan ibu mereka masing-masing.
Mendengar suara langkah kaki, seluruh anak-anak menatap ke arah asal suara tersebut. Mereka masing-masing menjadi cerah ketika melihat pemilik dari suara itu.
"Ayah!"
Satu persatu anak berseru dengan semangat. Mereka menghampiri ayahnya segera.
Ryuto melihat antusias anak-anak, segera tersenyum. Kemudian, ia menyapa dengan lembut. "Pagi, kalian."
Anak-anak mengangguk mendengar sapaan ayah mereka. Namun, pandangan satu persatu terus berbalik menatap ke arah belakang ayahnya itu.
Ryuto menyadari tatapan para anak kecil tersebut. Ia tersenyum dan berkata, "Ibu kalian tidak akan datang. Mereka mengizinkan kalian berlatih. Namun ...."
Satu persatu anak-anak bersemangat ketika mendengar kalimat ayahnya tersebut. Namun, mereka segera sadar ketika mendengar kalimat selanjutnya.
"Kalian harus berusaha dan tidak main-main. Kamp pelatihan, bukanlah sesuatu yang dibuat untuk bermain. Ingat, jaga diri kalian dan satu hal yaitu masing-masing harus mandiri."
Anak-anak mengangguk dan memandang ke arah ayahnya dengan serius. "Kami mengerti, Ayah!"
Ryuto yang mendengar mereka setuju, seketika senyum puas mulai terlihat. Ia juga ingin memberikan hadiah kepada anak-anaknya tersebut.
"Kalian mendekatlah, aku ingin memberikan sesuatu agar kalian semua dapat berkembang lebih jauh. Namun, hadiah ini hanya dapat berkembang, jika kalian terus meningkatkan kekuatan."
Mendengar ucapan ayahnya, para anak-anak mengangguk dengan serius. Satu persatu anak kecil tersebut saling memandang, Kemudian saling menundukkan kepalanya.
Melihat anak-anak yang begitu disiplin, Ryuto sedikit terkejut. Ia tidak menyangka bahwa kecerdasan para anak kecil tersebut, begitu tinggi.
Ryuto kemudian menepuk masing-masing kepala anak-anak tersebut, lalu menurunkan badannya dan memeluk mereka secara bersamaan.
"Ingat fokus dengan pelatihan kalian. Namun, di hari sabtu, kalian akan kembali ke rumah dan hari minggu sore, kalian akan kembali ke kamp pelatuhan lagi. Ini adalah syarat lain, agar ibu kalian masing-masing tidak terlalu terbebani."
Mendengar nasehat dan syarat ayahnya. Para anak-anak mengangguk. Bagaimanapun juga meeeka paham, bahwa cinta ibu lebih tinggi daripada ayah. Meski setara, akan tetapi ibu lebih berperan penting.
Ryuto menatap satu persatu anak-anaknya tersebut, kemudian ia berkata dalam hati. 'Sistem, mulai berikan mereka tenaga tanpa batas.'
[Dimengerti, Tuan Rumah.]
Para anak-anak seketika merasakan perasaan lega di dalam diri mereka masing-masing. Mereka saling memandang dengan aneh, sampai akhirnya pandangan mereka jatuh tepat ke arah Ryuto.
"Ayah ...." Ace yang beberapa kali bertemu ayahnya, tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak menyangka bahwa lelaki di depannya benar-benar ayah yang selalu dirinya inginkan.
"Hmm, ada apa Ace? Apakah kamu menyesali masuk ke dalam militer?" Ryuto menatap ke arah putranya itu.
"Tidak, hanya saja aku akan berjanji untuk menjadi kuat dan dapat melindungi kalian semua!"
Satu persatu anak memandang ke arah Ace, kemudian mereka menatap ke arah Ryuto. "Kami juga, kami akan menjadi kuat untuk melindungi keluarga!"
"Aku menantikan di hari itu tiba!" Ryuto berkata dengan nada ringan, kemudian ia merasakan kehadiran tepat di belakang atas.
"Sepertinya mereka sudah datang. Adapun ibu kalian, mereka tidak keluar karena kelelahan."
"Kami mengerti, Ayah! Kami tidak bisa tidur karena teriakan mereka kemarin." Ace mengungkapkan dengan ekspresi polos. Namun, belum mengucapkan lebih lanjut. Ash menutup mulutnya.
Ryuto sendiri terkejut mendengar bahwa para anak-anak mendengar teriakan semalaman. Ia mengira bahwa rumah sebelah sudah dipasang segel kedap suara.
Ryuto segera menatap ke arah rumah yang digunakan anak-anak. Namun, ia tidak melihat adanya segel kedap suara. 'Yah, sepertinya aku melakukan kesalahan.'
"Nah, lupakan teriakan semalam. Belum waktunya kalian untuk mengetahui hal itu!" Ryuto memandang satu persatu anaknya tersebut.
Ia tidak ingin anak-anak kecil itu memahami apa yang tengah dilakukan oleh dirinya dan istri-istri kemarin malam.
"Tenang, Ayah. Kami tidak akan mempelajari hal-hal dewasa. Bagi kami, dewasa adalah hal rumit." Nami segera berbicara dengan serius.
Ryuto menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengangguk sedikit. Dua sosok orang number telah turun di belakang dirinya sambil menunduk.
"Salam, Tuan."
"Ya, berdirilah. Aku ingin kalian memberikan pelatihan yang benar-benar membuat mereka tumbuh. Ingat, pelatihan biasa menurutku tidak bisa membuat mereka semakin berkembang. Jadi, buat mereka melalui pelatihan khusus."
Ryuto menerapkan konsep pelatihan khusus, di mana pelatihan tersebut ialah memahami gerakan seni bela diri.
"Dimengerti, Tuan."
"Baguslah, kalian semua. Sudah waktunya berangkat. Dua kakak ini akan membimbing kalian menuju ke markas! Ingat patuhi peraturan yang ada."
Ryuto berbicara dengan tegas, sehingga para anak-anak mengangguk serius.
Hal ini membuat dirinya puas, kemudian ia melambaikan tangannya. "Baiklah, sampai jumpa hari sabtu dan minggu nanti!"
Ryuto menepuk satu persatu kepala anak-anaknya, kemudian berbalik pergi masuk kembali ke dalam rumah. Sementara anak-anak, pergi menuju ke kamp pelatihan bersama dua orang number.
To be Continued.