
Ketika semuanya sudah selesai, Aku menuju ke belakang. Aku ingin melihat bagaimana dengan kebunku. Sungguh aku sangat penasaran sekali. Kata Giska saat bermain, Giska banyak sekali menemukan banyak tanaman. Seandainya banyak sekali tanaman, aku tidak perlu membeli ke pasar. Aku hanya membeli ikan saja.
Lalu aku bagaimana membuat saung di sana? Ah sudahlah… lebih baik aku memilih untuk melihatnya terlebih dahulu.
Kakiku melangkah menuju ke belakang. Aku mencium aroma bunga mawar. Entah kenapa aku teringat pada masa laluku. Setiap di meja kerja aku, selalu saja ada bunga mawar yang menghiasi setiap hari.
Sesampainya di sana aku langsung melihat hamparan sawah kecil. Yang di mana sawah itu banyak sekali sayur-sayuran yang tumbuh. Entah siapa yang membuat sawah itu. Aku tidak tahu.
Aku pernah membaca sertifikat rumah ini. Ternyata semuanya ini adalah milikku. Yang jadi pertanyaannya adalah siapa yang menanam semua ini? Padahal rumah sekecil ini di belakangnya ada sawah.
Aku sangat bersyukur sekali ketika melihat tanaman ini. Jika dibuatkan saung, bagaimana sawah ini? Tiba-tiba saja hatiku menjadi bimbang. Apakah aku harus membangun saung ini di atas sawah ini? Sepertinya itu tidak mungkin. Aku harus mencari jalan keluarnya. Aku tidak akan melepaskan sawah ini. Dan aku harus membangun saung di daerah sini. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah saja.
Di tempat lain Giska yang sudah sampai sekolah hanya bisa menundukkan wajahnya. Pasalnya teman-temannya sudah mendaftar liburan di tepi pantai. Ia ingin sekali liburan di pantai. Karena Giska sangat menyukai suara deburan ombak. Giska berharap kalau dirinya mendapatkan keajaiban agar sang ibu bisa mengajaknya ke sana.
"Hai Giska," panggil Lawrence.
"Ada apa?" tanya Giska yang menunduk sedari tadi.
"Apakah kamu jadi liburan ke pantai?" tanya Lawrence yang menghambatkan bokongnya di hadapannya.
"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu," jawab Giska sambil mengedikkan bahunya.
"Kalau kamu tidak liburan bersama kami. Kamu akan rugi besar. Karena kita tidak akan liburan di pantai di negara ini. Kita akan pergi ke pantai Phuket Thailand," jawab Lawrence yang membuat Giska bertambah sedih.
"Duh, kenapa sih harus liburan ke sana? Padahal tempat itu adalah tempat favoritku bersama ayah dan ibu. Apakah aku harus merengek? Memang sangat sedih sekali nggak bisa liburan ke sana," ucap Giska dalam hati.
"Kalau kamu ikut kami liburan ke sana. Kamu bisa sangat keren sekali. Kamu bisa bertemu dengan orang-orang luar negeri sana. Ditambah lagi kamu bisa menceritakan ke anggota keluargamu. Sebab liburan kali ini memiliki tempat yang sangat indah sekali," jelas Lawrence yang berdiri meninggalkan Giska.
Hancur sudah hati Giska. Saat ingin liburan, Giska teringat pada sang ibu. Giska tidak ingin membebankan liburan ini. Giska tahu kalau sang Ibu tidak memiliki uang sama sekali. Kalau besok dirinya tidak jadi pergi ke sana. Jika tidak akan kecewa. Ia ingin sekali membantu sang ibu di dapur.
Sementara aku yang selesai membersihkan rumah teringat pada ponselku. Aku membuka aplikasi ajaib itu. Yang di mana aplikasi itu diciptakan oleh sang malaikat. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya. Dari mana malaikat bisa membuat aplikasi? Ah aku biarkan saja pertanyaan ini bertahan di dalam hatiku. Memang sangat aneh namun kenyataan.
Teringat pada permintaan Giska, aku langsung menaruh ponsel itu di ranjang. Aku menyalakan air hangat dan menampungnya di batu up. Meskipun rumah ini kecil, Kak Rosita telah memberikanku rumah segala jenis fasilitasnya. Aku bisa bersyukur hidup di jaman ini. Aku berharap tidak ada kendala di sini.
Aku memutuskan untuk berendam di dalam bath up. Aku memejamkan mata sambil memikirkan masa depan Giska. Entah kenapa aku melihat pandangan masa laluku.
Jam segini aku sudah berkutik di atas meja dan memeriksa tumpukan dokumen-dokumen sialan itu. Aku melakukannya tidak ada jeda sama sekali. Aku merasakan sangat muak. bahkan aku sendiri ingin kabur ke tempat lain.
Ketika kabur, Papaku sang mantan agen mata-mata sudah mengetahui dimana keberadaanku. Aku hanya bisa meringis seketika, ketika sampai ke tempat tujuan. Entah kenapa hal ini sangat aneh bagiku. Aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Memang papa memiliki otak cerdik sekali. Bagaimana bisa beliau menemukanmu dengan cepat? Setelah mendapatkanku, papa mengurungku di suatu tempat. Katanya aku memang disuruh menjalankan hukuman. Namun dasarnya aku juga memiliki otak cerdik. Aku tahu apa yang harus dilakukan sekarang? Yaitu menjebol kamar tembok dan kabur dari hukuman.
Aku memang tomboi. Tubuhku sengaja aku bentuk seperti pria. Aku sendiri sering melakukan hal yang ekstrim. Bahkan seluruh sahabatku mengetahui, kalau aku adalah cewek gila.
Sekarang image seperti itu sudah tidak ada. Ada sih sedikit. Tapi aku tidak akan menggunakannya. Aku juga tidak bisa seenaknya memakai hal itu. Aku harus menyimpannya dan membiarkan terlebih dahulu.
Selesai mandi aku memutuskan untuk bersiap-siap memakai baju. Aku meraih ponselku dan menuju ke sekolah Giska. Aku berharap tidak akan ada penutupan pendaftaran pergi ke pantai.
Aku melambaikan tanganku berharap ada mobil turun ke bawah untuk membawaku ke sekolah. Namun semuanya tidak ada yang mau turun sama sekali. Aku memutuskan untuk keluar gang. Aku sangat bersyukur sekali ketika sekali melambaikan tanganku ada mobil mewah yang turun Aku langsung duduk di kursi belakang.
"Pak, pergi ke sekolah Cinta dan Abadi ya," ucapku yang membuat sang sopir menganggukan kepalanya. '
"Baik nona," sahutnya.
"Nona?" pekikku.
Jujur aku sangat terkejut dengan sebutan nona yang keluar dari mulutku. Perasaanku aku sudah berusia tiga puluh dua tahun. Apakah bapak ini tidak salah ya? Bahkan aku sendiri sudah memiliki seorang putri.
Jika di masa lampau usia sudah kepala tiga dan memiliki anak, mereka memanggil seorang wanita dengan sebutan ibu. Sebutan itu sangat sopan sekali untuk para wanita masa itu. Ya sudahlah aku tidak perlu memikirkannya terlalu dalam. Yang jelas aku hari ini sangat bahagia sekali.
Sesampainya di sekolah Cinta dan Abadi aku turun dan tidak lupa membayar taksi itu. Harganya lumayan cukup mahal. Bayangkan saja dari jarak rumah ke sekolah hanya lima ratus ribu. Apakah aku harus membeli sebuah mobil? Kalau aku membeli mobil, uangku tidak akan cukup. Aku harus putar otak melakukannya.