Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 158


Sementara itu kesehatan Axel selama menjalani perawatan di rumah sakit luar negeri juga semakin membaik. Dan hari ini Axel sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. hanya saja dokter menyarankan agar tidak memberikan beban pikiran yang berat karena kepalanya akan kembali sakit.


Saat ini Axel sudah berada dalam mobil bersama Mama dan Papanya. Sikap Axel berubah menjadi pendiam. Nia tahu perubahan sikap anaknya itu karena memikirkan Gita. Namun Nia sudah bertekat akan membuat Axel sembuh dan mengalihkan perhatiannya pada Gita. Karena saat masih di rumah sakit kemarin Axel sempat mengeluhkan sakit pada kepalanya saat dia menanyakan kabar tentang Gita.


Mereka bertiga sudah tiba di rumah minimalis yang akan menajdi tempat tinggal Axel sementara atau bahkan selamanya di luar negeri bersama kedua orang tuanya. Nia mengantar Axel ke kamarnya dan menyuruhnya untuk istirahat.


“Mas, mau dibuatin kopi? Atau langsung balik kantor?” tanya Nia pada suaminya yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


“Boleh. Sepertinya aku nggak balik ke kantor lagi. Pekerjaan juga sudah selesai hari ini.” jawab Felix.


Nia pun menuju dapur dan membuatkan kopi untuk suaminya. Setelah selesai dia juga ikut bergabung dengan sang suami.


“Ini, Mas. Minum dulu!” Nia meletakkan secangkir kopi buatannya di depan Felix.


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih selama ini kamu juga mengeluarkan banyak tenaga untuk merawat Axel di rumah sakit.” Ucap Felix sambil meminum kopinya.


“Mas jangan bilang seperti itu. Mana ada di dunia ini ada seorang ibu mengabaikan anaknya yang sedang sakit. Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagi orang tua.” Jawab Nia.


“Lalu bagimana nanti jika Axel kembali menanyakan Gita?” tanya Felix.


“Mas tahu sendiri kan kalau Axel tidak bisa memikirkan hal-hal yang berat dulu, jadi sebisa mungkin kita harus bisa mengalihkan perhatiannya agar tidak memikirkan Gita lagi.” Jawab Nia dan Felix pun hanya mengangguk.


Sedangkan Axel saat ini sedang berbaring dalam kamarnya. Kamar dengan suasana baru. Meski sebelumnya dia sering tidur sendirian, setidaknya dulu dia masih berada dalam satu rumah dengan wanita yang sangat dia cintai. Tapi berbeda dengan sekarang.


Jujur saja Axel sangat tersiksa dengan keadaan ini. ingin sekali dia menemui Gita. Namun membayangkannya saja membuat kepalanya kembali berdenyut. Terlebih mengingat kejadian saat melihat Gita terikat dengan mulut dilakban. Hati Axel teriris.


“Gita, semoga kamu baik-baik saja disana. Maaf aku belum bisa menghubungimu. Tapi aku berjanji setelah kesehatanku benar-benar membaik, aku akan pulang dan menemuimu.” Janji Axel dalam hatinya.


***


Gita baru saja pulang dari psikiater. Menurut hasil pemeriksaan, Gita memang mengalami gejala Avoidant Personality Disorder. Dokter sudah menjelaskan semuanya pada kedua orang tua Gita bagaimana caranya membantu mengatasi masalah yang sedang dialami Gita. Disamping itu Gita juga baru saja terdampak obat yang mengandung zat psikotropika. Jadi dokter menyarankan agar Gita rajin untuk terapi. Namun Iqbal meminta untuk memanggil dokter saja agar datang ke rumah, jadi Gita tidak harus datang setiap hari untuk terapi. Dokter pun mengabulkan permintaan Iqbal dan akan mencarikan dokter yang kompeten.


“Sayang, ayo temani Mama buat kue!” ajak Jenny.


“Mama tahu kan kalau Gita tidak bisa.” Tolak Gita.


“Iya, Mama tahu. Makanya ayo sekalian Mama ajarin.” Bujuk Jenny, akhirnya Gita pun setuju.


Sementara itu Iqbal saat ini sudah kembali ke kantornya, setelah mengantar Gita periksa. Iqbal sedang sibuk mengumpulkan bukti-bukti dokumen kerjasamanya dengan perusahaan milik Marvin yang akan dia sampaikan saat menjadi saksi dalam persidangan besok.


Dimas juga ikut membantunya, karena posisi Dimas juga sebagai asisten pribadi Iqbal. dan dia juga yang mengetahui semuanya mulai dari rencana penculikan Gita sampai dia sendiri yang ikut menyelamatkannya.


“Bagaimana keadaan Nona Gita, Tuan?” tanya Dimas.


“Sudah membaik. Kamu datanglah ke rumah. siapa tahu Gita akan terhibur karena sudah lama kalian tidak pernah bertemu.” Jawab Iqbal.


“Baik, Tuan. Nanti malam saya akan kesana.” Jawab Dimas.


Malam harinya Dimas dengan penuh semangat datang ke rumah Iqbal untuk bertemu dengan Gita. Dan kebetulan saat ini Gita juga tidak sendirian. Ada Inez yang sedang menjenguk Gita.


“Kak Dimas, sini Kak gabung sekalian!” ajak Gita saat Dimas baru saja masuk.


Gita pun memperkenalkan Dimas pada Inez. Gita sebelumnya sudah diberitahu oleh Mamanya kalau saat kejadian penculikan itu Dimas juga ikut mengorbankan dirinya. Bahkan dia sampai terkena luka tembak saat menyelamatkannya.


“Aku punya hutang budi pada Kak Dimas karena telah menyelamatkan aku saat kejadian itu.” Ucap Gita dengan sendu.


“Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku sangat bersyukur karena keadaan kamu sudah membaik. Dan yang terpenting saat ini kamu harus semangat untuk menjalani terapi itu.” Ucap Dimas.


“Baik, Kak. Terima kasih.” Jawab Gita.


Kemudian mereka bertiga kembali berbincang santai. Gita cukup terhibur dengan kehadiran Inez dan Dimas malam ini. namun tak lama kemudian, Inez berpamitan untuk pulang terlebih dulu karena ada urusan yang penting.


“Kamu harus semangat untuk sembuh ya, Git. Aku akan sering datang kesini kalau ada waktu luang. Tapi maaf malam ini aku tidak bisa berlama-lama.” Ucap Inez sambil memeluk sahabatnya.


Kemudian Inez mengangguk pada Dimas lalu pergi meninggalkan rumah Gita. Kini hanya ada Gita dan Dimas saja di ruang tamu. Dimas bersikap biasa saja seperti dulu. Gita yang awalnya tidak enak karena pernah menolak cintanya pun akhirnya kembali terbiasa yaitu dengan menganggap Dimas sebagai kakak.


***


Keesokan harinya, Iqbal sudah bersiap datang ke pengadilan untuk menjadi saksi kejahatan Marvin. Iqbal datang berdua dengan Dimas, asisten pribadinya.


Saat sudah tiba di ruangan persidangan, Iqbal dan Dimas bisa melihat ketiga pelaku kejahatan yang telah menculik Gita bahkan hampir saja menghancurkan perusahaannya. Mereka bertiga tetunduk malu tidak berani melihat wajah Iqbal. terutama Malik yang melihat Dimas sedang berada dalam ruangan yang sama dengannya.


Malik ingin sekali melihat wajah Dimas dan memeluknya. Tapi dia tidak bisa melakukan itu semua. Dia tahu pasti Dimas akan sangat marah jika mengetahui fakta kalau orang yang telah menembaknya adalah ayah kandungnya sendiri.


Ya, Malik sudah mendapatkan bukti akurat bahwa Dimas Prasetyo adalah anak kandungnya dari pernikahannya yang kedua dari seorang wanita yang bernama Marissa. Malik sungguh tidak menyangka harus dipertemukan dengan anak kandungnya dengan cara seperti itu. Entah bagaimana caranya dia nanti akan mengatakan itu semua pada Dimas. Apakah Dimas akan memaafkannya.


Tanpa sadar Malik mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Dan bersamaan dengan pandangan matanya menatap Dimas. Air matanya luruh begitu saja saat melihat anak kandungnya yang hampir saja meregang nyawa di tangannya sendiri.


Deg


Dimas pun melihat mata Malik yang mengeluarkan air mata. Entah kenapa ada rasa aneh saat melihat sorot mata pria tua yang telah menembaknya itu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️