Suami Vampirku

Suami Vampirku
Di Hapus


Taman Belakang Kastil.


"Kenapa diam? Takut ketahuan kah? Rendra Xendrick.." bisik Olivia.


Insting Olivia mengatakan bahwa pria yang dikenalnya sebagai guru bimbingannya, adalah Rendra Xendrick.


Tidak menyangka penyamarannya akan ketahuan secepat ini Rendra yang begitu panik karena tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Olivia.


"Hahaha, tenang saja aku hanya bercanda guru!" lanjutnya lalu tertawa.


"B-bercanda?" tanyanya dengan tidak percaya.


"Tentu saja guru, hahaha lihatlah wajahmu sampai terkejut begitu" jawab Olivia yang tidak bisa berhenti tertawa.


Melihat adiknya tertawa terbahak-bahak membuat Kenzo terheran-heran karena tingkah Olivia yang sedikit kekanak-kanakan.


Apa dia sebahagia itu? batin Kenzo.


Rendra malah menarik tangan Olivia agar menatapnya lebih dalam lagi, entah apa yang dilakukannya kali ini tindakannya membuat Kenzo curiga.


"Aku serius, ini benaran aku.. Rendra Xendrick" kini sebaliknya Olivia yang terkejut dengan pengakuannya.


--PLAAKK--


Tamparan keras mendarat di pipi Rendra saat benar-benar mengakui bahwa dirinya adalah Rendra Xendrick, sesegera mungkin Olivia membereskan buku-bukunya lalu pergi meninggalkan Rendra yang masih memegangi pipinya.


Salah kah? bukankah dia sudah tahu? batin Rendra.


Kenzo yang melihat bagaimana Olivia menampar guru bimbingannya berinisiatif untuk menghampiri Rendra dan meminta maaf atas perlakuan adiknya.


"Saya benar-benar minta maaf atas apa yang dilakukan adik saya" ujar Kenzo yang merasa bersalah.


"Ini bukan apa-apa kok, tidak usah minta maaf saya yang salah seharusnya saya yang meminta maaf" Rendra menunjukkan kesan baiknya kepada kakak Olivia.


"Tidak perlu diperpanjang ini hanya masalah kecil, jika begitu mari saya antar ke depan" ajak Kenzo.


Perasaan Olivia yang kini tercampur aduk antara percaya atau tidak, awalnya hanya ingin memancing Rendra tapi dirinya malah kemakan umpannya.


"Tadi itu.. benar tidak ya? Apa dia berharap aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh?" gumamnya.


Pikiran Olivia dipenuhi dengan Rendra dari mulai tatapan matanya, perilakunya yang tiba-tiba lembut dan cara Rendra melindunginya, walaupun sampai saat ini masih belum bisa memahami sifat dan sikapnya yang sebenarnya.


Rendra itu orang seperti apa sih? Kenapa aku merasa kalau kita sudah lama dekat. Batin Olivia.


Keduanya sama-sama sedang memikirkan satu sama lain, Rendra yang kebingungan bagaimana cara menghadapi Olivia saat disekolah nanti karena pipinya sedikit memar karena tamparan wanitanya.


Kalaupun penyamaranku harus terbongkar, bagiku tidak masalah selagi bisa berada disampingnya. Batin Rendra.


Tiba-tiba liontin kalung yang melingkari leher Olivia bersinar menerangi wajahnya, ketika Olivia menggenggam liontin pertama merah darah, cahayanya menembus tangannya.


"Wow, sebenarnya ini permata apa? Kenapa ajaib begini?" gumamnya dengan pelan.


Namun sayangnya saat Olivia tertidur cahaya yang ada pada liontin permata itu berpindah ke tubuhnya tanpa disadari olehnya.


******


High School College.


Hari ini sekolah ternama High school college mengadakan perkemahan dialam bebas yang tentunya dihutan, semua murid sudah berkumpul dan bersiap untuk naik ke bus, tapi sebelum itu para guru sedang menunggu beberapa murid yang belum kembali dari sekolah.


"Apa benar mereka akan kembali hari ini?" tanya kepala sekolah.


"Benar pak, harusnya sih mereka sudah datang" jawab bu Viona.


"Jika mereka tidak datang lebih baik kita berangkat saja" ucap kepala sekolah.


"Tunggu!" suara seseorang yang begitu familiar bagi Rendra dan Ansel.


Sudah menunggu begitu lama yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul ketika para guru memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu.


"Saya kembali!" sapa Olivia dengan senyuman manis.


"Baguslah, ayo sekarang kalian masuk ke bus dengan teratur" ujar Viona yang mempersilahkan murid-muridnya masuk ke dalam bus.


Viona memberikan jempol kepada Olivia begitu pula dengannya, Viona merasa jika gadis itu bisa menepati janjinya walaupun telat beberapa jam.


Semua murid akhirnya masuk ke bus dan menentukan tempat duduk mereka masing-masing, sementara ia yang memilih untuk duduk dibelakang dekat jendela diikuti oleh Rendra dan Ansel keduanya sampai berdesak-desakan untuk mendahuluinya.


Kedua orang yang bersaing itu berhasil mendahului Olivia dan duduk di kursi yang kosong lalu keduanya sama-sama menawarkan tempat duduk untuk Olivia.


"Olivia, duduklah!" keduanya menepuk-nepuk kursi.


Mereka ini.. kenapa? Apa mereka salah makan obat? batin Olivia.


"Ayo duduklah" Ansel menarik Olivia sampai jatuh kepangkuan keduanya.


"Kalian.. sedang apa?" tanya Olivia lalu menatap kedua pria itu.


"Duduklah di sebelahku" jawab Rendra dengan senyuman manisnya.


"Eh tidak tidak! Dia harus duduk di sebelahku" Ansel yang menekan Olivia agar menjauh darinya.


"Siapa cepat dia dapat kan?" keduanya kemudian saling tarik-menarik.


"Aku.." Olivia ingin bangkit dari duduknya namun keduanya menahannya.


"Tetap disini!" keduanya menarik lengan Olivia.


Siapapun tolong selamatkan aku dari situasi seperti ini. batin Olivia.


Angel tiba-tiba datang dan menawarkan Olivia untuk duduk bersamanya, seketika dirinya ragu-ragu tapi jika dipikir-pikir lagi tidak mungkin Olivia harus terus terjebak diantara keduanya.


"Permisi, aku ada satu kursi kosong, mau duduk di sebelahku?" tanya Angel yang berharap.


Bagaimana ini.. ah daripada terjebak terus seperti ini. Batin Olivia.


"Baiklah, aku akan duduk denganmu" kemudian Olivia bangkit dari duduknya.


"Pttff" Kelvin tertawa kecil.


"Apa yang kau tertawakan?" kesal Ansel karena mangsanya lari.


"Bagaimana rasanya ditolak?" sindirnya lalu mengacungkan jempol kebawah.


"Apa yang terjadi denganmu?" Kenzo yang heran melihat saudaranya itu.


"Tidak, hanya mengerjai manusia itu saja" jawab Kelvin.


Sesekali ia menoleh kebelakang dan dirinya menyadari sesuatu diwajah Rendra, Melihat Angel yang memegang air dingin ditangannya kemudian Olivia mengambil inisiatif untuk meminta air dingin itu darinya.


Pipinya memar? Apa jangan-jangan benar, dia adalah.. guru Zian? batin Olivia.


"Angel, apa aku boleh meminta air dingin yang dipegang olehmu?" pinta Olivia.


"Oh, ini? Ambil saja aku juga masih ada satu" jawab Angel.


"Terimakasih" ujar Olivia sambil tersenyum.


Bangkit dari duduknya Olivia menghampiri Rendra dan menyodorkan air dingin untuk mengobati luka memar yang ada pada pipinya.


"Ini, untukmu" ucap Olivia dengan menyodorkan air dingin.


"Untukku?" tanyanya.


Olivia yang sedikit kesal langsung menarik tangan Rendra untuk menerima air dingin pemberiannya kemudian meletakkannya dipipi Rendra.


"Obatilah" setelah mengatakan itu Olivia kembali ke tempat duduknya.


Merasa kalah bersaing dengan Rendra, Ansel pun merebut air dingin pemberian Olivia dan meminumnya sampai habis.


"Apa yang kau lakukan?" baru ingin menempelkannya di pipinya namun sudah dirampas oleh Ansel.


"Kau takut kalah saing denganku? Ini baru awal, lihatlah bagaimana saingan kita nanti" ucapnya sambil melirik Kenzo.


"Benar, apalagi dia menyukai Olivia" gumam Ansel ikut meliriknya.


Sikap dan perilaku Rendra berubah menjadi lemah lembut terhadap wanita bahkan sekarang dirinya sedang mengejar Olivia, sudah ratusan tahun tidak pernah menyadari kesalahannya sendiri dalam hal mengejar wanita.


Kini Rendra tahu harus bagaimana untuk membuat Olivia melunak padanya walaupun rintangannya adalah kedua kakaknya tapi Rendra tidak menyerah.


******


Di Hutan.


Sampai ditempat tujuan para murid berkumpul untuk menunggu instruksi dari guru, Angel yang masih setia berdiri disamping Olivia karena dirinya juga tidak ada teman untuk bergaul selain Olivia.


"Okay anak-anak! Kali ini bapak akan membagikan peta untuk kalian mencari lokasi perkemahan yang sudah tercatat dalam peta ini. Nanti kalian ikuti saja arahan dari peta yang bapak bagikan, mengerti?" jelas kepala sekolah.


"Mengerti pak!" jawab para murid.


"Kelompok pertama, Angel dan Olivia, kelompok kedua K2" para murid menatap kepala sekolah karena salah menyebutkan nama.


"K2? Siapa pak?" tanya salah satu murid.


"Kenzo dan Kelvin, itu maksud bapak.. dan.. ini kelompok terakhir Rendra dan Ansel" ujar pak kepala sekolah.


Rendra dan Ansel saling bertukar pandangan seolah-olah mereka seperti melakukan telepati.


Lihat saja nanti siapa yang akan mendapatkan hatinya Olivia. batin Ansel.


Tidak akan kubiarkan kau merebut Olivia dariku. Batin Rendra.


"Ayo kelompok yang sudah ditentukan menyebar sebelum hari mulai gelap" perintahnya.


Ketiga kelompok itu akhirnya menyebar ke seluruh hutan dan mulai mencari jalan menuju tempat perkemahan seperti yang ada pada peta tersebut.


Olivia dan Angel sejak dibus tadi mereka menjadi semakin dekat seperti teman, sekarang mereka berdua sedang berkerjasama untuk mencari jalan.


Sedangkan K2 atau Kenzo dan Kelvin dengan santai mengikuti arahan dari peta yang diberikan pak kepala sekolah, juga berhati-hati jika ada vampir lain yang tiba-tiba muncul mengepung mereka.


Kedua pesaing ini sepanjang jalan terus bertengkar karena berebutan peta, sampai akhirnya mereka tersesat karena kegaduhan mereka sendiri.


"Biar aku saja yang pegang peta ini" ujar Ansel dengan cepat merampas peta dari tangan Rendra.


"Jika arahanmu sesat, lebih baik aku saja agar lebih cepat menemukan jalannya" jawabnya merebut kembali petanya.


"Sesat? Bapakmu yang sesat, seluruh keluargamu sesat!" gerutu Ansel.


"Aku ketuanya disini jadi kau tidak usah banyak berkomentar" lanjutnya.


"Tidak, aku ketuanya karena aku lebih tua darimu" ucapnya.


"Heh lebih tua apanya, palingan kau umur 19 tahun, sedangkan aku umur 20" jawab Ansel dengan santai.


"Jika aku bilang berumur ratusan tahun bagaimana?" tanyanya yang membuat Ansel mengerutkan dahinya.


"Setauku orang yang berusia ratusan tahun itu.. hanya vampir, apakah.. kau.. vampir?" jawab Ansel tidak yakin.


"Aku hanya bercanda" ucapnya.


Ketika menyadari bahwa mereka tersesat keduanya sekarang malah saling menyalahkan dan akhirnya memutuskan untuk mencari jalan masing-masing.


"Sepertinya kita tersesat" ujar Rendra matanya masih tertuju pada peta.


"Itu karena kau banyak sekali berbicara, sekarang bagaimana?" kesal Ansel lalu melihat sekeliling.


"Kau maunya bagaimana?" tanyanya.


"Cari saja jalanmu sendiri, aku juga akan mencari jalan pintas untuk menemukan tempat perkemahan" jawab Ansel lalu pergi meninggalkannya.


"Terserah kau, semoga beruntung" ucapnya.


Rendra mencari jalan pintas yang sama seperti Ansel, setiap jalan terus di telusurinya, dikelilingi oleh pepohonan tinggi membuatnya waspada akan area sekitarnya.


Sementara Olivia dan Angel masih berjalan dengan santai sambil melihat peta yang dipegangnya, merasakan tali sepatunya lepas Olivia sesegera mungkin mengikatnya lalu melanjutkan perjalanannya menuju tempat perkemahan.


Namun sayang sekali setelah itu Olivia hanya sendirian dan tidak melihat sosok Angel yang menemaninya seperti tadi.


"Kemana dia? Angel! Apa aku tertinggal? Sudahlah tidak peduli" gumam Olivia yang mencari Angel diarea sekitarnya.


Kembali menelusuri jalan yang diarahkan oleh peta, Olivia yang merasa tersesat juga, masih tidak menyerah agar bisa lolos dari perjalanan yang membingungkan ini Olivia kembali ke tempat awal dimana dirinya mengikat tali sepatunya.


Rendra yang saat itu juga ada di lokasi yang sama dirinya dengan santai memundurkan tubuhnya untuk mengawasi area disekelilingnya.


Merasa ada punggung yang menabraknya ia menoleh dan melihat siapa yang menabrak punggungnya.


"Rendra? Kenapa kau disini?" tanpa diduga mereka bertemu, keduanya juga sama-sama tersesat.


"Kau tersesat juga?" tanyanya dengan keheranan.


"Aku tadi.. seharusnya bersama Angel, tapi aku kehilangan dia" jawab Olivia matanya fokus terhadapnya.


"Mari kita cari jalan keluarnya bersama, kau jangan takut ada aku disini" Olivia hanya mengangguk pelan.


sikapnya yang seperti ini membuat Olivia ingin terus melangkah bersama karena Rendra sudah berusaha berubah demi dirinya.


"Ternyata.. kau ini pria yang lembut, pertama kali aku bertemu denganmu tapi.. kau terlihat, menakutkan" ujar Olivia dengan ragu.


"Pertama kali? Bukankah kita--" Rendra menghentikan kata-katanya.


Apa Kelvin menghapus ingatannya tentangku? Dia benar-benar mempersiapkannya dengan matang. Batin Rendra.


"Kita apa?" tanya Olivia dengan penasaran.


"Lupakan, aku begini karena seseorang" ujarnya seperti mengalihkan pembicaraan.


"Seseorang?" Olivia yang masib penasaran.


"Benar seseorang yang sangat berharga, bagiku dia bukan hanya sekedar orang yang aku cintai tapi dia adalah ratuku" jelasnya.


Olivia sudah tahu pengungkapan perasaan itu untuk siapa, siapa lagi jika bukan Angel. Wajahnya berubah menjadi muram saat Rendra mengungkapkan isi hatinya.


"Kenapa kau diam? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Rendra.


Iblis tetap saja iblis tidak berperasaan, jika memang menyukai Angel mengapa harus mengatakannya didepanku. gerutu Olivia.


"Ya, jika kau menyukainya kenapa kau tidak menjauhiku?" jawab Olivia.


"Menyukainya? Menjauhimu?" Rendra yang semakin kebingungan.


"Kukira kau benar-benar berubah ternyata kau masih tetap sama, iblis tak berperasaan!" ucap Olivia yang sangat kecewa.


Setelah mengatakan itu Olivia pergi meninggalkan Rendra yang masih membeku karena sedang mencerna perkataannya barusan, tersadar bahwa Olivia sudah jauh dari pandangannya sesegera mungkin dirinya mengejarnya.


Setetes air mata pun berjatuhan membasahi pipi Olivia, hatinya terasa digores oleh pecahan kaca.


Olivia berdiam diri dibawah pohon untuk menenangkan pikirannya dengan memeluk lututnya dan menundukkan kepalanya, Seseorang memegang kepalanya seketika Olivia tersadar dan mendongakkan kepalanya.


"Olivia kau kenapa disini? Kau menangis? Ada apa?" tanya Ansel dengan panik.


--Greb--


Melihat siapa yang datang menghampirinya Olivia langsung memeluk tubuh pria yang bernama Ansel itu, ia hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggungnya untuk menenangkan Olivia.


"Hiks.. hiks.. dia benar-benar iblis tidak punya hati" gumamnya.


"Menangislah sepuasmu, aku tidak akan menggangumu" ucap Ansel yang masih memeluk gadis itu.


Rendra Xendrick! Apa yang kau lakukan padanya? Lihat saja nanti aku tidak akan pernah mengampunimu. batin Ansel