
Riana sedang bersantai di dalam rumah bersama dengan Ardian. Semakin tua usia kandungan Riana, membuat Ardian semakin tidak mau jauh dari wanita itu, takut terjadi apa-apa katanya.
“Kapan mau membeli keperluan bayi?” Tanya Ardian.
Iya juga, Riana bahkan masih tidak kepikiran untuk hal itu.
“Nanti saja lah kalau ada waktu” Sahut Riana.
Ardian menepuk keningnya pelan, “Hei lihat perutmu, itu sudah delapan bulan. Jangan sampai nanti setelah persalinan kau malah tidak memiliki persiapan apapun”
“Mama juga sering mengajaknya keluar tapi, kau lihat sendiri kan responnya bagaimana” Sahut Rifa dari arah belakang, membawa dua gelas the untuk Ardian dan juga untuk putrinya.
Ardian mengangguk, menyetujui sikap bebal Riana, “Aku tidak mau tau, nanti sore kita belanja bersama. Apa mama mau ikut?” Tanya Ardian.
“Tidak, kalian saja yang berangkat. Mama tidak mau mengganggu pasangan anak muda” Ucap Rifa.
Cih, anak muda katanya? Apa mama Rifa pikir bahwa Riana masih anak kecil?
“Mana ada anak muda, aku sudah mau menjadi ibu, apakah aku masih terlihat seperti anak kecil?” Ucap Riana sembari mengelus perutnya.
Rifa tersenyum, “Mau usiamu sampai 40 tahun, bagi seorang ibu, anaknya tetaplah anak kecil” Ucapnya.
Itu benar adanya bukan? 8 dari 10 ibu di dunia, pasti menganggap hal itu adalag hal yang biasa.
“Baiklah baiklah tapi, ma nanti berikan aku list apa saja yang harus dan wajib aku beli. Sisanya, aku bisa membicarakannya dengan Ardian” Ucap Riana.
Rifa mengangguk setuju, “Catat saja sekarang” Ujarnya.
Ardian mengambil ponselnya, “Biar aku saja” Ucapnya, mencegah Riana bahkan untuk melakukan hal sederhana seperti itu. Ardian membuka aplikasi catatan di dalamnya dan mulai mengetik apa saja yang dibutuhkan.
Saat sedang asik berdiskusi, tiba-tiba ponsel Riana berdering nyaring.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
“Halo?” Sapa Riana.
Ardian dan Rifa langsung berhenti, menunggu Riana selesai dengan panggilannya.
“Apa begitu?”
“Memangnya butuh berapa?”
“Banyak sekali, apa itu sekalian dengan biaya operasinya?”
“Baiklah, nanti aku akan mampir kesana”
“Ya, sampai jumpa”
Riana menutup panggilan itu lalu menghembuskan napasnya perlahan.
“Apa aku bisa menjual mobilku?” Tanya Riana tiba-tiba kepada mamanya.
“Dari siapa itu tadi?” Tanya Ardian dingin.
Lelaki itu sepertinya tau apa yang sedang terjadi dengan Riana.
“Mantan suamimu atau ibu mertuamu?” Tanya Ardian lagi saat tidak mendapat jawaban dari Riana.
Wanita itu menelan salivanya keras, Ardian begitu peka dengan keadaannya sekarang.
“Dulu aku sudah berjanji akan memenuhi biaya rumah sakit ayah mertua hingga beliau sembuh” Gumam Riana.
“Tapi, sekarang kau bukan lagi bagian dari mereka, Rin. Apa kau tidak sadar kau telah di hancurkan oleh mereka? Bahkan tabunganmu habis di tangan mereka”
Deg
Rifa langsung melihat putrinya dan Ardian bergantian, “Apa ada sesuatu yang sudah terlewatkan dari cerita Riana tempo hari?” Tanyanya.
Ardian langsung bungkam, sadar bahwa tadi dirinya keceplosan.
“Dia membayar seluruh hutang keluarga Nathan lebih dari seratus lima puluh juta, berikut dengan renovasi rumah dan juga pembuatan perkebunan yang dikelola Nathan” Sahut Ardian.
Sudah terlanjur ketahuan bukan? Sekalian saja beberkan semuanya. Agar Rifa juga dapat bertindak tegas dengan putrinya.
“Riana, apa itu benar?” Tanya Rifa.
Dengan lemah, Riana mengangguk.
“Astaga Riin, tidak salah kau membantu ekonomi mertuamu tapi, bukankah itu bisa dinamakan pemerasan hm? Untuk apa uang sebanyak itu? Kenapa dia hutang dengan uang sebanyak itu?” Tanya Rifa.
“Resepsi pernikahanku, aku tidak tau jika ternyata resepsiku di dasari oleh hutang” Sahut Riana.
Rifa tidak habis pikir dengan putrinya, bisa-bisanya hasil kerja kerasnya seorang diri dihabiskan oleh keluarga mantan besannya?
“Lalu sekarang kau juga akan membantu mereka lagi? Menjual mobilmu?” Tanya Rifa.
Riana menatap Ardian, “Bukankah nazar adalah janji yang harus ditepati? Bukankah janjiku tentang ini adalah nazar?” Tanyanya.
“Rin?” Ardian terdiam sejenak, bagaimana Riana tau tentang hal itu?
“Aku hanya pernah membacanya pada salah satu artikel” Ucap Riana, seolah menjawab tanda tanya besar di kepala Ardian.
“Ini malah lebih condong kepada pemerasan” Gumam Ardian.
Lelaki itu menyurai rambut hitamnya, “Mereka minta berapa?” Tanya Ardian.
“Sekitar 100 juta” Ucap Riana.
“Kau mau melaporkannya ke polisi?” Tanya Ardian.
Riana menggeleng, “Aku merasa itu adalah hutangku kepada mereka” Ucapnya.
“Biarkan aku yang mengatasi ini, kau tidak perlu lagi direpotkan dengan mereka. Tidak usah merasa bersalah dan semacamnya, kau akan melakukan persalinan, masa depanmu dengan anak itu wajib kau pikirkan” Sahut Ardian.
Rifa hanya diam melihat bagaimana Ardian mencoba menyelesaikan masalah Riana. Sangat tegas, hanya itu yang mampu dipikirkan olehnya. Bukankah dia tidak perlu khawatir lagi jika Riana akhirnya bersanding dengan Ardian kelak?