Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 11 Informasi Dari Pentra


Mereka sudah berlari dengan cepat begitu mendengar jeritan, tapi saat sampai mereka sudah terlambat. Seorang pria tewas mengenaskan dengan tubuh terkoyak, sementara Rebecca dan Charlie masih berjuang menghabisi wendigo dengan kondisi terluka.


Segera Sonu mencabut pedangnya, menghunuskannya kedepan siap menyerang. Jacy pun tak mau ketinggalan pesta tersebut, sudah sepekan pedangnya tidak mandi darah jadi inilah saatnya.


Dengan mudah Sonu membalikkan keadaan, kondisi tubuhnya yang prima menekan pergerakan wendigo hingga hanya satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah bertahan.


Rebecca yang sudah kelelahan hanya menonton dari tempat yang aman, mengamati bagaimana Sonu dan Jacy begitu menikmati pertempuran mereka.


Wendigo bukanlah makhluk yang mudah dihadapi, bentuk tubuhnya yang mirip kera dengan kaki panjang membuat gerakannya gesit. Di tambah dengan cakar dia adalah monster yang sangat suka menghancurkan mangsanya, sesaat Rebecca sudah berfikir ini adalah akhir hidupnya.


Tapi begitu melihat Sonu dan Jacy seketika ia sadar mengapa mereka terkenal tak pernah gagal dalam misi, terlebih dalam menghadapi monster. Bahkan ia bisa merasakan kenikmatan bertarung, membuatnya iri sekaligus kagum pada kedua orang itu.


Sret Jleb


Aaaahhh....


Sonu mengakhiri pertempuran mereka dengan cepat, tak ada derita untuk wendigo karena ia memang tak suka membuat penderitaan bagi musuh. Baginya semua makhluk memiliki nilai yang sama, hanya karena dia monster bukan berarti makhluk itu bisa diperlakukan seenaknya.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Sonu menghampiri.


"Kau datang disaat yang tepat," sahut Charlie.


"Tapi kehilangan satu orang," ujar Jacy sambil menatap sosok mayat yang tak terselamatkan.


"Dia sudah mati sejak kami datang," kata Rebecca.


"Oh lukamu cukup parah!" ujar Jacy melihat robekan dipaha Rebecca.


"Ini akan membantu, sedikit perih tapi lukamu akan cepat membaik," lanjutnya sambil menyerahkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna hitam.


"Terimakasih," sahut Rebecca.


Segera ia tuangkan cairan itu kedalam lukanya.


"Uh!" pekiknya tak tahan akan sengatan yang terasa panas dan ngilu.


Tapi seperti kata Jacy, dalam beberapa menit kemudian lukanya terlihat membaik. Pendarahannya berhenti dan bekasnya cepat mengering.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini," ujar Sonu menatap sekeliling yang sudah mulai gelap.


Semua mengangguk setuju, dengan sigap Jacy segera membantu Rebecca berdiri dan memapahnya. Ia tersenyum nakal sambil menempatkan tangannya di pinggang ramping gadis itu yang membuat Rebecca menatap tajam, kembali mendapat penolakan Jacy memalingkan wajah dan mengubah posisi tangannya.


* * *


Matahari sudah terbit sejak tadi, tapi Jacy baru membuka mata akibat terlalu banyak minum semalam. Betapa hari yang suram baginya saat sibuk dengan pekerjaan tanpa ada kesempatan untuk bersenang-senang, setelah menyegarkan diri dengan segelas air dan mencuci muka baru ia keluar untuk menemui Sonu yang sedang latihan.


"Tumben kau rajin latihan!" teriaknya sambil berjalan menghampiri.


"Akhir-akhir ini aku baru sadar kalau kuat melawan monster belum tentu kuat melawan manusia, aku butuh mengasah keterampilan ku."


"Kau benar," sahut Jacy setuju.


Syuuut


Sonu melemparkan pedang kayu yang Jacy tangkap dengan mudah.


"Ayo latihan denganku!" ajaknya.


"Kalau begitu kau harus mengeluarkan emosimu," ujar Sonu.


Tak ada pilihan, apa pun alasan yang ia katakan sonu akan tetap menghunuskan pedangnya.


Maka Jacy pun terpaksa mengambil kuda-kuda, bersiap meski nyawanya barus saja masuk kedalam raga. Sonu memulai dengan senyum, hanya mengincar bagian tubuh atas Jacy sebab dalam keadaan baru bangun tidur keseimbangan Jacy sangat buruk.


Beberapa menit Jacy bertahan, tentu karena ia butuh waktu untuk mencari titik lemah Sonu sambil mengumpulkan energi. Dan saat kesempatan itu datang gerakannya dengan cepat berubah menjadi gesit, bagai ribuan anak panah yang diluncurkan secara bersamaan.


Serangan demi serangan ia berikan sampai Sonu mundur beberapa langkah, senyum kemenangan melebar di wajah Jacy tepat saat ia mengenai pinggang Sonu.


"Kau kalah," ujarnya.


"Aku belum mati," balas Sonu seraya tersenyum.


Tak!


Satu pukulan keras itu mengenai ujung pedang milik Jacy yang membuat tangannya bergetar.


Hahahahahaha


"Kau melupakannya! jangan mengelak bung! itu akan membuatmu kalah," ucap Sonu setelah puas tertawa.


Jacy hanya merengut, ia paling tidak suka diolok terlebih oleh Sonu. Maka ia pun membalas dengan kekuatan penuh, meski yang mereka gunakan hanya pedang kayu tapi diakhir latihan itu mereka sama-sama mendapatkan lebam yang cukup nyeri.


Setelah puas berlatih untuk mengembalikan semangat mereka pun pergi ke bar, itu karena Jacy mendapat kabar kalau seorang penyair bernama Pentra datang.


"Pentra! penyair tampan dari selatan!" teriak Jacy begitu tiba.


"Jacy! sahabat terbaikku! inspirasi ku!" balas Pentra dengan senyum lebar.


Kedua teman itu berpelukan, saling bertanya kabar dan saling menceritakan kisah indah tentang gadis-gadis yang belum lama ini mereka peluk.


Jacy dan Pentra bertemu beberapa tahun yang lalu disuatu bar, sebuah takdir yang lucu sebab saat itu secara kebetulan mereka sedang menggoda satu gadis yang sama. Perebutan terjadi begitu saja, keduanya tak mau mengalah dan menampilkan pesona terbaik mereka.


Tapi pada akhirnya gadis itu tak pernah jadi milik siapa pun, berawal dari persaingan berujung pada pertemanan. Hingga saat ini jika membutuhkan informasi yang sulit didapat maka Pentra-lah satu-satunya orang yang harus ia temukan.


"Aku tidak akan basa basi, aku butuh informasi tentang kasus penculikan anak-anak. Apa ada hubungannya dengan anggota bulan sabit?" tanya Jacy dengan nada rendah.


"Kau sudah siapkan bayarannya?" balas Pentra.


Sring


Sonu menaruh sekantong koin tepat diatas meja, meski Jacy dan Pentra berteman tapi jika sudah menyangkut pekerjaan Pentra akan bersikap profesional dimana ia tidak akan memihak siapa pun yang artinya dia akan menyerahkan informasi pada orang yang mau membayarnya.


"Kerajaan Merdesh, kau tahu Raja mereka sedang sekarat. Ku dengar ada sebuah penelitian yang melibatkan anak kecil, tujuan penelitian ini adalah untuk mencari obat sang Raja. Tapi kemarin Raja itu mati dan telah digantikan oleh putranya, mengenai tujuan penelitian ini jendral sudah menyebarkan berita bahwa itu hanya rumor untuk menjatuhkan pemerintah," ujar Pentra setelah mengambil sekantong uang itu.


"Bagaimana dengan anggota bulan sabit?" tanya Sonu.


"Mereka sudah musnah, maksud ku beberapa tahun yang lalu mereka resmi di habisi karena melanggar etika dan mengancam kehidupan manusia."


"Kami tahu itu! tapi beberapa waktu yang lalu seorang pria berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng sudah menculik seorang anak, menurut saksi mata ia melihat ukiran bulan sabit pada pedangnya!" ujar Jacy.


"Setelah pembersihan itu aku belum mendengar lagi tentang anggota bulan sabit, oh! tapi penelitian ini kabarnya dilakukan oleh orang-orang bayaran yang menyembunyikan wajahnya dibalik topeng dan selalu berpakaian serba hitam, katanya mereka bukan orang biasa sebab ilmu pedangnya hebat."


Bagai potongan puzzle yang mulai membentuk sebuah gambar sempurna, Sonu mulai bisa membaca kemana arah dari misinya.