Sistem Dukun

Sistem Dukun
Sebuah Tawaran Dari Prabu Abimanyu


Aku terkejut, Prabu Abimanyu—pemimpin Guild Harimau Andalas yang juga Bos Mafia Banteng88 itu telah menunggu kami di dalam Pintu Dunia Bawah. Saga dan timnya juga sudah bersiap-siap menyerang kami, apalagi Saga—wajahnya sangat masam menatapku.


Aku mundur selangkah agar lebih dekat dengan Sarah dan bisa mengaktifkan Item Teleportasi. Kami tak akan sanggup melawan kekuatan utama Mafia Banteng88 itu, karena semua komandan divisi mereka juga hadir.


Prabu Abimanyu membentuk divisi disetiap Pulau besar di Indonesia dan satu Pemburu Level 100 yang menjadi bos dalam divisi itu. Kerjaan mereka sama seperti Mafia lain, Perdagangan manusia, narkoba, penyelundupan, pemerasan, penggelapan pajak dan sebagainya.


“Nggak perlu kaget begitu. Saya tahu kamu bisa kabur walaupun sudah terkepung,” kata Prabu Abimanyu dengan bersikap tenang dan mereka tidak menyerang kami.


Namun, Sarah tampak gemetaran. Dia mungkin trauma berurusan dengan Prabu Abimanyu, tetapi Aku memutuskan tidak mengaktifkan Item Teleportasi dan menunggu apa sebenarnya yang ingin ia katakan.


“Aku menghargai Paman, karena kita berasal dari kampung yang sama walaupun memilih jalan berbeda. Jadi, kenapa Paman masih mengusik Sarah—kan, ia sudah berkontribusi selama lima tahun ini untuk Guild Harimau Andalas dan aku merasa itu sudah lebih dari cukup membalas budi karena telah membantunya menjadi Pemburu Top Dunia," sahutku tetap waspada, jangan-jangan ia menjebakku.


Prabu Abimanyu tertawa terkekeh-kekeh.


“Lupakan tentang Sarah, Saya sudah tidak tertarik dengannya," sahut Prabu Abimanyu, sehingga aku kaget mendengarnya. “Saya hanya ingin mengajukan perjanjian damai denganmu, walaupun aku tahu sikap Saga sudah keterlaluan saat menghajarmu dulu, tetapi bisakah kita lupakan permusuhan ini. Anggap saja balas budi atas bantuanku yang menyelamatkan kampungmu sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana? Aku berjanji Guild Harimau Andalas atau Mafia Banteng88 tak akan mencampuri urusanmu, bahkan kau bisa berburu di kawasan kami. Saya rasa ini adalah tawaran yang saling menguntungkan.”


Aku teringat saat awal-awal tragedi Pintu Dunia Bawah muncul diseluruh Dunia sepuluh tahun lalu, di mana Prabu Abimanyu menggunakan truk-truknya untuk mengungsikan warga kampungku ke kamp pengungsian yang telah disediakan oleh TNI.


Aku berpikir sejenak. Mungkin menerima tawarannya adalah yang terbaik untuk saat ini, walaupun aku tak yakin perjanjian damai ini akan berlangsung lama. Kalau mereka sudah merasa kuat atau mampu melawanku, maka mereka pasti akan ingkar janji juga.


“Baik, aku menerima perjanjian damai ini dan akan melupakan dendamku pada Saga dan antek-anteknya,” sahutku—sehingga Prabu Abimanyu tersenyum. “Jadi, bagaimana dengan perburuan? Apakah kami boleh mengambil bagian juga?” Aku tak ingin kehilangan kesempatan berburu di sini, karena ini adalah kesempatan emas, mengingat Pintu Dunia Bawah ini baru muncul dan monster di dalam masih utuh, belum ada yang mengambilnya.


“Bang Zul!” bisik Sarah, sepertinya ia ketakutan dan ingin kami keluar saja dari Pintu Dunia Bawah Gunung Kerinci ini.


“Tenang Sarah! Aku pasti akan menjagamu,” bisikku juga.


“Tak masalah. Kami juga belum tahu, seperti apa di dalam sana!” sahut Prabu Abimanyu.


“Ayah, kita yang menemukan Pintu Dunia Bawah ini, kenapa kita membiarkan mereka ikut berburu!” sela Saga tak terima dengan keputusan Prabu Abimanyu.


“Anggap saja ini kompensasi, karena kalian telah memukulinya,” sahut Prabu Abimanyu dengan seutas senyum diwajahnya. Sikapnya terlalu tenang, membuatku merinding saja. “Nak, Zul! Silahkan kalian duluan masuk ke dalam!” katanya lagi.


Aku menarik tangan Sarah untuk memasuki Teleportasi otomatis Pintu Dunia Bawah, karena kami saat ini masih di titik aman dan belum memasuki ruangan monster berada.


“Ayo Sarah, kita langsung ke sana!” Aku memilih lorong arah Selatan dan mengaktifkan Item Lightning Step agar Guild Harimau Andalas tidak mengetahui ke lorong mana kami pergi dan aku juga tidak membunuh monster Level rendah yang kami lewati.


Kami telah memasuki ruangan dengan monster yang menghuninya adalah monster Level 30.


“Aku merasa kita sudah aman dari jangkauan mereka!" Aku menghela nafas panjang.


Sarah menatapku tanpa berkedip dan berkata, “Bang Zul, kenapa sih, Prabu Abimanyu menawarkan perjanjian damai denganmu?” Sarah masih penasaran alasan dibalik perubahan sikap Prabu Abimanyu yang mendadak itu.


“Dugaanku adalah Dia sudah mengetahui kalau Divisi Supranatural Mabes Polri mengawasi kelompoknya, Dia tak ingin anak buahnya terlalu fokus mengejarku yang tidak menghasilkan keuntungan apapun dan yang ada malah menimbulkan korban jiwa dari pihaknya. Dugaanku yang terakhir, mereka mungkin berkonflik lagi dengan Mafia lain seperti kejadian di Singapura dulu—apalagi mereka telah bekerjasama dengan Yakuza dari Jepang, mungkin sebentar lagi akan ada huru-hara lagi. Jadi, pilihan berdamai denganku adalah pilihan yang tepat, agar aku tidak bergabung dengan pihak lawan mereka.”


Aku yakin juga Prabu Abimanyu sudah mengetahui aku berbisnis dengan Reynaldi—anak Bos Mafia Elang Timur yang merupakan musuh abadi Mafia Banteng88.


“Ya, waktu huru-hara di Singapura itu kami juga dilibatkan. Sungguh kejadian yang sulit dilupakan, apalagi Kartel Meksiko yang dengan sadis menyiksa Pemburu yang mereka tawan. Untung saja pemerintah Singapura, Indonesia dan Malaysia turun tangan membubarkan hura-hura itu, kalau tidak aku tak tahu bagaimana nasibku bila jatuh ke tangan musuh!" sahut Sarah dengan ekspresi wajah sedih.


Aku telah membaca berita tentang itu, di mana dua Aliansi Mafia seluruh Dunia bertarung di Singapura dan kekacauan itu juga merembet ke Jakarta—sesama Mafia saling menghancurkan satu sama lain dan cukup merepotkan pihak keamanan untuk mengatasinya.


“Lupakan tentang itu, lihatlah para monster Goblin itu telah menatapmu dengan tatapan penuh nafsv. Sepertinya tak ada betina diantara mereka hehehehe ....” Aku tertawa terkekeh-kekeh.


“Ih, emang mereka hewan?” sahut Sarah kesal dan menarik anak panahnya.


Boommm!


Boommm!


Monster Goblin Level 30 seperti semut saja di mata Pemburu Level 90 seperti Sarah. Aku yang menjadi Tanker saja tidak kebagian membunuh para Goblin itu, untung saja kami sudah membuat tim—tidak solo player, sehingga hadiahnya dibagi rata walaupun aku tidak membunuh satu monster Goblin pun.


Gerakan tangan Sarah sangat cepat saat menarik anak panah dan aku yang berada di depannya langsung memasukkan mayat-mayat Goblin itu ke dalam inventori Layar Virtualku.


Satu jam berlalu, kami sudah memasuki ruangan monster Level 75 dan lagi-lagi kami hanya menemukan Monster Goblin saja, ini cukup mengherankan. Karena Pintu Dunia Bawah ini berbentuk Dungeon yang biasanya Monster didalamnya selalu bervariasi, kecuali Pintu Dunia Bawah berbentuk Dunia lain, seperti yang ada di Raja Ampat—di mana Pintu Dunia Bawah di sana, berbentuk Kastil abad pertengahan Eropa.