Si Gendut Itu Aku !

Si Gendut Itu Aku !
Hampir Terbakar


Ardan melajukan mobilnya, jejak mobil yang membawa Clarisa sudah tidak terlihat.


"Bagaimana ini ? Kemana mereka ?"


Ardan terus menyusuri jalan, tapi tidak menemukan jejak penculik itu.


Sementara mobil yang membawa Clarisa, berhenti di sebuah gudang kosong.


Yudi kepala preman itu turun, kemudian menyuruh anak buahnya membawa Clarisa.


Kedua anak buahnya hanya garuk-garuk kepala dan saling pandang.


"Lhoo...kok masih diam ? Cepat bawa !"


"Eehh...bos ! Gimana cara bawanya ? Berat boss !" Protes salah satu anak buahnya.


"Kalian pikir sendiri ! Pokoknya cepat bawa, sebelum dia bangun. Cepaat !" Perintah Yudi dan segera masuk ke dalam.


Di dalam gudang sudah menunggu seorang laki-laki.


"Bagaimana ?" Tanya pria itu.


"Beres bos, anaknya ada di luar. Anak buah saya sedang membawanya kemari."


"Bagus kerja yang bagus !" Ucap laki-laki itu kemudian melempar sebuah amplop yang berisi lembaran uang.


Sementara di luar, kedua anak buah Yudi begitu kesulitan membawa Clarisa masuk, yang masih dalam keadaan pingsan.


"Kita bangunkan saja, kalo mau nyeret dia beraaat !!"


"Lagian nih anak kok bisa badannya besar kayak begini ?"


"Tapi ? biar badannya besar wajahnya cantik lho dot heheh." Ucap pria yang berkepala botak sambil memperhatikan wajah Clarisa.


"Hah sudah, tidak usah di perhatikan. Cepat bawa ! bos, sudah menunggu."


Kedua pria berbadan kekar itu, kemudian mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk mengeluarkan Clarisa dari dalam mobil.


Pria yang brewok menarik kaki Clarisa sedang yang botak mendorong tubuh Clar.


Si kepala botak mendorong tubuh Clar terlalu kuat, sehingga tubuh Clar menindih badan Si brewok.


"Adduuhh Meeet, cepat angkat badan anak ini, beraaaat !" Pinta idot si brewok.


"Astagaaa ! maaf...maaf gak sengaja aku Dot !"


Mamet segera membalikkan tubuh Clarisa dan menyingkirkan dari tubuh temannya.


"Sebentar dot, saya ada ide." Ketika dia melihat gerobak nganggur terparkir di samping gudang.


Mamet segera mengambil gerobak yang ada di sekitar gudang, kemudian menariknya membawa dekat tubuh Clarisa.


"Ayo kita angkat gadis ini ke dalam gerobak."


Perintah Mamet.


Kedua orang itupun bekerja sama mengangkat tubuh Clarisa naik ke atas gerobak.


Pria yang bersama dengan Yudi di dalam nampak marah, ketika Clarisa begitu lama di bawa masuk.


"Mana gadis itu ? Kenapa anak biahmu belum membawanya kemari ?"


"Sabar bos, gadis itu besar jadi susah anak buah saya membawanya."


Tidak berapa lama, ke dua anak buah Yudi masuk ke dalam, dengan membawa gerobak yang berisi Clarisa di dalamnya.


Mereka kemudian, mengeluarkan gadis berbadan besar itu dari dalam gerobak, dan mengikatnya di tiang.


"Huufftt !!! Akhirnya selsai juga ya, dot."


Kedua pria berbadan kekar itu, menarik nafas lega, saat mereka selesai menjalankan tugasnya.


Bos besar mereka yang bernama Bos Bimo, mendekati Clarisa kemudian tertawa.


"Hahaha !!! Gadis yang malang sebentar lagi kau tidak akan bisa bersaksi. Kau akan membawa kesaksianmu itu ke neraka. Hahahahahah !!!"


"Sekarang juga, kalian cepat lakukan rencana selanjutnya !"


"Baik boss !" ucap Yudi dan anak buahnya kompak.


Bos bimo segera meninggalkan gudang itu, sedang Yudi dan anak buahnya menjalankan rencana selanjutnya.


Yudi dan anak buahnya segera mengambil bensin di dalam mobil, kemudian mereka menyiram bensin sekeliling gudang, tempat Clarisa terikat.


Setelah menghabiskan 2 jirigen besar bensin, Yudi kemudian menyalakan koreknya dan melemparkannya ke gudang.


Seketika api menyala membakar Gudang.


Di rumah sakit, Paman Adam dan Bibi Herni sedang berobat.


Mereka duduk di kursi tunggu. Tak berapa lama, suster memanggil.


"Bapak Adam !" Pak Adam berdiri dan kemudian mendekati suster.


"Iya saya suster."


"Keluhannya apa pak ?"


"Luka di tangan sus."


"Luka karena apa pak ?"


"Di gigit orang gila sus !"


"Haahh?!" teriak suster bingung. Kemudian menyuruh pak Adam masuk.


5 menit kemudian giliran bibi Herni di panggil.


"Ibu Herni !" panggil suster cantik tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya.


Bi Herni yang menggunakan selendang menutupi wajahnya segera berdiri berjalan mendekati suster itu.


"Iya saya suster."


"Keluhannya sakit apa bu ?"


"Sakit di wajah saya sus."


"Sakit karena apa bu ?"


"Cakaran maut dari kuku-kuku setan sus."


"Haaaah ?! Kuku setan ?"


"Iya sus, ini lihat kalo gak percaya." Segera Bi Herni membuka selendang yang menutupi wajahnya.


Nampaklah garis-garis merah yang terlukis secara morat marit di wajah bi Herni. Tak ada satupun bagian wajah bi Herni yang kosong dari garis merah itu.


"Allahuakbar !!! " Teriak suster di depan bi Herni hampir jantungan.


"Tu..tutup aja bu." kemudian menyuruh Bi Herni masuk ke dalam ruangan dokter.


Si suster mengelus-ngelus dada melihat 2 pasien aneh hari ini.


Sementara itu, Ardan masih terus menyusuri jalan-jalan di daerah, tepat dimana dia kehilangan jejak mobil yang membawa Clarisa.


Tiba-tiba, dari pertigaan di depannya, dia melihat mobil putih yang menculik Clarisa keluar.


Diapun segera masuk ke arah jalan dari keluarnya mobil Yudi.


Dia terus menyusuri tiap lorong yang ada dijalan itu.


Dia teringat dengan hp Clarisa, dia segera mengambil hpnya.


"Semoga Clar tidak mematikan layanan lokasi di hpnya"


Dia mencoba mencari tahu keberadaan Clarisa dari hp.


Bau asap dari kebakaran itu, membangunkan Clarisa.


"Ya ampuun, apiii !" ucap Cladisa kaget. Dia mencoba melepaskan ikatan tali yang melilit tubuhnya, tapi ikatan itu terlalu kuat.


Clarisa panik ketakutan dan menangis.


"Mamaaaaa !!! Airiin gak mau matiii !Toloooooooong !!!" teriaknya.


"Uhuuuk..uhuukk...maaamaaa !!!hiks...hiks...!"


Api semakin besar, Airin semakin ketakutan. Dia terus mencoba membuka ikatan di tangannya tetapi sia-sia.


Nafas nya semakin sesak, mencium asap sampai batuk-batuk.


"Too...tollooong !!!" teriak Clarisa lemas.


Ardan mengutak atik hpnya dan kemudian melemparnya dengan frustasi, karena hp Clarisa tidak aktif.


Tiba-tiba dia melihat kepulan asap, entah kenapa dia merasa ada sesuatu di sana.


Dia segera ke tempat kepulan asap itu. Dia melihat sebuah gudang tua yang di selimuti api besar.


Dia mendekati gudang itu, terdengar sayup-sayup suara orang minta tolong, dia melihat ke pintu ada tas Clarisa terjatuh.


"Ya Allah ! Clarisa di dalam !"


Ardan melihat ada tampungan air di sebuah drum besar, dan juga karung tebal disana.


Dia mengambil karung itu, membasahinya dengan air. kemudian melindungi tubuhnya dengan karung basah itu.


Dia masuk menerobos kobaran api yang menyala-nyala.


"CLAAAAAR !!!" teriaknya, menajamkan matanya melihat sekeliling yang sudah tertutup asap.


"ARDAAAN !! DISINIIII !!!"


Ardan terus berlari, beberapa kayu mulai berjatuhan.


Ardan melihat Clarisa terikat dengan tubuh yang lemas.


"Claaar banguun ! " Ardan menepuk-nepuk wajah Clar.


Dia segera membuka lilitan tali yang mengikat tubuh besar gadis itu.


"Uhuuk..uhuukk.. Ar..Ardan kaukah itu ?" tanya Clar dengan membuka sedikit matanya.


"Claaar bangun ! Kita cepat pergi dari sini !"


Ardan mencoba mengangkat tubuh Clar, dan memapahnya.


"Ayo Clar ! kau jangan pingsan di sini, aku tidak bisa mengangkatmu !"


"Iya..iya aku tahu." Clar berusaha bangun.


Ardan memakaikan karung basah dipunggung Clar. Kemudian mereka berjalan keluar.


Rasa panas membakar tubuh mereka.


"Ya Ampun ! pintunya tertutup api." ucap Ardan.


"Bagaimana ini Ardan ? aku tidak mau mati disini hiks..hiks." Clar menangis memeluk Ardan.


"Kita terobos !"


"Gak ! aku gak mau ! aku takuuut !"


"Kau mau mati di sini ?"


Clar menggeleng cepat. Dia tidak ingin mati sia-sia di dunia Clarisa.


Clar akhirnya menuruti perintah Ardan. Mereka mengeratkan lagi karung basah ketubuh mereka. Kemudian Clar memeluk Ardan, mereka berlari sekencangnya, menerobos celah-celah api di pintu keluar.


Mereka berdua terguling, tubuh Clarisa menindih tubuh Ardan.


"Clar..!Ce..pat ber diri !" perintah Ardan dengan suara menahan berat tubuh Clar.


Clarisa yang seketika sadar, kemudian segera berdiri.


"Oh, maaf Daan ! Allhamdulillah kita selamat ! terimakasih ya Ardan. You are is the best," ucap Clarisa sambil memeluk Ardan erat.


"Claar, lee paas !" Teriak Ardan yang merasa terjepit, akibat pelukan Clarisa yang begitu erat.


"Oh ya ampun ! Maaf maaf sekali hehehe."


"Akukan sudah bilang, tunggu aku jemput. Kenapa berani pulang sendiri ?"


"Aku menunggumu Ardan, tapi kau terlambat. Terus, ada orang yang mendekatiku, mereka bilang kalau kau menunggu ku di mobil. Ternyata mereka menipuku."


"Makanya jadi orang jangan terlalu polos Clar. Sudah, ayo kita pulang !"


Clar mengambil tasnya yang terjatuh di tanah depan gudang.


Saat dia mau mengambilnya, dia melihat sebuah dompet.


Clar memungutnya dan melihat isi dompet itu.


Sebuah lencana kepolisian !


Clarisa melihat Ardan sedang mencari-cari sesuatu. Dia meraba-raba saku celananya.


"Kau cari ini Ardan ?" tanya Clar dengan menunjukkan lencana itu.


Ardan terdiam ketika melihat barang yang dia cari berada di tangan Clarisa.


"Ardan ! apa kau seorang ??"