
"Apa syarat aku meminang mu?" tanya Adam.
"Aku tidak tahu mas Adam, aku belum ingin menikah."
Adam kecewa, tetapi tidak mungkin terlalu memaksakan kehendaknya. Butuh waktu, Naia masih butuh waktu.
"Jaga diri baik-baik," ujar Naia begitu akan turun dari mobil.
"Aku ikut mengantarmu." Turun dari mobil itu berarti harus siap menghadapi pandangan aneh orang-orang. "Aku akan baik-baik saja," ujar Adam untuk menenangkan gadis yang diam-diam mengisi hati.
Naia mengangguk. Sama sekali tidak mencegah Adam. Naia ingin menghargai niat baik Adam. Tidak ada yang salah dengan orang yang mengunakan kursi roda. Yang salah adalah orang yang melihat aneh. Harusnya mereka bersyukur jika ujian hidup itu tidak menimpa mereka, bukan justru memandang orang berkursi roda itu aneh.
"Apa yang bisa Nai bantu?" Setelah membuka pintu mobilnya, Naia melongok ke arah Adam.
Adam terseyum. "Bantu turunkan ini."
"Ah, Iya!" Naia menurunkan kerangka besi itu dan merakit rodanya seperti yang pernah dilakukan Adam, terakhir Naia letakkan bantalan hitam.
Adam melihat itu tersenyum. Naia orangnya cepat sekali belajar. Dengan sekali lihat dia sudah bisa mempraktekkan. Adam sadar sesuatu. Kemungkinan besar Naia bisa mendampinginya, melihat karakter Naia yang mudah adaptasi.
Setelah Naia selesai merakit kursi rodanya, Adam segera memindahkan tubuh ke atasnya. Naia meraih tas jinjing yang tak seberapa besar, disana barang-barang Naia di simpan.
"Taruh disini!" Adam menepuk atas pahanya.
"Eh," Naia kaget.
"Letakkan saja," perintah Adam sekali lagi.
Pelan-pelan Naia meletakkan tas jinjingannya di pangkuan Adam.
Melihat kekhawatiran di wajah Naia, Adam buru-buru menenangkan. "Kakiku mati rasa, beban segini tidak seberapa, jika kamu mau boleh sekalian duduk disini, kursi ini di rancang bisa untuk dua orang bebannya. Kamu bisa coba!"
Sorot mata Naia melunak dan senyumnya terkembang.
Adam benar-benar mengantarkan Naia sampai tempat check-in.
Sejenak, mereka saling diam, baik Naia dan Adam tengelam dalam pikiran masing-masing. Untuk beberapa detik, keheningan memeluk kedua insan itu.
"Nai," panggil Adam lirih memecah keheningan. Wajahnya menatap jemari mereka yang saling bertaut di pangkuan.
"Ya?" Naia menatap Adam, matanya menuntut penjelasan.
Sebenarnya Adam ingin membiarkan Naia segera pergi, akan tetapi hatinya malah tak ikhlas melepas gadis itu tanpa kenang-kenangan.
Keduanya bertukar pandang. Sebuah dorongan kuat dari dalam kalbu membuat Adam mendekatkan tubuh dan menarik Naia kedalam pelukan. Mereka larut dalam pelukan. Adam menitihkan air matanya. Barang kali ini terakhir kalinya dia bisa memeluk Naia. Pelukan ini menjadi kenang-kenangan dari Adam untuk Naia.
"Pulanglah, Nai," ucap Adam sendu. "Jika ada rejeki, aku akan berkunjung ke rumah mu."
Pesawat yang membawa Naia baru saja take off. Naia termangu memandangi bumi di bawahnya, Bandara terlihat semakin kecil seiring naiknya ketinggian pesawat dan akhirnya menghilang dari pandangan dan berubah putih seutuhnya.
Di bandara.
Adam kaget saat tiba-tiba Pak Beni menghampirinya dan membantunya mendorong kursi roda. Ternyata diam-diam Pak Beni mengajak Tony mengikuti mobil Adam. Beni khawatir dengan Adam, oleh sebab itu dia tidak membiarkan Adam kembali mengendarai mobil seorang diri.
Di perjalanan Adam hanya diam, Pak Beni sesekali melirik bosnya dari kaca spion. Tahu terus di perhatikan akhirnya Adam membuka suaranya.
"Pak Beni,"
"Ya, mas Adam?"
Adam beberapa kali menghela napasnya. "Bagaimana menurut Bapak tentang Naia?"
Adam terdiam. Dalam hati ia mencoba meresapi perkataan Beni. Beni mengatakan jika Naia cantik, baik dan kelihatannya cocok dengan Adam.
"Mas Adam tidak akan tahu jawabannya, kalau tidak mencoba." ujar Beni.
Cedera tulang belakang telah menghilangkan sensasi dari dada ke bawah, termasuk organ kebanggaan lelakinya. Organ itu terus terkulai dan tidak merasakan apa pun. Adam bukan lagi lelaki yang bisa menunaikan tanggung jawab untuk membahagiakan perempuan.
Sudah delapan tahun Adam membiarkan kelumpuhan itu yang hampir merenggut semua syarafnya, dan baru sekarang ingin benar-benar berkonsultasi.
Bersama Naia dia baru menyadari, Indra perabanya bereaksi pada sentuhan perempuan. Itu adalah perasaan yang baru Adam sadari setelah hampir melupakan kepekaan hatinya. Ternyata tubuhnya mau bereaksi.
Di mata Pak Beni, Adam itu anak yang baik. Beni sedih melihat Adam menjadi seperti sekarang, Beni prihatin. Waktu kecil, Adam lucu sekali, ganteng, pinter dan semangatnya bukan main.
"Pak antar Aku ke Dokter Fadil." ujar Adam yang membuat Beni terseyum lebar.
Fadil menatap takjub pada Adam yang sedang mengayuh kursi roda ke arahnya. Sebelum sampai di tempat prakteknya, Adam lebih dulu menghubungi Fadil, dengan senang hati, Fadil langsung mempersilahkan kedatangan Adam.
Mereka teman satu SMA, sekaligus sahabat yang Adam jauhi setelah mengalami kecelakaan.
Senyum Fadil mengembang melihat Adam yang tampak jauh lebih baik.
Setelah basa basi ala sahabat, akhirnya Fadil menanyakan tentang keadaan Adam.
"Apa masih sering nyeri, Dam?" tanya Fadil.
"Aku hidup dengan rasa nyeri, Dil." Adam tersenyum tabah. "Lama-lama terbiasa." tambahnya dengan tawa renyah.
"Kenapa baru menemui ku? Kamu melupakan sahabat mu ini" ujar Fadil masih sedikit kesal dengan Adam.
"Aku masih mencoba menerima takdir." kilah Adam.
"Dengan mengasingkan diri?" tanya Fadil jengkel.
Adam tertawa renyah." Sekarang tidak lagi, kan?"
Fadil berdecak dan kemudian, mengiyakan.
"Kamu pakai korset khusus?"
"Iya, aku pake korset khusus." jawab Adam menepuk perutnya.
Fadil mengangguk.
"Kamu datang untuk konsultasi apa?" tanya Fadil melihat kondisi Adam yang jauh lebih baik seperti tidak ada halangan.
"Masalah disfungsi seksual." sesudah mengatakan itu wajah Adam merah padam.
"Kamu punya pasangan?" tanya Fadil sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Baru mau berusaha cari."
Fadil membulatkan bibirnya. Fadil menyarankan agar Adam membawa pasangannya untuk menjalani konseling berdua.
Fadil memeriksa keadaan Adam keseluruhan. Kemudian duduk dan melepas kacamatanya.
"Seandainya kamu mau lebih awal konsultasi, keadaan mu tidak akan separah ini, Dam!"
Dalam hati Adam meringis. Mungkin seandainya dia tidak bertemu dengan gadis yang membangkitkan semangatnya, dia tidak akan pernah datang menemui teman lamanya sekarang.
☘️☘️☘️☘️
Naia tiba di rumah Tanti. Baru memasuki pekarangan Naia di kejutkan dengan banyaknya orang berkumpul di rumah itu.
Naia buru-buru berlari kedalam rumah. Alangkah terkejutnya Naia saat melihat Tanti dan Wahid sedang duduk bersanding dengan satu selendang putih terpasang di kepala keduanya, dan di sebrang mereka ada seseorang yang sedang menjabat tangan Wahid.
SAH!!!