
"Apa kita seakrab itu sampai Tuan berani menghalangi jalanku? Tidak, kan?" Alkea melipat kedua lengan di depan dada, ia menatap tajam pada sosok menyebalkan yang berani menghalangi jalannya.
Denan yang merasa mendapatkan perlakuan tidak sesuai dengan ekspektasinya terlihat sedikit kikuk. Naluri kelelakiannya ingin mendekap Alkea, namun tatapan tajam Alkea seolah mencabik harga dirinya.
"Menyingkirlah, aku ingin keluar." Celetuk Alkea tanpa menghiraukan sosok di depannya. Denan yang terus di abaikan mulai tidak sabaran.
"Nona, Alkea."
"Apa anda tidak mengingatku?"
"Kita bertemu bukan...