
"Sudah..." ucap Cherika sesudah mengobati luka di bagian perut sebelah kiri Chandika.
"Terima kasih, sayang," kata Chandika tersenyum manis.
"Sama-sama," jawab Cherika membalas senyuman sang kekasih. Dia segera membereskan kotak P3K dan meletakan pada dashboard mobil.
"Kamu kepanasan?" tanya Chandika yang sedang memakai kemejanya kembali.
Chandika melihat Cherika yang berkeringat, dan dia segera menyeka keringat yang menetes pada leher gadis itu dengan ibu jarinya. Keringat sialan yang seenaknya menjajar di leher jenjang gadisnya.
"Ya," jawab Cherika apa adanya. Dia memang kepanasan karena AC mobil dimatikan karena Chandika yang sedang bertelanjang dada, tidak mungkin dia membiarkan kekasihnya itu masuk angin.
Setelah memasang kancing terakhir kemejanya Chandika langsung membuka atap mobil miliknya.
"Wah, keren," kagum Cherika saat melihat atap mobil Lamborghini terbuka seluruhnya. Seketika semilir angin menerpa dirinya yang kepanasan.
Chandika tersenyum melihat Cherika yang terkagum-kagum.
"Aku baru tahu jika mobilmu bisa seperti ini," kata Cherika dengan masih berbinar kagum.
"Ya, kamu suka?"
"Suka," angguk Cherika.
"Kamu mau, hmm?"
"Tentu saja tidak, aku mana bisa mengendarai mobil," tolak Cherika dengan cepat.
"Aku bisa mengajari kamu," kata Chandika menawarkan jasanya.
"Benarkah?" tanya Cherika bersemangat.
"Ya," jawab Chandika mantap.
"Kalau begitu aku juga akan mengajarimu mengendarai motor," ucap Cherika berniat mengajak barter.
"Sepertinya tidak usah," kata Chandika berniat menolak.
"Kenapa?"
"Naik sepeda pun aku tidak bisa, jadi akan sulit untuk mengajariku," jawab Chandika dengan tertawa kikuk.
"Sebenarnya kamu hidup di zaman apa? Naik sepeda juga tidak bisa?" tanya Cherika tidak percaya.
Mau bagaimana lagi, mami Aminta yang melarang Chandika untuk belajar sepeda karena takut anak laki-lakinya lecet-lecet. Dulu saja dia selalu diantar supir kemana-mana. Chandika yang dapat mengendarai mobil pun berkat Alvis yang dulu bersedia mengajarinya. Maklum saja, Chandika adalah tuan muda yang sangat dimanja.
"Begitulah..." Chandika hanya nyengir.
"Sebaiknya kita pergi, ini sudah pukul 5 sore. Bukankah kamu harus bersiap-siap?" sambung Chandika yang mengingat sesuatu yang lebih penting.
"Bersiap-siap?" tanya Cherika yang melupakan hal terpenting itu.
"Ya, malam ini kan papi dan mami akan datang ke rumahmu," jawab Chandika mencoba mengingatkan Cherika.
"Jadi itu serius?" kilah Cherika terperanjat.
"Tentu saja, dong. Aku kan sudah bilang pada ke 6 kakak laki-lakimu."
"Bagaimana ini? Aku belum mempersiapkan apapun?" tukas Cherika gusar. Salahkan Chandika yang tiba-tiba saja ingin melamarnya. Dia bahkan belum membeli baju, mempersiapkan jamuan dan lain-lainnya.
"Tidak usah cemas, sayang."
"Bagaimana bisa tidak cemas? Aku belum mempersiapkan apa-apa? Papi dan mami pasti akan langsung ilfeel padaku," gumam Cherika semakin cemas.
"Tenang saja, aku yang akan mempersiapkan semuanya," kata Chandika mengelus surai ponytail gadisnya.
"Mempersiapkan apa?"
"Nanti kamu juga akan tahu."
**
Cherika melongo, rumahnya kini sangat ramai karena banyak pria berbadan kekar mondar-mandir dengan kesibukan masing-masing. Belum lagi tetangga yang berkerumun seakan ingin tahu.
Chandika. Pemuda itu sudah pergi untuk kembali ke kediaman Aldebaron meninggalkan dirinya yang tengah kebingungan.
"Shtt, lihat itu..."
"Apakah dia akan menikah?"
"Masih SMA kok sudah mau menikah, benar-benar tidak bisa dibanggakan."
"Tadi lihat tidak? Dia diantar dengan mobil mewah."
"Sepertinya dia akan menikah dengan orang tua yang kaya raya."
"Masih kecil kok sudah menggoda pria tua kaya raya."
"Dia kan hanya anak piatu."
"Nasib tidak mempunyai orang tua."
"Untung saja anakku tidak bergaul dengannya."
"Hmm," dehaman Cherika membuat tetangga yang berbisik terdiam seketika. "Maaf sebelumnya, bisakah kalian bubar? Jika kalian ingin berkumpul datangnya nanti malam, acara lamaranku dan pria tua kaya raya akan dimulai nanti malam," kata Cherika dengan tersenyum miring.
'Kurang ajar sekali, Dika-ku yang imut itu dibilang orang tua kaya raya,' batin Cherika gondok. Kenapa pula Chandika sampai mengirim orang-orang berbadan kekar itu dan membuat keributan seperti ini?
Sekalian saja dia mengundang tetangganya yang julid itu.
Para tetangga pun langsung bubar, sangat jelas tatapan mencemooh dari mereka. Mereka pikir Cherika adalah gadis yang tidak baik karena tidak mempunyai ke dua orang tua dan hanya hidup bersama dengan ke 6 kakak laki-lakinya, bagi mereka Cherika kurang didikan orang tua. Belum lagi Cherika terkenal bar-bar dan bergaul dengan geng motor. Gadis itu benar-benar sudah di cap buruk.
Cherika menghela napas berat, dia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Ruang tamu sudah disulap dengan aksesoris klasik yang kental, seperti cermin dengan bingkai kayu klasik,bunga hias tulip lengkap dengan daun indahnya, hingga candle holder klasik berwarna gold.
"Ada titipan dari tuan muda untuk nona Cherika," kata pria berbadan kekar menyerahkan sebuah kotak berwarna emas.
"Terima kasih," ucap Cherika menerima kotak itu.
Pria itu berlalu untuk melanjutkan kegiatan dekorasinya.
Cherika langsung membuka kotak itu dan melihat isinya. Ada sebuah gaun yang lengkap dengan aksesoris dan sepatu. Terlihat jelas pancaran bahagia pada mata coklatnya.
"Jadi Dika benar-benar sudah mempersiapkan semuanya?" gumam Cherika dengan tersenyum-senyum.
"Kenapa lo senyam-senyum sendiri?" tanya Nathan yang tahu-tahu sudah di hadapannya. "Lagi melting ya lo?"
"Ya dong, Dika manis banget ya..." kata Cherika memuji kekasihnya.
"Namanya juga orang kaya apa saja pasti bisa dia lakukan," ucap Nathan. "Gue juga kaget tiba-tiba saja ada pria berbadan kekar yang ingin mendekorasi rumah dan menyiapkan segalanya untuk acara nanti malam."
"Cheri juga nggak tahu. Dika bilang kalau dia yang akan mempersiapkan semuanya," ucap Cherika mengingat perkataan Chandika.
"Biarkan saja, lagi pula dia yang mendadak ingin melamar lo. Kita jadi tidak mempunyai persiapan," ujar Nathan. "Dan lagi, besok dia akan langsung menikahi lo."
"A-apa?" kata Cherika tercekat. "Bang Nathan tahu dari mana?"
"Dia bilang sendiri kok."
Chandika memang mengajaknya menikah besok, tapi Cherika tidak menyangka jika besoknya itu akan benar-benar terjadi.
"Memangnya kapan dia bilang?" tanya Cherika heran. Dia tidak tahu jika Chandika berkata seperti itu pada Nathan.
"Kemarin malam, saat lo sedang di dapur."
Seketika Cherika menggigit bibir bawahnya. Ada rasa haru, senang, berdebar, dan tidak menyangka pada dirinya.
"Sebaiknya lo bersiap-siap," kata Nathan mengintruksi adiknya.
Cherika mengangguk dan langsung melangkah ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Cherika mengunci pintu kamarnya dan meletakan kotak yang sejak tadi dia peluk di atas meja belajarnya.
"KYAAAAAA AKU AKAN SEGERA MENIKAH!!" teriak Cherika setelah naik ke atas ranjang dan melompat-lompat senang.
Siapa yang tidak senang jika menikah dengan seseorang yang sangat dicintai?
_To Be Continued_