
Sepulang kerja, Azzura memilih untuk singgah dulu ke cafe milik Naina.
" Sore," sapa Azzura pada karyawan di tempat itu.
" Sore juga, Mbak Zura. Mau minum apa?" Balas karyawan itu.
" Seperti biasa aja, oh ya Naina udah pulang ya?"
" Belum Mbak, Mbak Naina masih di ruangan nya. Mau saya panggilkan?"
" Nggak usah biar saya yang kesan aja, nanti tolong minuman nya di antar ke sana ya," ucap Azzura sebelum menuju ruangan Naina.
Tok
Tok
Tok
Azzura mengetuk pintu.
" Masuk," ucap Naina dari dalam.
Naina tampak sibuk dengan laptopnya, Azzura memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Pikiran kembali melanyang, mengingat tentang obrolan para karyawan yang membicarakan tentang penampilan nya yang di anggap tidak cocok kalau bersading dengan Devan. Azzura perlahan mendekati kaca yang berada di ruangan Naina, dia memperhatikan penampilan nya dari atas sampai bawah. Hal itu membuat Naina heran.
" Kamu kenapa?" Tanya Naina.
" Memangnya aku jelek banget ya, apa penampilan ku kampungan?"
" Kenapa tiba-tiba kami bertanya seperti itu?"
" Para karyawan banyak yang membicarakan tentang penampilan ku, katanya aku nggak cocok kalau jadi istri Tuan Devan. Emang iya ya, terus aku harus gimana?"
" Hahahaha, tumben kamu memikirkan omongan orang tentang penampilan mu, biasanya juga cuek," balas Naina.
" Ya itu kan dulu, sekarang kan aku juga harus jaga nama baik Tuan Devan," balas Azzura.
" Cie cie, sekarang udah mikirin nama baik orang lain, eh maksudnya suami, mentang-mentang udah jadi Nyonya Devan," ledek Naina.
" Please, Naina jangan mulai deh kalau memang kamu nggak mau kasih solusi," ucap Azzura kesal.
" Iya deh iya, lagian udah dari dulu kan aku bilang ke kamu, perhatikan penampilan kamu juga, jangan asal-asalan. Ya udah ayo ikut aku."
" Kemana?
" Katanya minta solusi?"
Azzura dan Naina sampai di sebuah klinik kecantikan milik calon mertua Manda bekerja. Naina bermaksud melakukan perawatan untuk Azzura.
" Ngapain ke tempat Manda?"
" Merubah kamu, biar orang-orang bisa melihat kalau Azzura itu princess," balas Naina sambil membawa Azzura masuk, mereka langsung menemui Manda.
" Selamat sore dokter Manda," ucap Naina. Manda, adik Azzura memang seorang dokter kecantikan. Berulang kali dia juga sudah meminta Azzura untuk melakukan perawatan ditempatnya, namun di tolak terus oleh Azzura, dengan alasan buang-buang waktu. Ya Azzura memang bukan wanita yang terlalu memperhatikan penampilan nya, yang penting baginya bersih dan nyaman itu sudah cukup.
" Eh kalian sudah datang," ucap Manda.
" Gimana kak, sudah siap?" Tanya Manda pada Azzura.
" Siap buat apa?"
" Udah anggap aja siap Nda, kamu tahu sendiri kakak kandungmu ini kan sulit kalau di suruh perawatan," balas Naina.
Selesai dengan semua treatment, Azzura, Naina dan juga Manda , langsung menuju pusat perbelanjaan. Mereka mencari kan baju yang cocok untuk Azzura. Selesai belanja, mereka segera pulang ke rumah masing-masing.
***
Hari ini Azzura berangkat kekantor dengan penampilan yang berbeda, dia lebih terlihat cantik dengan pakaian dan riasan yang dia kenakan. Biasanya dia selalu memakai celana kulot, kemeja dan cardigan, tapi kali ini dia memilih mengenakan rok span dan kemeja. Azzura juga merias wajahnya dengan riasan tipis, rambut yang biasa dia ikat sekarang di gerai, hanya satu yang masih sama, kacamatanya masih setia menemani. Banyak karyawan yang memuji penampilan Azzura, bahkan dalam hati Devan juga mengakui kalau dengan penampilan seperti ini, Azzura lebih terlihat cantik.
" Tuan, meeting akan segera dimulai," ucap Azzura memberitahu Devan.
" Ok, kalau begitu kita segera kesana, semua berkas sudah siapkan?" Balas Devan.
" Sudah, Tuan."
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang meeting.
" Selamat pagi," ucap Devan saat memasuki ruangan itu, di ikuti dengan Martin dan juga Azzura.
" Selamat pagi, Tuan," balas seluruh peserta meeting sambil berdiri, Devan mempersilahkan untuk duduk kembali.
" Apa kita bisa mulai meetingnya sekarang?" Tanya Devan.
" Tapi Tuan Wijaya belum datang, Tuan," ucap salah satu karyawan Devan.
" Tidak masalah, Tuan. Kami juga belum mulai meetingnya," balas Devan.
" Oh ya Tuan, perkenalkan ini Tuan Harsa, beliau yang akan memegang proyek ini."
Mendengar nama yang familiar di telinga nya, Azzura yang tadi sibuk dengan berkasnya, langsung melihat ke sumber suara. Dan betapa kagetnya Azzura, lelaki di hadapannya itu adalah Harsa, mantan kekasihnya.
Sama halnya dengan Azzura, Harsa juga terkejut melihat Azzura berada di tempat ini.
" Azzura," ucap Harsa lirih.
" Devan, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, Tuan. Maaf Tuan Harsa?" Ucap Devan sambil mengulurkan tangannya namun tak kunjung di balas oleh Harsa.
" Tuan Harsa?" Ucap lelaki disamping Harsa yang tak lain adalah sekretarisnya, sambil menyentuh lengan Harsa.
" Oh maaf Tuan, perkenalkan saya Harsa, senang bisa bekerjasama dengan anda Tuan," balas Harsa.
Meeting dimulai, semua tampak fokus mengikuti nya. Namun tidak dengan Azzura, dia merasa tidak nyaman, karena sejak tadi Harsa terus saja menatapnya. Tanpa sengaja Devan melihat apa yang sedang dilakukan Harsa, hal ini membuat Devan tidak suka.
" Maaf Tuan Harsa, apa istri saya terlalu menarik bagi anda? Sehingga membuat anda lebih fokus padanya dari pada presentasi yang di sampaikan asisten saya," ucap Devan membuat semua orang yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arah Harsa.
" Maaf maksudnya istri?" Tanya Harsa bingung.
" Nona Azzura, wanita yang sejak tadi anda perhatikan ini, selain dia sekretaris saya dia juga istri saya," jelas Devan, mendengar penjelasan Devan tadi membuat Martin ingin tertawa.
" Kalau memang kehadiran nya mengganggu konsentrasi anda, apa perlu saya memintanya keluar?" Tanya Devan lagi, dengan wajah yang tidak bersahabat.
" Oh maaf Tuan, tidak perlu. Kita lanjutkan saja meetingnya, saya jamin kali ini Tuan Harsa akan kembali fokus," ucap sekretaris Harsa.
" Baguslah, Martin lanjut kan presentasi nya," ucap Devan.
Beberapa saat kemudian meeting selesai, Azzura memilih untuk keluar terlebih dahulu. Dia tidak berusaha menghindari Harsa.
" Azzura, tunggu!" Panggil Harsa, ternyata Harsa mengejarnya.
" Azzura!!" Panggil Harsa lagi, bukannya berhenti Azzura justru mempercepat langkahnya. Namun sialnya Harsa berhasil mengejarnya.
" Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Azzura.
" Jelaskan padaku," balas Harsa.
" Maksud anda?"
" Apa benar kamu istri dari Tuan Devan?" Tanya Harsa, Azzura hanya diam.
" Sepertinya tidak perlu saya jawab, bukankah tadi semua sudah dikatakan,tentang apa hubungan saya dengan tuan Devan?"
" Jadi benar?"
" Ya begitulah," balas Azzura.
" Jadi selama ini kamu mengkhianati ku? Pantas malam itu kamu menghindar dariku." Ucap Harsa.
" Maksud nya mengkhianati? Jangan memutar balikkan fakta, kenapa kamu bilang aku berkhianat sedang pengkhianat itu adalah kamu sendiri, Harsa?" Ucap Azzura.
" Haahhh, siapa yang memutar balikkan fakta, ini sudah terbukti, kamu sudah menikah dengan laki-laki lain bahkan saat kita belum putus,"ucap Harsa.
" Kamu selingkuh dariku," ucap Harsa.
" Apa menurutmu aku wanita seperti itu? Pikiran mu picik sekali, Harsa. Kalau menurutmu aku pengkhianat lalu apa sebutan yang pantas untukmu? Disaat kamu diam-diam bertunangan dengan wanita lain, padahal kamu berjanji untuk setia padaku?"
" Di saat aku ingin menyerah dengan hubungan kita, kamu selalu memintaku untuk bersabar. Aku mengabaikan permintaan keluarga ku, hanya untuk menunggu mu. Aku berusaha menjaga hatiku hanya untuk mu, tapi apa balasan yang ku dapat? Kamu justru bertunangan dengan wanita lain, lalu menurutmu apa aku harus tetap bertahan dengan hubungan kita? Apa aku salah jika aku memilih menikah dengan laki-laki lain?" Ucap Azzura dengan mata berkaca-kaca.
" Maafkan aku, Zura. Aku tidak bermaksud melakukan ini padamu, aku tidak berdaya, Zura," Harsa berusaha meraih tangan Azzura, namun Azzura menepis nya.
" Dan perlu kamu tahu, kalau sampai detik ini perasaan ku padamu masih sama, aku masih mencintaimu,"ucap Harsa lagi.
" Lebih baik simpan rasa cinta anda pada tunangan anda, Tuan Harsa. Bukankah satu Minggu lagi kalian akan menikah?" Ucap Devan yang tiba-tiba muncul.
" Tuan Devan," ucap Azzura lirih.
" Azzura istri saya, dan saya rasa cinta dari saya sudah lebih dari cukup untuknya," ucap Devan lagi sambil menggandeng tangan Azzura untuk meninggalkan tempat itu, Azzura hanya mengikuti nya.
" Dan saya harap ini terakhir kalinya anda mengganggu Azzura!" Ucap Devan lagi.
Devan dan Azzura segera meninggalkan tempat itu. Sedangkan Harsa dia hanya bisa merutuki kebodohannya karena tidak bisa memperjuangkan hubungan nya dengan Azzura.
***
Bersambung