
Semalam semuanya terasa begitu indah. Tapi Naina harus rela mengaku kalah sebab sang suami berulang kali terus menguasai dirinya. Harga dirinya sebagai wanita malam sudah diruntuhkan oleh sang suami. Nick bilang justru dia yang lebih ahli.
Sementara Naina berulang kali menuntut pertanggungjawaban, mana? Katanya sang suami impoten, tapi kenapa kuat sekali?
Mereka berselisih dan menyelesaikan semuanya dengan penyatuan tersebut. Sampai malam berakhir dan pagi yang cerah menyapa.
Hari juga bergulir sampai dimana Naina telah siap untuk bertemu dengan dokter Gracia. Naina sudah putuskan untuk memaafkan semua yang telah terjadi. Termasuk dengan dokter Gracia.
Dia tak ingin ada lagi yang mengganjal di dalam hatinya. Jadi kesalahan Dokter Grac atas sang ibu akan dia maafkan, namun hukuman karena kelalaian dokter Grac sebagai seorang dokter akan tetap berlanjut.
Tiba di kantor polisi, mereka langsung menuju ruang temu. Gracia sudah menyesalkan semua yang terjadi. Dia benar-benar ingin memohon ampunan dari Naina. Tak ingin hukuman yang dia terima jadi berat. "Aku salah Nai, aku yang membuat ibumu terkena serangan jantung. Aku justru lari dan tidak menangani ibu Wilda," jelas Gracia dengan air mata yang mengiringi.
Entah sudah berapa Minggu dia ditahan, hidupnya benar-benar hancur. Terlebih semua keluarga pun merasa kecewa dengan apa yang dia lakukan.
"Maafkan aku Nai, maafkan aku dokter Nick. Aku mohon," katanya dengan lirih.
Nickolas pilih diam, dia telah menyerahkan semuanya pada sang istri.
"Iya, aku memang tidak layak jadi seorang dokter Nai. Maafkan aku," balas Gracia.
Naina membuang nafasnya dengan kasar. Ingin menangis namun dia tahan. "Sekarang semuanya sudah berakhir, kita tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain. Setelah kasus ini selesai aku juga berharap kamu bisa memulai hidup yang baru. Lantas menemukan kebahagiaan mu sendiri," kata Naina dengan tenggorokannya yang tercekat, saat mengucapkan kalimat itu hatinya memang berdenyut nyeri, namun setelahnya ada perasaan lega di dalam hati yang ia rasakan.
Sementara Gracia tangisnya makin jadi, makin sesak jantungnya sampai terasa ingin pecah. Dia menunduk tak kuasa menatap wajah Naina, dan air mata terus jatuh ke atas pangkuannya sendiri.
"Tidak ada lagi yang ingin aku katakan, aku akan pergi sekarang," ucap Naina, pamit.
"Terima kasih Nai, maafkan aku," mohon Gracia, dia menundukkan kepalanya semakin dalam. Dia memang tak melihat secara langsung saat Naina dan dokter Nickolas bangkit dari duduk. Namun Gracia bisa merasakan dengan jelas jika kedua orang itu telah pergi.
Meninggalkannya di tempat yang layak, seorang dokter yang telah mengingkari sumpahnya sendiri. Pasien kritis di depan mata namun dia justru lari dan menghindar, lalu berasumsi bahwa ini semua adalah takdir.
Tiap kali ingat kesalahannya itu, Gracia selalu menangis dan membodohi diri sendiri. Andai bisa memutar waktu Gracia benar-benar ingin memperbaiki hidupnya. Langsung sadar bahwa dokter Nick tidak pernah menaruh hati padanya sejak awal. Sebab pria itu selalu dingin dan mengacuhkan dia.
Harusnya Gracia bisa mengendalikan perasaannya sendiri, hingga cemburu tak akan menepis akal. "Maafkan aku ibu Wilda, maafkan aku. Semua kata-kataku tidak benar. Naina adalah putrimu yang paling baik," kata Gracia, dengan tangis yang makin pilu.