
"Sakittt Rell..." rintih Cheryl memegang lengan Darrel kuat hingga Darrel meringis kesakitan terkena kuku Cheryl dan sedikit berdarah.
Tetapi Darrel mengabaikan rasa sakit itu ia lebih panik dengan kondisi Cheryl. Ia ingat mamanya telah memberitahu dirinya sebelumnya kalau Cheryl telah dekat waktu persalinannya.
"Sabar ya Ryl." Darrel merogoh kantongnya untuk mengambil hape nya.Ia mencari daftar kontak lalu menghubungi mamanya.Tetapi entah bagaimana nomer hape mamanya tidak dapat dihubungi.
"Relll!! Apa ini?? Kenapa ini??" jerit Cheryl terlihat kaget sekaligus panik, melihat ada cairan bening yang terus keluar tanpa bisa ditahan tetapi ia tidak merasa kencing.
"Relll ini apa? Kenapa?" Cheryl menangis ketakutan sambil memegang dan memandang cairan yang membasahi bajunya dan terus mengalir.
Darrel semakin bingung dan panik seumur hidupnya baru kali ini ia mengalami kejadian seperti ini.Ia semakin yakin Cheryl akan melahirkan."Sabar ya Ryl, sepertinya kamu akan lahiran.Tahan dulu ya."
Darrel kemudian menelepon pamannya.Dengan nada kebingungan dan panik ia menceritakan sekilas keadaan Cheryl saat ini.
"Sebentar lagi Paman datang.Kita akan ke rumah sakit." Lalu Darrel hendak menggendong tubuh Cheryl.
"Rell! Jangan! Aku jalan saja gak apa-apa." Cheryl berusaha bangkit sambil memegang perutnya."Arrghhh" kembali Cheryl merintih dan mencengkeram kuat lengan Darrel.
"Masih bandel saja. Tuh si baby nya saja protes.Sudah jangan banyak gerak." omel Darrel.
"Tapi Rell--" Cheryl tetap menolak digendong oleh Darrel.
"Kamu ini kenapa sih Ryl.Aku cuman ingin menolong kamu. Kenapa? Kamu takut si Arka cemburu? Bilang ini keadaan darurat." Darrel mulai sewot dan tidak habis pikir dengan sikap Cheryl. Ada perasaan sakit, sedih dan kecewa di hatinya.
"Bukan karena itu Rel. Kamu salah paham. Diantara aku dan Kak Arka tidak ada hubungan apa-apa selain dia adalah kakaknya Bagas.Hanya itu." jelas Cheryl. Ia merasa harus segera meluruskan kesalahpahaman Darrel terhadap Arka.
Darrel masih sedikit kecewa dengan penolakan Cheryl akan niat baiknya.
"Terus.., kenapa kamu menolak aku gendong? Aku hanya ingin menolong mu saja." ucap Darrel lirih.
"Aaku... aku malu Rel." Cheryl menundukkan wajahnya.
Tiba-tiba Cheryl meneteskan air matanya. Menyadari hal itu Darrel kembali melunak ia baru sadar mungkin saat ini emosi Cheryl sedang labil.
"Ryl, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih."
"Aku cuman malu sama kamu Rel. Baju aku basah, cairan ini keluar terus aku gak tahu bagaimana caranya agar ini berhenti." ucap lirih Cheryl.
Darrel menarik napas.Ia kini paham kenapa Cheryl menolaknya.
"Ryl. Dengar aku. Jangan pernah sungkan padaku oke."
"Maafkan aku Rell aku selalu merepotkan kamu. Sebenarnya tugas ini bukanlah tugas kamu." kembali Cheryl menundukkan kepalanya sedih.
Bayangan Bagas kembali terlintas. Harusnya yang menemani dirinya saat melahirkan adalah Bagas.
Darrel menggenggam tangan Cheryl."Ryl ..., aku mencintaimu dengan tulus aku terima segala kelebihan dan kekurangan mu, serta masa lalu mu aku tidak peduli. Ijinkan aku untuk menjadi pelindung bagimu dan anakmu. Maukah kamu menerimaku menjadi suami dan ayah anakmu? Aku janji akan selalu membuat kalian bahagia." ucap Darrel. Ia tidak tahu kekuatan apa yang membuatnya berani melamar Cheryl disaat genting seperti ini.
Cheryl terdiam tubuhnya terasa dialiri listrik, mulutnya tak mampu bicara. Ia tidak menduga kalau Darrel akan melamarnya disaat ia akan melahirkan.
"Kamu gak perlu menjawabnya sekarang.Keselamatanmu dan anakmu jauh lebih penting saat ini." Darrel kemudian langsung menggendong Cheryl.
Cheryl terdiam masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia membiarkan Darrel menggendongnya. Dan perlahan, Cheryl melingkarkan kedua tangannya di leher Darrel.
"Rell!! Cepat bawa masuk ke mobil!" teriak paman Darrel ketika melihat ponakannya menggendong Cheryl.
"Baik paman!" Akhirnya mereka berangkat ke Rumah Sakit untuk mengantar Cheryl.
..........................................................