Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar

Rugi 2 Darah Pengantin Pendekar
DPP 24: Pendaratan Dewa Goyang


*Darah Pengantin Pendekar (DPP)*


Lebih dari separuh anggota Kelompok Ular Pembunuh bertumbangan lemas setelah mereka tersengat ilmu Pendaratan Dewa Goyang level dua. Namun, itu tidak membuat mereka mati, hanya lemas. Bisa jadi jika mereka minum susu madu jahe plus bawang setelah itu, mereka akan bugar kembali. Namun sayang, dari empat item itu, mungkin hanya susu yang mereka miliki.


Gurat Satria bersama lima orang anak buahnya lolos dari gelombang energi penyengat setelah mereka berhasil melompat menyelamatkan diri. Setelah Gurat Satria dan kelima anak buahnya mendarat di tanah berumput, mereka langsung berlari dan melompat menyerbu Rugi Sabuntel yang siap melanjutkan pertarungan dengan dada sudah terluka dan berlumur darah.


Gurat Satria yang belum mau mencabut pedang pusakanya, masih mengandalkan kedua tinjunya yang berwarna pelangi. Entah sehebat apa tinju dari ilmu Pelangi Satria itu, tetapi Gurat Satria yakin bahwa tinju pelanginya bisa diandalkan.


Bersamaan dengan Gurat Satria mendekati Rugi Sabuntel, Kin Anti juga datang dari arah lain dengan pedang membara merah.


Tinju pelangi datang deras kepada Rugi Sabuntel yang juga yakin bisa mengatasi kesaktian Gurat Satria.


Rupanya serangan Kin Anti dulu yang datang melesat kepada Rugi Sabuntel. Luka di dadanya tidak mengurangi kecepatan Rugi, sehingga dia bisa dengan mudah mengelaki serangan pedang panas itu. Barulah menyusul tinju warna-warni yang datang kepada Rugi Sabuntel.


Pak! Plak!


Rugi Sabuntel berani menahan tinju itu dengan telapak tangan kanannya. Rugi Sabuntel bisa merasakan kedahsyatan tenaga tinju Pelangi Perkasa itu karena energi tinju itu diserap kuat oleh ilmu Lempar Daya.


Energi Pelangi Perkasa langsung mengalir dari tangan kanan Rugi Sabuntel ke bahu lalu ke tangan kiri dalam hitungan setengah detik saja. Setelah itu, tangan kiri Rugi bergerak terlalu cepat menampar dagu kanan Gurat Satria yang terkejut karena tinjunya tidak berefek pada Rugi.


Gurat Satria terbanting keras ke tanah berumput. Dia bisa merasakan sendiri kekuatan energi tinju Pelangi Perkasanya.


Di saat itu, Rugi Sabuntel ingin menginjakkan kakinya yang memiliki ilmu Injakan Kaki Gunung ke dada Gurat Satria. Namun, serangan pedang membara yang mengibas-ngibas milik Kin Anti datang hendak mencincang tubuh gendut Rugi.


Rugi Sabuntel bergerak mundur cengan cepat menjauhi ujung pedang.


Slok!


“Akk!” pekik tertahan Kin Anti. Ternyata kaki kanannya juga terperosok ke dalam lubangnya Rugi.


Akibatnya, Kin Anti hilang keseimbangan dan jatuh ke depan. Meski demikian, tetapi pedang tetap menikam ke arah Rugi Sabuntel karena dia jatuhnya ke arah Rugi Sabuntel.


Pendekar Gendut Budiman yang posisinya tidak bagus, terpaksa menggunakan ilmu Telapak Lahar untuk menangkis pedang membara Kin Anti. Karena wanita bertahi lalat dua di pipi itu jatuh kepadanya, Rugi tidak mau memeluknya, tetapi dia menyundulkan kepalanya.


Dug!


“Hekh!” keluh Kin Anti saat kepala Rugi menyundul dadanya dengan keras. Meski ada bagian yang empuk, tetap saja tulang dada kena dengan kuat.


Kin Anti terdorong kembali ke belakang lalu jatuh dengan punggung lebih dulu mencium tanah berumput. Untung tanahnya tidak balas mencium.


Rugi Sabuntel cepat bangkit tegak berdiri karena empat orang datang menyerangnya secara bersamaan.


Serangan keempat lelaki itu tidak begitu istimewa, karena mereka hanya mengandalkan serangan pedang biasa.


Trang!


Dengan gerakan cepat, Rugi Sabuntel menangkis dua tusukan pedang menggunakan tangan membaranya. Kedua pedang itu patah. Setelahnya, seenaknya saja Rugi melempar tubuh besarnya menabrak kedua penyerangnya, bahkan mereka berdua tertindih oleh tubuh berat itu.


Dua bacokan pedang datang dari atas. Buru-buru Rugi Sabuntel berguling dari atas dua tubuh lawan yang ditindihnya. Kedua pembacok terpaksa menahan ayunan pedangnya agar tidak mengenai rekan sendiri.


Wesss!


Tiba-tiba saja ada angin yang menghempas kaki mereka, membuat mereka terpelanting ke tanah berumput.


Blugk!


“Hukhr!” keluh salah satu dari mereka saat tubuh besar Rugi Sabuntel yang bersalto jatuh menimpanya. Bukan hanya tenggorokannya yang mengeluh kesakitan, tapi dia juga sampai kentut terpaksa.


Di saat para penyerangnya sedang berjatuhan, buru-buru Rugi Sabuntel bangkit dan melompat bersalto.


Kin Anti dan keempat rekan lelakinya yang sebelumnya bisa menghindari gelombang yang merambat di bumi, kali ini tidak memiliki peluang untuk menghindar karena energi sengat itu lebih dulu menjangkau mereka.


“Aaak! Akk! Akk...!” jerit merka dengan tubuh yang mengejang di tanah untuk durasi hanya tiga detik saja, tapi sudah cukup untuk membuat mereka benar-benar lemas.


Namun tidak bagi Gurat Satria. Energi Pendaratan Dewa Goyang juga mendatanginya, tetapi posisinya yang siap membuatnya bisa menghindar dengan melompat di udara.


Jleg!


“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel setelah melihat Gurat Satria mendarat.


Rugi Sabuntel tidak menertawakan Gurat Satria yang mendarat di atas kotoran kuda, karena memang kotoran itu tidak ada. Yang Rugi tertawakan adalah wajah Gurat Satria yang menjadi jenaka.


Ternyata dagu Gurat Satria bergeser posisi lebih ke samping akibat tulang rahangnya bergeser dari posisinya. Itu gegara tamparan tangan kiri Rugi yang tadi mengandung tenaga pukulan Pelangi Perkasa. Posisi rahang yang tidak kembali ke posisinya membuat mulut Gurat Satria menyon.


Sakit hati Gurat Satria ditertawakan seperti itu. Ingin rasanya dia menyantet pendekar gendut itu, tetapi itu bukan keahliannya.


Khawatir Rugi akan menamparnya lagi, kali ini Gurat Satria mengandalkan ilmu terakhirnya sebelum mengluarkan pusakannya.


Tiba-tiba saja Gurat Satria menggenggam dua kumpulan tali sinar hijau pada kedua tangannya. Setiap genggaman terdiri dari tiga tali sinar.


Ctas!


Gurat Satria melecutkan sekumpulan tali sinarnya di tangan kiri. Rugi Sabuntel dengan gesit menghindar, bahkan dia melompat berputar di udara.


Blets blets!


“Aakk!” jerit Rugi Sabuntel saat masih di udara itu, pergelangan kaki dan tangan kanannya dililit tali sinar hijau.


Lilitan itu membuat Rugi jatuh ke tanah tanpa lepas tangan dan kaki kanannya dari jeratan. Rugi merasakan seluruh tubuhnya disengat, tetapi tidak membuat lemas, hanya memberi rasa sakit.


Blet! Blet!


“Aaakk!” jerit Rugi lebih keras saat leher dan tangan kirinya ikut dibelit oleh tali sinar yang Gurat Satria lesatkan.


Rugi Sabuntel ingin mencabut salah satu keris pusakanya, tetapi kedua tangannya sedang terikat. Mulut dan kaki kirinya yang bebas tidak bisa berbuat apa-apa.


“Hiaaat!” teriak Gurat Satria pula dengan terus menyalurkan tenaga saktinya. Dia ingin bertahan seperti itu hingga Rugi Sabuntel kehabisan tenaga karena menahan rasa sakit.


Namun, Gurat Satria harus menerima kenyataan bahwa Rugi Sabuntel pada dasarnya lelaki yang berkekuatan lebih.


“Aaak...!” teriak Rugi Sabuntel kencang tanpa henti.


Sambil berteriak seperti itu, Rugi Sabuntel berusaha bergerak bangkit berdiri. Melihat itu, Gurat Satria terbeliak dengan mulut mencongnya yang lucu.


Gurat Satria terus menarik dengan kuat tali sinar yang menjerat Rugi Sabuntel. Jika dia kendorkan, justru Rugi akan memiliki kesempatan untuk menyerangnya.


“Hiaat!” teriak Rugi Sabuntel yang mengerahkan seluruh energinya dan menarik tali sinar yang menjerat kedua tangannya.


Tak ayal lagi, tarikan kuat itu tidak kuasa Gurat Satria tahan. Tubuhnya justru terlompat maju karena ditarik paksa oleh kekuatan Rugi Sabuntel.


Rugi Sabuntel sudah menyiapkan tinju mautnya.


Karena Gurat Satria terkendalikan melompat ke arah Rugi yang ingin menonjoknya, Gurat Satria terpaksa melepas tali sinarnya dan langsung menyalakan ilmu pukulan Pelangi Perkasa.


Dugg!


Kedua tinju pun bertemu. (RH)