
Kini Pangeran William dan Henry ada di ruangan keamanan istana. Mereka sedang berdiskusi dengan salah satu prajurit yang bertugas menjaga keamanan di depan gerbang kerajaan pada malam sebelumnya. Mereka berdiskusi mengenai kemungkinan orang misterius yang telah membuat kekacauan di koridor istana.
"Bagaimana menurutmu, Pangeran Henry?" tanya Pangeran William, kemudian melanjutkan, "Apakah kemungkinan orang misterius itu adalah seseorang dari dalam kerajaan? Aku ragu kalau orang asing dapat dengan mudah masuk melewati penjagaan ketat di gerbang kerajaan."
Pangeran Henry memikirkan pertanyaan Pangeran William dengan serius sebelum memberikan jawaban, "Aku setuju dengan pendapatmu. Penjagaan di gerbang kerajaan sangat ketat, dan sulit dipercaya jika orang asing dapat melewati penghalang tersebut tanpa terdeteksi. Mungkin ada keterlibatan orang dalam."
Prajurit yang hadir memberikan perspektifnya, "Saya setuju dengan Pangeran Henry. Saya tidak melihat orang asing masuk atau keluar pada malam itu."
Pangeran Henry kemudian mengingat kejadian malam sebelumnya yang menimpa Roni. "Apakah orang misterius itu kembali lagi dan berusaha kembali mencuri cincin milik Royalty?"
Pangeran William menjawab, "Kemungkinan besar, mengingat adanya pisau yang ditemukan di koridor. Ini bukan sekadar kekacauan biasa. Ada motif lebih dalam." Berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan, "Sepertinya kita memiliki masalah yang serius di dalam istana. Orang misterius yang mencoba mencuri cincin kemungkinan besar adalah orang yang sama yang membuat kekacauan semalam."
Pangeran Henry mengangguk setuju. "Kita perlu mencari tahu siapa di antara kita yang memiliki pengetahuan tentang rencana-rencana keamanan. Ini bukan hanya soal pencurian cincin, tapi juga tentang keamanan istana."
"Bukankah ini bisa jadi pekerjaan dari dalam? Seseorang yang mungkin punya akses dan pengetahuan mendalam tentang keadaan di istana," jawab prajurit yang duduk di hadapan Pangeran Henry.
Pangeran William berpikir sejenak, "Kita butuh informasi lebih lanjut. Sosok yang sama mungkin telah melakukan rekognisi sebelumnya atau mungkin memiliki informan di dalam istana. Kita perlu menyelidiki setiap kemungkinan."
"Aku setuju. Sementara itu, kita harus meningkatkan keamanan di sekitar kamar Royalty. Jangan biarkan celah sedikit pun. Dia harus aman." Pangeran Henry menimpali.
Pangeran William mengangguk setuju. "Benar. Kita perlu bertindak cepat sebelum situasinya semakin rumit. Sampaikan kepada penjaga untuk meningkatkan patroli di sekitar kamar Royalty, dan pastikan tidak ada yang melewati tanpa sepengetahuan kita."
Prajurit yang mendengarkan menjawab ucapan Pangeran William, "Baiklah, Pangeran, saya akan memberitahukan kepada penjaga di sekitar kamar Royalty untuk meningkatkan kewaspadaan."
Kemudian Pangeran William berkata kembali, "Jika seandainya orang misterius itu datang kembali ke istana dan berkeliaran di sekitar kamar Royalty, usahakan untuk segera menangkapnya. Dengan begitu, kita dapat dengan mudah menginterogasinya. Mengerti?"
"Mengerti Pangeran," balas prajurit itu dengan tegas.
Ucapan Pangeran William itu pun sangat disetujui oleh Pangeran Henry dan prajurit tersebut.
****
Saat ini Roni sedang termenung di dalam kamarnya. Ia tidak keluar dari kamar sejak tadi pagi karena mengingat kedua sahabatnya, Evelyn dan Elan. Juga mengingat ibunya, Rosmala. Sudah satu minggu Roni tak pernah bertemu mereka dan Roni sangat merindukan mereka. Sejujurnya Roni ingin menemui mereka, tapi sayangnya ia tak bisa kembali ke Kota Eldoria jika tidak ada yang mengantarkannya pulang. Sedangkan jarak dari Kota Andora ke Kota Eldoria sangatlah jauh.
"Ibu, aku rindu Ibu," monolog Roni bersuara sendu.
Roni memandang keluar jendela, matahari muncul di ujung timur, memantulkan warna-warna hangat ke langit. Angin sepoi-sepoi meniup lembut, membawa aroma bunga melati dari taman kecil di halaman.
Dalam benaknya, kenangan masa kecil bersama ibunya dan kedua sahabatnya menyusun puing-puing cerita yang ingin ia sampaikan.
Tak seberapa lama kemudian, Pangeran Henry datang, memasuki kamar Roni yang pintunya sedikit terbuka.
"Selamat pagi," sapa Pangeran Henry.
Seketika Roni terkejut lalu menoleh ke belakang. Pangeran Henry sedang berdiri di ambang pintu.
"Selamat pagi juga, Pangeran Henry." Roni menyapa balik sambil tersenyum.
"Ada apa denganmu? Tampaknya kau sedang memikirkan sesuatu," ucap Pangeran Henry yang kemudian berjalan mendekati Roni, lalu duduk di sebelah anak itu.
Roni menghela napas, berbagi beban pikirannya dengan Pangeran Henry. "Aku merindukan ibu dan sahabat-sahabatku di Kota Eldoria. Tetapi jaraknya jauh, dan aku tidak tahu bagaimana bisa kembali."
Roni sedikit berpikir kemudian bertanya, "Apa itu, Pangeran?"
"Kau akan mengetahuinya suatu saat nanti," jawab Pangeran Henry tanpa memberikan jawaban yang jelas.
"Lalu?" Roni bertanya dengan bingung.
Pangeran Henry tertawa singkat lalu menjawab dengan jenaka, "Lalu, kita akan mencari cara agar kau bisa kembali ke Kota Eldoria. Sementara itu, pelajari dan nikmati kehidupanmu di Andora. Ada banyak hal yang belum terungkap di istana ini, Roni."
Roni memandang Pangeran Henry dengan penasaran, sedikit bingung dengan jawaban dari pangeran tersebut.
"Bagaimana keadaanmu semalam? Apa orang misterius itu kembali ke kamarmu dan mencoba mengambil cincinmu?" tanya Pangeran Henry saat mengingat kekacauan semalam.
Roni menggeleng dengan cepat dan menjawab, "Semalam aku sempat mendengar keributan di koridor, tapi setelah itu aku kembali tidur, dan orang itu tidak masuk ke kamarku."
"Baguslah jika begitu. Sepertinya orang misterius itu tidak berhasil masuk ke kamarmu. Prajurit yang menjaga di depan kamarmu, menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi kau harus tetap waspada, jika sewaktu-waktu orang itu kembali mengusik ketenanganmu."
"Aku akan selalu waspada, Pangeran! Roni tidak akan pernah lalai!" ungkap Roni dengan wajah ekspresif sambil mengangkat satu tangannya.
Hal itu menimbulkan reaksi gemas pada Pangeran Henry. "Ahaha, kau sangat lucu." Lalu tanpa sadar ia mengacak-acak rambut Roni.
Roni tersenyum geli saat rambutnya diacak-acak oleh Pangeran Henry. Suasana kamar menjadi lebih cerah, dan perasaan Roni yang awalnya sedih mulai tergantikan oleh kehangatan persahabatan.
"Ingatlah, Roni, meskipun kita berada di tengah-tengah misteri, ada kebahagiaan kecil yang bisa kita temukan setiap hari," kata Pangeran Henry sambil tersenyum lembut.
Edward yang kebetulan melintas di depan kamar Roni, seketika menghentikan langkahnya saat melihat Pangeran Henry dan Roni yang sedang bercengkrama dan bercanda. Kedua laki-laki itu terlihat sangat dekat dan menimbulkan asumsi negatif di otak Edward.
"Rupanya mereka berdua memiliki preferensi cinta sejenis. Pantas saja Pangeran Henry tak pernah mengajak perempuan ke istana. Sekali membawa seseorang ke istana, ternyata seorang laki-laki. Ah, nasib sekali aku memiliki seorang paman dengan orientasi cinta seperti itu!" ujar Edward dengan nada yang bijak tanpa cela, tapi menusuk.
Roni dan Pangeran Henry segera memperhatikan Edward yang berdiri di ambang pintu.
Pangeran Henry menatap Edward dengan serius, "Edward, jangan memfitnah dan membuat cerita palsu! Ini adalah persahabatan, bukan hal lain."
Roni menambahkan dengan tenang, "Bukan saatnya untuk membuat asumsi yang tidak benar, Edward. Kita harus saling menghormati dan tidak menyakiti perasaan orang lain."
Edward kembali mengejek, "Ah, kalian memang pasangan yang sempurna, bukan?"
Pangeran Henry menahan emosinya, "Ini tidak benar, Edward. Mari kita fokus pada hal-hal yang lebih penting."
Edward pergi dengan senyum mengejek di wajahnya, meninggalkan Roni dan Pangeran Henry dalam suasana yang tegang.
Pangeran Henry berbisik pada Roni, "Jangan pedulikan kata-kata Edward. Kita tahu kebenarannya, dan persahabatan kita lebih berharga daripada gosip murahan."
Roni mengangguk setuju, dan keduanya kembali merenung, menyadari bahwa persahabatan mereka akan diuji oleh berbagai cobaan di istana Andora.
Sedangkan Edward semakin menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Roni, terlebih lagi saat melihat kedekatan Pangeran Henry dan Roni. Ia akan membuktikan bahwa ia mampu untuk menghancurkan hidup Roni secara perlahan-lahan. Camkan itu!
****
Jangan lupa like kalau suka